Cerpen: Baby’s Breath

Saya rasa setiap orang yang ada di dunia ini pasti pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Berbagai macam alasan bisa mendasari hal ini. Saya adalah salah satu dari orang tersebut. Nama saya Ana, saat ini saya sedang bersekolah di salah satu SMA yang ada di daerah saya. Saya kelas 2 SMA. Seperti remaja pada umumnya yang masih labil dan banyak berpikir, otak saya diisi dengan hal-hal negatif yang memenuhinya.

Baca juga: Rindu Bulan

Saya selalu merasa mengapa hidup saya hanya seperti ini saja, terlalu datar, tidak ada hal menarik yang terjadi dalam hidup saya. Nah, dari pikiran inilah yang memicu saya memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.

Awalnya memang demikian, ya begitu adanya. Namun, semuanya pun berubah disaat saya tidak sengaja mendengarkan lagu salah satu idola yang saat ini sedang naik daun. Saya langsung terpikat mendengarkan suaranya, sangat mempesona.

Baca juga: Aku Ingin Ponsel Baru

“Eh, ini lagunya siapa?”

“Oh, ini tuh lagunya Jun. Kenapa emang?”

“Enak banget didengerin. Langsung masuk telinga.”

“Jangan salah, suara dia emang enak banget. Apalagi kalo kamu tau arti liriknya. Pokoknya ngena banget deh. Udah cakep, suaranya indah, multitalenta banget sih ini.”

Sejak saat itulah hidup saya berubah. Kertas yang awalnya hanya diisi dengan warna putih, abu-abu, dan hitam kini pun berganti menjadi warna pelangi. Sungguh rasanya sangat membahagiakan bisa mengenal sosok Jun. Mengenalnya adalah bagian terbaik dari hidup saya.

Baca juga: Di Balik Tembok Granada

Hari ini tanggal 18 Desember 2017 adalah hari Selasa yang sangat membahagiakan untuk saya. Mengapa demikian? Seperti siswa pada umumnya, saya berangkat sekolah tepat waktu. Di sekolah saya banyak sekali menghabiskan waktu dengan teman sesama fans dari Jun. Kebetulan hari ini ada rapat guru sehingga kelas banyak yang kosong. Kebahagiaan seorang fangirl adalah saat dia ngefangirling bersama-sama dengan teman-temannya. Ya kita banyak nonton video-video Jun perform, musik videonya, juga acara ragam yang diikutinya. Sungguh hari ini dipenuhi dengan rasa bahagia yang begitu banyak.

Baca juga: Jiwa

Setelah sekolah berakhir, saya dan teman-teman pun pulang ke rumah masing-masing. Hampir magrib saya rasa, saya sampai di rumah. Setelah mandi dan membersihkan diri, akhirnya saya memegang ponsel saya. Oh iya perlu diingat jika di sekolah saya siswanya dilarang membawa ponsel android, yang boleh dibawa adalah ponsel yang hanya bisa untuk sms dan telepon saja, sedangkan untuk laptop diperbolehkan untuk dibawa.

Baca juga: Dari Hati yang Berbakti

Sebuah berita yang muncul di layar ponsel saya menarik perhatian saya untuk membacanya. Tertulis “Diduga Bunuh Diri, Jun Meninggal di Apartemen”. Pertama kali saya membaca berita seperti ini rasanya seperti jantung saya berhenti berdetak dan waktu pun berhenti berjalan.

“Apaan nih berita ginian pasti berita bohongan nih. Ada angin ada hujan juga engga masa tiba-tiba muncul berita ginian. Pasti media ini yang pengin cari sensasi doang ha…ha…ha….”

Baca juga: Penatus Si Jago Sabung

Masih dengan tawa saya membuka berita tersebut. Bagaikan disambar petir tubuh saya membeku tidak bisa bergerak. Ada air yang mengalir membasahi pipi saya tanpa tahu sumbernya dari mana.

Di dalam berita tersebut tertuliskan jika Jun ditemukan tak sadarkan diri di sebuah apartemen sewaan yang terletak di sebelah selatan Kota Seoul sekitar pukul 18.10 KST, menurut polisi, dan saat ini sedang berada di Rumah Sakit Universitas Konkuk dalam keadaan gagal jantung dan belum diketahui kondisinya.

Belum puas dengan berita tersebut saya mencoba mencari-cari berita yang lainnya. Banyak sekali informasi yang saya dapatkan. Ada berita yang mengatakan bahwa kakak perempuan dari Jun sebelumnya telah melapor pada polisi pada pukul 16.42 KST karena merasa adiknya akan mencoba untuk bunuh diri.

Baca juga: Memang Boleh Sedaring Ini?

Firasatnya pun benar karena setelahnya adiknya ditemukan tidak sadarkan diri di apartemennya. Pihak petugas dan kepolisian percaya bahwa ia menghirup asap beracun, karena mereka menemukan briket batubara dibakar di wajan setelah mereka tiba di apartemen.

Dengan perasaan yang campur aduk dan wajah yang masih dibasahi air mata saya memaksakan untuk salat magrib dan berdoa semoga Jun bisa selamat dan berharap semoga ini hanya sebuah mimpi saja karena ini tidak terasa nyata adanya. Waktu isya pun saya berharap semoga ini hanya mimpi dan esok hari keadaan akan membaik seperti semula.

Baca juga: Mari Bersua, Elissaios

Dengan pikiran kacau balau saya tiduran di ranjang sembari menjelajah media sosial untuk melihat-lihat berita terkini. Saat membuka aplikasi Instagram dan melihat akun milik Jun saya pun sadar ternyata dia sudah memiliki keinginan untuk melakukan ini sejak jauh-jauh hari. Air mata saya pun jatuh tak terhenti seperti tidak ada batasnya.

