Home KolomSastraCerita Pendek Diskusi dengan Tuhan

Diskusi dengan Tuhan

by M. Fajar Riyadi
407 views

Akhirnya semua yang gelap-gelap akan berhasil juga ia lalui; berhasil ia kubur dalam-dalam. Ia sudah dapat berdiri di permukaan dengan keadaan yang cukup baik. Alhamdulillah! Waktunya kini tiba. Pakaian sudah kelihatan pas. Wangi. Rambut mengkilap. Sempurna! Sudah siap bertemu dengan Pak Noor. Jimi mengetuk pintu rumah beliau. Terdengar sahutan ‘yaa’ dari dalam. “Ooo, Mariya-ku, merdu suaramu,” batinnya. “Hanya tinggal beberapa saat lagi, sayang!”

Mariya membuka pintu. Girang.

“Kau kelihatan lebih tampan,” ujar Mariya. Jimi rasa meroket ke langit, “Sungguh, Mar?” ia ingin memastikan. Maka: “Ya,” sahut Mariya dengan tersenyum. Jimi seperti dapat rejeki nomplok saja rasanya, “Apa besok aku akan lebih?”

“Kuharap begitu. Tapi, ayo masuk, bapak ada di dalam.”

Jimi dan Mariya masuk. Jimi berjalan membuntuti perempuan yang dicintainya. Maria berjalan ke arah sebuah ruang: ruang tamu. Ketika sampai, Mariya tersenyum–senyum entah sebab apa dan mempersilakan kekasihnya untuk duduk. Begitu adat yang ia pahami dari orang tuanya: tamu harus dihormati, dilayani dengan istimewa, diperlakukan sebaik mungkin. Jadi sebenarnya tanpa dasar perasaan cinta sekalipun, hal tersebut memang harus dilakukan.

“Duduklah dulu di sini. Biar kupanggilkan bapak. Nanti sekalian kuambilkan minuman dan makanan buat cemilan. Ya?”

“Terima kasih, Mariya…”

Mariya mengangguk dan gegas melangkah pergi. Jimi ambil posisi duduk. Hmm. Duduknya tegap. Jimi melihati terus Mariya-nya yang berjalan menuju sebuah ruangan sampai perempuan itu lenyap masuk pintu. Lantas ia luruhkan badannya dari sikap tegap. Ia mencoba duduk bersantai. Mengatur napas yang sejak tadi naik-turun…
***

Pak Noor muncul bersama Mariya di belakangnya. Gagah benar perawakannya, namun biar begitu usia tua sudah mengharuskan ia memakai tongkat untuk membantu berjalan. Tidak harus bertongkat sebetulnya, tapi tanpa itu Pak Noor akan kelihatan sulit berjalan. Kulit wajahnya sudah sebagian besar keriput, tapi matanya masih memancarkan semangat hidup yang tinggi.

Pak Noor duduk di kursi, berseberangan meja dengan Jimi. Gerakannya pelan sekali, penuh hati-hati demi kebaikan tubuh menjelang tuanya. Sementara Mariya, ia menaruh makanan dan minuman di meja, baru kemudian ikut duduk di samping bapaknya.

“Selamat pagi, Nak.”

“Selamat pagi, Pak.”

“Kamu Jimi?”

“Benar, Pak.”

“Kata Mariya, kamu sangat mencintainya?”

“Ah, Mariya mendahului saya mengatakannya.”

“Lalu, apa tujuanmu ke mari?”

“Melamar Mariya.”

“Eh… melamar?”

“Betul, Pak.”

“Kenapa tidak bersama bapak-ibumu?”

Sebuah hantaman keras! Jimi kebingungan. Sejak awal mula berhubungan dengan Mariya, memang persoalan ini yang paling membuatnya selalu ragu-ragu untuk melangkah. Ia tidak mungkin mengatakan jati dirinya kepada Mariya dan bapaknya. Terlalu memalukan. Tapi? Ah, hidup memang selalu menyediakan masalah-masalah yang mengandung dilema. Memilih maju atau mundur sama saja beresiko dan sama saja tak membawa untung. Di situlah Jimi kemudian memilih permisi. Ia segera meminta diri dan melangkah keluar. Mariya menyusul langkahnya.

Pak Noor diam saja di tempatnya. Tapi bingung juga. Yang ditanyakannya tadi itu kan hal yang normal saja to? Tapi kok sepertinya kali ini punya kekuatan yang sulit dimengerti? Pak Noor bertanya-tanya dalam hati. Maka usai memikirkan berbagai hal dan ditimbang-timbang, ketemulah satu kesimpulan. Pak Noor paham kini. Ia mengangguk.

“Kau mau ke mana?” teriak Mariya ke arah Jimi.

“Aku pulang dulu, Mar.” Jimi menghentikan langkahnya di beranda rumah Mariya dan menjawab tanpa membalikkan badannya.

“Jadi kau batal melamarku?” tanya Mariya dengan sedih.

“Bukan.”

“Bukan apa?”

“Bukan batal. Tapi tunda.”

“Kenapa harus ditunda?”

Nah! Menghindari pilihan pun ternyata punya resiko. Jimi menggerakkan jari-jarinya secara tak disadari. Bergerak-gerak begitu saja. Apa yang sebaiknya dilakukan sekarang? Kalau ia terus terang, tidak. Tidak akan! Ia belum siap. Siap menghadapi tidak sama artinya dengan siap menceritakan semuanya kepada orang lain. Bahkan Mariya.

“Jim, kenapa kau diam?”

