Sampah menggunung di bak truk Depo Utoroloyo, Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta, dampak dari melambatnya distribusi sampah, Selasa (14/11/2023). (Lppmkreativa.com/Hanifa Dian Kusumaningrum)

Berubahnya Sistem Regulasi Sampah TPS Tamansari dan Depo Utoroloyo Pasca Penutupan TPA Piyungan

Sistem regulasi sampah di TPS Tamansari dan Depo Utoroloyo berubah sejak September lalu. Hal tersebut dikarenakan melambatnya distribusi sampah dari TPS-TPS ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Pemicu dari melambatnya distribusi sampah tersebut salah satunya adalah karena ditutupnya TPA Piyungan, yang mana menjadi tempat pembuangan terbesar di Jogja. Sejak bulan September sampah yang masuk ke TPA Piyungan dibatasi, tidak setiap hari sampah dari TPS bisa diteruskan ke TPA.

Melambatnya Distribusi Sampah

Distribusi sampah di TPS Tamansari melambat sejak TPA Piyungan ditutup. Warga yang ingin membuang sampah di TPS pun harus dijadwal untuk mengantisipasi agar sampah tidak membeludak. Apalagi sampah yang dibuang ke TPS Tamansari adalah sampah dari hampir seluruh wilayah Yogyakarta.

“Ini cuma untuk pembuangan mandiri saja sama lingkungan sini terus dibuang ke sana. Jadi sana (TPA Piyungan) tutup, yang bermasalah cuma pembuangannya itu agak lambat, agak repot gitu loh, jadi agak numpuk,” jelas Eko Widiyanto, salah seorang petugas TPS Tamansari.

Depo Utoroloyo juga mengalami persoalan yang sama, yaitu melambatnya distribusi sampah karena jadwal yang tidak menentu.

“Kalau dulu durasi setiap hari, terus semenjak Bulan September itu tidak tentu. Ini sudah empat hari ini libur, jadi besok, besok kan sana buka. Jadi kita baru rencana bisa ngirim,” ujar Agung Sulistiyo, Linmas yang bertugas di Depo Utoroloyo.

Suhardi, warga Tompeyan, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta, menyampaikan penjelasan terkait perubahan regulasi sampah di Depo Utoroloyo, Selasa (14/11/2023). (Lppmkreativa.com/Hanifa Dian Kusumaningrum)

Kesulitan yang Mulai Dirasakan Warga

Dampak perubahan sistem regulasi sampah mulai dirasakan oleh warga sekitar. Suhardi, salah seorang warga yang bertugas sebagai keamanan RT/RW Tompeyan menyatakan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk mengelola atau membuang sampah. Sampah memang diambil oleh penggerobak sampah setiap dua hari sekali, tetapi jika mereka ingin membuang sampah secara mandiri langsung ke depo akan dipersulit oleh petugas yang berada di sana.

“Itu kalau dia yang bawa gerobak-gerobak itu, itu kan sudah dibayar sama perorang, nah itu bisa masuk. Nek warga nggak bisa masuk,” keluh Suhardi.

Suhardi menambahkan bahwa selain membayar para penggerobak yang per bulannya berkisar 30.000 sampai 150.000 rupiah, warga juga dimintai iuran dengan dalih uang retribusi sampah.

Baca juga: Sengketa Tambang Kali Progo: Masalah Perizinan dan Krisis Lingkungan

“Sekarang lho mbak, sistemnya per-KK. Misalnya KK-nya jumlahnya berapa? [bayar] sampahnya 2.000. Ini ada juga yang 3.000. Misalnya seperti kemarin ini [penjual] bakso itu, perbulannya ditarik 15.000 sampai 20.000. Nah, uang itu kemana? Dia padahal mau buang nggak boleh. Sudah dimintain retribusi. Nah, uang itu kan jane dimana gitu lho?”

Hal tersebut menjadikan beberapa warga membuang sampah mereka di pinggiran jalan. Jika sampah yang berada di pinggiran jalan tersebut sudah menumpuk, baru lah datang truk sampah dari luar yang akan memungut sampah-sampah tersebut, tetapi warga juga tetap harus membayar jasanya.

“Truk itu [dari] luar nggak dari pihak TPS. Nah itu, ning dia [warga] yo membayar,” jelas Suhardi.

Petugas melintas di dekat tumpukan sampah di TPS Tamansari, Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta, sedang menumpuk sampah hingga menggunung, Senin (13/11/2023). (Lppmkreativa.com/Hanifa Dian Kusumaningrum)

Pemberlakuan Penjadwalan hingga Pengelolaan Mandiri

Penjadwalan pembuangan sampah diberlakukan sebagai alternatif untuk mencegah membeludaknya sampah. Selain itu, pengelolaan sampah juga mulai dilakukan warga sekitar Tamansari melalui ‘Bank Sampah’, dengan maksud agar sampah-sampah yang sampai di TPS adalah residu akhir yang sudah terpilah antara sampah basah dengan sampah plastik.

Di Depo Utoroloyo yang bertempat di Tompeyan, Kecamatan Tegalrejo, sampah yang masuk adalah sampah warga yang dipungut oleh penggerobak sampah. Pembuangan sampahnya pun dijadwal, empat penggerobak sampah untuk dua sesi pembuangan setiap harinya, yaitu sesi pagi dan sesi siang. Sampah yang masuk ke Depo Utoroloyo ini berasal dari sampah warga Tegalrejo dan Jetis.

Sama seperti di TPS Tamansari, sampah yang dibuang ke Depo Utoroloyo juga melalui proses pemilahan, sampah basah dan sampah plastik sudah dibedakan. Namun bedanya, di wilayah Tegalrejo ini tidak terdapat program ‘Bank Sampah’. Warga harus mengolah sampah mereka sendiri di rumah masing-masing.

Penulis: Febia Catur Putri Surastiti
Editor: Anelka Almayda Antarsyach
Tim Redaksi: Febia Catur Putri Surastiti, Shanty Dwi Rachmawati, Risma Triana, Hanifa Dian Kusumaningrum
Redaktur Foto: Hanifa Dian Kusumaningrum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Aktivitas Pertambangan di Kali Progo Dusun Wiyu, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo, Sabtu (18/11/2023). (Lppmkreativa.com/Ahmad Rendy) Previous post Sengketa Tambang Kali Progo: Masalah Perizinan dan Krisis Lingkungan
Siswa-siswI SD Muhammadiyah Condong Catur, Sleman, DI Yogyakarta, sedang melaksanakan proses belajar di ruang kelas. (Lppmkreativa.com) Next post Privatisasi Pendidikan dalam Sekolah di Yogyakarta