Ilustrasi Pertemuan di Tugu Jogja. (lppmkreativa.com/Siti Nur Muthoharoh)

Kedua Kali

Pada malam penuh gemerlap kejora dan bulan purnama aku berhasil mengajakmu mengitari Jogja. Pertemuan ini menjadi pertemuan paling berkesan di antara kami berdua. Kesepakatan untuk tidak saling menyapa dari dua tahun lalu menjadikanku dan dirinya menjadi asing di atas bising knalpot motorku.

“Maaf, Mas. Aku sudah punya pacar.” Untaian kata dari bibir merahmu itu masih melayang di pikiranku sejak dua tahun lalu.

Bisa dibilang, saat itu adalah pertemuan paling apes yang aku rasakan. Perempuan itu pergi dariku saat aku berusaha untuk mengupayakannya. Ia hilang begitu saja setelah mengatakan bahwa ia sudah memiliki pasangan.

Namun, di penghujung bulan awal Agustus ini kami dipertemukan kembali. Dering telepon membangunkanku, masih sama deringnya seperti dua tahun lalu. Entah mengapa nada dering untuknya masih aku setting berbeda dengan kontak lainnya.

“Assalamualaikum, Mas,” kalimat pembuka darinya membuat jantungku berhenti. Aku terdiam.

“Mas, ini masih nomormu, kan?” Perempuan di balik telepon itu bertanya padaku.

“Wa-alaikum-salam. I-ya ini aku.” Dengan suara bergetar, ku balas pertanyaan itu.

“Ada waktu tidak? Aku ingin menghirup udara Jogja,” sambungnya.

“Ada. Nanti sore.” Aku menjawab perempuan yang dua tahun lalu menorehkan luka dihatiku.

Entah mengapa sore itu, aku dan dirimu memutuskan untuk bertemu. Entah ingin melepaskan rindu, atau… Sudahlah, aku sangat bahagia sore itu. Dirimu? Aku tidak tahu.

“Motormu masih sama seperti dulu, Mas,” senyuman itu kembali terlihat. Aku tidak bisa berhenti menatap paras jelita yang dibumbui lesung pipit itu. Celana terusan bewarna kuning keemasan yang ia kenakan nampak terlihat menyempurnakan keelokan dirinya.

Aku turunkan step motor dan memberikannya helm milik adikku, walaupun saat meminjamnya harus berdebat dulu. Perempuan itu lalu menaiki motorku, lalu kami melaju menuju sore diujung waktu.

“Kamu sehat?” Tanyaku sambil melihat parasnya dari spion kiri.

“Sehat, Mas. Kamu sehat, kan?” Jawabnya dengan melihatku dari spion kiri juga.

“Alhamdulillah.” Kalimat itu menjadi penutup obrolan kami yang hanya terdiri dari tiga bait saja.

Ku belokkan motorku ke sebuah warung tenda dekat GSP UGM. Jalan yang dipenuhi oleh tenda-tenda pedagang kaki lima yang siap memanjakan lidah mahasiswa. Dan tak lupa, kenanganku bersamanya.

“Mbak, nasi bebek dua porsi. Yang satu dada yang satu paha.” Pesan perempuan itu kepada pelayan yang menjadi langganan kami, dulu.

“Minumnya es teh tawar dua ya!” Sambungnya.

Aku tidak tahu mengapa menu yang selalu kami pesan dua tahun lalu masih ada di kepalanya. Ya, kami dulu sering makan di Nasi Bebek Mbak Desi sepulang kuliah atau pada malam menuju Minggu.

“Katanya, lewat makanan kita bisa ‘pulang’.” Ucap perempuan yang duduk di depanku sambil menyantap nasi bebeknya.

“Makanya, aku mengajakmu kemari. Biar ingat pulang,” aku menyodorkan kulit bebek kesukaannya, seperti dulu.

“Terima kasih ya, masih ingat saja.” Jawabnya dengan senyum bulan sabit yang dulu selalu aku usahakan berenang di wajah cantik itu.

Suara bising penggorengan menjadi backsound makan malam kami. Tidak banyak topik yang kami bicarakan, hanya bertanya kabar dan kesibukan saja.

Setelah kami menghabiskan nasi bebek Mbak Desi ini, kami memutuskan untuk mengitari Jogja. Jalanan Jogja sepertinya sedang mendukung kami. Tidak seramai malam Minggu biasanya. Malam ini lampu merah mungkin sedang malu bertemu kami, hingga hijau yang selalu kami temui.

“Kita sudah lama tidak bertemu, ya?” Tanyaku padanya, agar aku dan dia tidak diam-diam saja.

“Iya, Mas.” Jawabnya.

Aku diam. Mungkin karena bingung mau bertanya apa.

“Mas, aku mau ngopi.” Ia memotong diamku.

“Ke Angkringan Pak Tomi ya.” Jawabku sambil memutar balik stang kemudi motor ke arah Kota Baru.

Di angkringan ini, keakraban kami menghangat. Mungkin karena kopi hitam dan kopi susu yang kami pesan, atau kami yang kembali nyaman. Kami membahas banyak hal, termasuk orang-orang yang pernah bertamu dalam hidup kami.

Kami tertawa dan bersendau gurau, hingga larut dalam obrolan sampai tengah malam.

“Ahh, rasa itu muncul lagi.” Kataku dalam hati. Namun, sepertinya hanya aku yang merasakannya, sedangkan dirinya? Hanya sibuk bermain dengan rambut ekor kudanya.

Aku mengajaknya pulang setelah melirik jam yang menunjukkan pukul 23.59 WIB. Di perjalanan pulang, ruas jalan Jogja-Wonosari dipenuhi sembribit angin malam. Tangan itu, tangan yang dua tahun lalu hampir kugenggam, masuk ke saku jaketku. Perempuan ini, seolah mengizinkanku untuk mencintainya lagi. Rasa yang sudah kukubur dalam-dalam itu, digali kembali olehnya. Dan kunobatkan malam itu menjadi malam paling indah yang pernah kurasakan setelah luka yang mendalam.

“Makasih cantik untuk malam ini. Besok kalau ada waktu kita jalan-jalan lagi, oke?” Ucapku sebelum menginjak pedal gigi satu motorku.

“Sama-sama, Mas. Tapi, sepertinya tidak ada lagi hari esok untuk kita.” jawabnya dengan nada datar.

“Minggu depan datang ya!” Sambil menyodorkan sesuatu yang ia ambil dari tas selempangnya.

Aku menerima satu lembar kertas yang sedikit tebal dan terbungkus plastik. Kertas itu nampak meriah dengan gambar bunga-bunga yang menghiasi pinggirannya. Bagian bawahnya tertempel label bertuliskan namaku.

“Untukku?” Tanyaku padanya untuk meyakinkan diriku sendiri.

“Iya, bawa belahan hatimu ya!” Jawabnya dengan senyuman bulan sabit itu.

Aku lalu membukanya. Di dalamnya ada nama laki-laki yang tidak kukenal, yang mana akan menikah dengan perempuan yang baru saja membuatku jatuh cinta, kedua kali.

 

Penulis: Shintya Paramita

Editor: Salma Najihah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Sopir Angkot
Next post Mengulik Keseruan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNY Tahun 2023