Kolom

Untunglah Saya Bukan Profesional Bahasa

http://lppmkreativa.com/wp-content/uploads/2017/10/saya-bangga-menggunakan-bahasa-indonesia.png

Barangkali, andai saya profesional bahasa, saya akan pening dengan bahasa yang marak digunakan masyarakat saat ini, utama kawula muda. Karena, walaupun terkesan unik dan lucu, strukturnya sungguh berantakan dan sembarangan.

Banyak istilah yang mereka ciptakan. Belakangan ini, istilah kids jaman now, ngakak so hard, unfaedah, dan banyak istilah lainnya sedang viral di media sosial. Juga, sering betul digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Frasa-frasa itu serasa serampangan memadupadankan kata dari berbagai bahasa. Jika benar saya seorang profesional bahasa yang menjunjung tinggi kaidah penulisan bahasa, saya mungkin benar-benar gila jika diwajibkan menguraikan kekacauan bahasa yang digunakan saat ini.

Proses mencampurkan dua bahasa atau lebih, dalam sosiolinguistik, dikenal dengan nama campur kode. Biasanya, campur kode digunakan untuk melancarkan proses komunikasi.

Adakalanya, suatu istilah atau kata tidak ada padanan yang benar-benar tepat dalam suatu bahasa. Maka dari itu, istilah atau kata tersebut tidak diubah, tetapi langsung dicampurkan begitu saja. Tujuannya jelas: agar tidak mengubah makna dan agar lawan bicara paham sehingga komunikasi lancar.

Namun, fenomena istilah kids jaman now tentu tidak bisa disebut campur kode karena tujuannya berbeda. Istilah kids jaman now berpegang pada sifat bahasa yang arbitrer atau suka-suka penuturnya. Karena suka-suka tersebut, strukturnya menjadi unik walaupun salah besar dilihat dari sudut pandang tata bahasa.

 Contohnya, kids jaman now yang digunakan untuk menggambarkan perilaku anak-anak zaman sekarang yang tidak wajar dan terlalu terpengaruh gadget. Anak-anak di masa sekarang sering kali melakukan hal yang tidak sesuai usianya dan berlebihan dalam mengunggah foto maupun video.

Kata kids dan now berasal dari bahasa Inggris sementara jaman diambil dari bahasa Indonesia, itu pun merupakan kata tidak baku karena ejaannya salah (seharusnya menggunakan “Z”). Tiga kata tersebut dipadukan dan membentuk sebuah konteks yaitu mental anak di masa sekarang.

Kata so hard pada frasa ngakak so hard, dalam bahasa Inggris sebenarnya sangat familiar. Frasa ini sering kali diartikan keras atau sulit. Kata itu dipadukan dengan kata ngakak yang dalam kaidah bahasa Indonesia sebenarnya tidak ada. Namun, dalam komunikasi sehari-hari berarti tertawa. Jadi, ngakak so hard maknanya tertawa yang sangat keras.

Satu lagi kata yang sangat lucu yaitu unfaedah. Kata faedah jelas dalam bahasa Indonesia berarti manfaat. Namun, kemudian disandingkan dengan un yang merupakan prefiks asal bahasa Inggris yang maknanya tidak. Jadi, unfaedah maknanya tidak berfaedah atau tidak bermanfaat.

Saya tiba-tiba teringat bahwa campur bahasa secara ekstrem seperti itu pernah saya temui di lirik lagu berjudul Aku Rapopo yang dipopulerkan oleh almarhumah Julia Perez. Lagu itu menggabungkan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Inggris secara acak dan sembarangan.

Misalnya, Rasa hati ini uwis broken, nemu kamu wes tak sobek-sobek. Lirik lagu itu, yang terkesan sederhana dan ndeso, dipadukan dengan musik yang asyik sekali. Alhasil, lagu itu mengena sekali di masyarakat dan menjadi viral.

Masyarakat mudah sekali terseret arus kebahasaan yang unik dan lucu semacam itu. Apalagi pengaruh media sekarang ini yang sangat kuat cengkeramannya. Hanya dalam waktu hitungan detik, segala macam informasi bisa langsung dikonsumsi publik. Dalam hitungan menit, sesuatu yang baru diunggah langsung viral.

Mungkin masyarakat lelah. Mungkin mereka sudah terlalu sering mendengar istilah asing atau istilah yang dibuntuti kabar yang berat atau tidak menyenangkan. Misalnya istilah kasus, koalisi, krisis, kontroversi, elektabilitas, konsistensi, inflasi, dan lain sebagainya.

Alhasil, mereka mudah saja dihibur dengan istilah-istilah yang unik dan cenderung lucu. Apalagi, fakta mengenai kids jaman now adalah fakta yang amat dekat dengan mereka dan mudah ditemui sehari-hari. Dalam konteks sosial semacam itu, kaidah kebahasaan memang tidak relevan.

Untung saja, saya bukan profesional bahasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top