“Ana.”

Tidur saya terusik karena ada suara yang memanggil. Dengan malas saya membuka mata saya dan langsung duduk terkaget di atas ranjang saya. Ranjang? Eh bukan ternyata ini rumput. Saya sedang berada di atas padang rumput luas nan hijau.

Baca juga: Jenderal Pembunuh

“J-j-jun. Eh Kak Jun,” dengan sedikit berteriak saya berucap seperti itu.

Dia hanya tersenyum melihat saya.

“Beneran ini kakak? Ini bukan mimpi kan yah?”

“Iya ini saya, Jun.”

“Beneran? Wah dasar media tukang cari sensasi masa iya orang masih hidup gini dibilangnya udah meninggal. Gimana mau percaya coba sama media kalo sukanya bikin berita yang bohong.”

“Hehehe. Kamu lucu,” sambil mengacak rambut saya dia berkata demikian.

Dengan tersipu malu saya tersenyum.

“Wah ngga nyangka banget aku bisa ketemu kakak di sini. Harusnya aku tadi bawa buku buat minta tanda tangan sama ponsel buat bisa foto bareng.” Dengan raut menyesal saya berkata demikian.

Baca juga: Dunia Tipu-Tipu

“Ngga papa kok, kita kan masih bisa ketemu lagi, ya. Nanti kalo kakak ngadain konser sama fansmeeting aku bakalan ikut war biar bisa menang tiketnya terus bisa ketemu kakak lagi,” tambah saya sambil tersenyum lebar.

Jun hanya tersenyum membalas kata-kata saya. Sampai beberapa saat berlalu hanya diisi dengan desiran angin sepoi-sepoi yang mengenai rambutku, tatapan mataku yang tidak lepas dari wajahnya, dan dia yang menatap langit biru dengan fokusnya.

“Ganteng banget sih jodoh orang,” saya berkata demikian dengan cengengesan.

“Ana, coba kamu lihat matahari itu.”

“Iya, ada apa emang sama mataharinya. Uh silau.”

Baca juga: Memori Merah Jambu

“Apa yang kamu pikirin kalo lihat matahari itu?”

“Hmm apa ya…. Kesepian. Dia sendirian di langit ngga ada temennya. Langitnya besar banget tapi cuma ada dia doang. Walaupun ada awan tapi kan beda. Kasian.”

“Iya bener katamu. Matahari itu sendirian aja di langit tapi dia tetep bersinar terang. Dia memberikan banyak makhluk hidup lainnya kehidupan. Tanpanya ngga mungkin ada makhluk yang bisa hidup di sini. Ingat-ingat itu ya.”

“Hah gimana kak?”

“Ngga kok.”

Baca juga: Tanpa Kopi, Kita Mati

“Oh iya ada yang kelupaan. Sebenarnya matahari itu ngga sendirian kok. Matahari kan bagian dari bintang karena bisa memancarkan cahaya sendiri. Nah, temen matahari, si bintang ini sebenernya selalu ada saat pagi dan siang hari di sekelilingnya. Hanya saja karena cahaya matahari terlalu terang jadinya cahaya bintangnya ngga kelihatan. Cuma saat malam dia baru bersinar karena gelap.”

Baca juga:Lagi-lagi Daring, Apa Kata Maba?

“Kamu tahu ngga cahaya apa yang paling terang?”

“Ngga tau kak. Emang cahaya apa?”

“Cahaya di dalam kegelapan,” sambil menatap mataku dia berkata.

“Ya udah ya sampe sini dulu. Udah waktunya aku pergi.” Dia berdiri, mengusap rambutku. Lalu berjalan pergi dengan tersenyum.

Baca juga: Press Release Rapat Kerja LPPM Kreativa 2024

“Eh kak mau kemana? Tungguin aku dong.”

Saya mengejar Jun, namun kaki saya tidak mau berpindah. Seperti berlari di tempat saja. Sungguh menyesakkan, saya harus melihatnya berjalan menjauh sambil melambaikan tangan dengan senyuman paling cerah yang pernah saya lihat.

“Bye Bye.”

“Kak, kakak tungguin. Mau kemana? Aku mau ikut.”

“Kak.”

GEDEBUG

“Aw… sakit. Gimana sih kok ranjangnya bisa kecil gini masa aku bisa jatuh sih. Huh dasar ranjang.”

Baca juga: Resensi Novel Gadis Kretek

Masih mencoba mengumpulkan nyawa sambil berdiri, lalu saya duduk memikirkan sesuatu. Langsung saya lihat kalender yang ada di atas meja belajar saya. 19 Desember 2017. Mengambil posel saya dengan tergesa-gesa untuk mencari berita terkini.

PRAK

Suara ponsel saya jatuh ke lantai. Tubuh saya luruh, sambil memeluk tubuh saya sendiri saya menangis tanpa ditahan dalam kesendirian ini. Bumi bagaikan berhenti berevolusi mengelilingi matahari.

Benar tepat kemarin, Jun, idola saya. Orang yang sangat saya sukai telah berpulang pada Tuhannya. Sekarang hanya tinggal nama, karya, dan kenangan yang tersisa di hati saya dan satu dunia.

Baca juga: Antusiasme Penonton Ketoprak UNY Budaya “Ande-Ande Lumut”

Menengok ke arah jendela, saya menemukan suatu benda asing di sana. Sebuah pot berisikan bunga Gypsophila atau yang di kenal dengan nama Baby’s-breath berwarna putih mengisi kekosongan jendela saya.

Penulis: Anggih Atianingsih
Editor  : Hana Yuki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rapat kerja LPPM Kreativa 2024 Previous post Press Release Rapat Kerja LPPM Kreativa 2024
ilustrasi Next post Simpang Empat Palbapang