Pergi? Ya, pergi! Sebaiknya memang pergi saja. Jimi hanya perlu melangkahkan kaki, berjalan menuju pintu, membukanya, melewatinya, dan menjauh sejauh-jauhnya. Pulang menuju rumah… yang bukan rumahnya. Untuk kembali lagi tapi entah pada masa kapan… Laksanakan!

“Jim! Jimi!” pekik Mariya. “Jangan pergi dulu, Jimi! Jimi!”
***

“Tuhan! Tuhanku! Bagaimana cara aku melanjutkan hidup bila begini situasi yang ada? Baru setengah tahun yang lalu aku berhasil mengetahui asal-usul diriku. Siapa ibuku, siapa bapakku, lahir di mana aku. Akhirnya aku tahu kalau dulu Kau biarkan ibuku diperkosa bersama wanita-wanita lain dalam peristiwa besar yang tak kupahami sebab-musababnya, hingga aku tertanam dalam rahimnya. Kau buat aku tumbuh di sana! Kau buat aku berpotensi besar untuk mengecap kehidupan di dunia. Kau buat aku akhirnya benar-benar terlahir di dalam kandang sapi. Kukira aku lahir dari rahim sapi, ternyata kandang sapi adalah salah satu tempat persembunyian yang cukup aman dari pencarian tentara-tentara biadab itu, sekaligus tempat melahirkan yang—menyedihkan.”

Jimi tertunduk dalam—dalaaam sekali. Begitu dalam. Terlalu dalam. Seolah-olah kedalaman ketertundukannya itu merupakan satu usaha membenamkan diri ke dalam bumi; suatu usaha yang timbul akibat keputusasaan yang tak dapat lagi dihindari.

Kemudian amarahnya menyerang lagi. Ia angkat kepalanya.

“Tuhan! Tuhanku! Mengapa pula Kau memanggil pulang ibuku justru pada saat aku masih terlalu kecil untuk ditinggalkan? Mengapa pula cuma orang miskin di dunia ini yang sudi memungut bayi kecil di pinggir jalan—seperti yang kualami ketika itu? Mbok Sima orang miskin, rumahnya cuma gubuk begini, Tuhan! Mengapa Kau bikin lembut hatinya hingga tak tega melihatku terbaring di pinggir jalan itu? Mengapa kau tambah-tambah beban hidupnya dengan kehidupanku? Kenapa tidak orang kaya saja? Biar Mbok Sima tidak banyak beban. Biar orang kaya bagi-bagi kekayaan. Ke mana kedermawanan orang kaya? Ke mana nyala batin mereka? Kau redupkankah? Apa yang mereka pikirkan ketika mengendarai mobil, lalu melintas di dekatku, sungguh-sungguh melihatku, tapi tak tergerak batin mereka untuk memungutku? Apakah memungut adalah perbuatan yang hina?”

Menunduk. Dalam. Lagi. Mengucurlah! Air mata Jimi sungguh-sungguh telah keluar dari persembunyiannya. Telah basah, menciptakan garis di pipi sebelum diusap oleh Jimi sendiri dengan punggung tangannya. Air mata adalah wujud dari kesakitan-kesakitan yang tak dapat lagi ditahan dengan ketegaran. Jimi sesenggukan.

“Tuhan! Tuhanku! Aku sudah hampir merelakan semuanya ketika bertemu dengan Mariya. Aku jatuh cinta padanya. Itu untuk pertama kalinya aku bersyukur telah Kau lahirkan ke dunia. Kubuat begitu banyak puisi dan Mariya menyukai puisi-puisiku. Kutuliskan cerita-cerita cinta untuknya dan kami membaca cerita-cerita itu berdua dengan suka ria. Aku sungguh … sungguh … ingin Mariya menjadi bagian dari hidupku. Bukan! Bukan bagian. Hidupku bahkan seperti tak sedang berlangsung ketika tiada dirinya. Ia adalah hidupku.”

“Tuhan! Demikian dalam cintaku padanya. Demikian dalam. Kuanggap ia sebagai cahaya yang menerangi jalan-panjang-gelapku. Mengapakah saat ini justru hubunganku dengannyalah yang menjebakku untuk berdiri di depan pintu kenangan masa lalu. Ayah Mariya memintaku membuka pintu masa lalu yang gelap pekat itu. Padahal aku belum sungguh-sungguh memiliki cahaya. Aku belum sungguh memiliki putrinya yang amat kucintai.”

Jimi terdiam lama memandangi atap gubuk Mbok Sima. Sebenarnya ia tak memandangi apa-apa. Pandangannya kosong mlompong!
***

Mbok Sima terdiam dan membatu di balik pintu bambu usai menyaksikan Jimi mengeluh panjang kepada Tuhan. Hatinya sakit sekali. Perih! Maka jemarinya meremas dadanya dengan keras, matanya dipejamkan dengan paksa, sehingga air mata mengalir seolah-olah sedang diperas dengan begitu semangat. “Aku tidak terbebani dengan kehadiranmu, Jimi. Sama sekali tidak…”

“Mbok…” pintu tiba-tiba sudah terbuka. Jimi di sana.

Mbok Sima tergagap dan buru-buru mengusap air matanya.

“Mbok menangis?”

Sesaat diam saja. Mbok Sima memikirkan apa yang sebaiknya ia perbuat. Dalam waktu singkat, ia memutuskan untuk berkata: “Biar Mbok pura-pura jadi ibumu.”

“Tidak!”

Mbok Sima kaget. “Kenapa, Jim?”

“Cukup orang-orang dalam peristiwa besar itu saja yang melakukan hal busuk. Mereka saja yang pura-pura dan bohong. Mereka saja yang merenggut kehormatan perempuan secara paksa. Mereka saja yang merampas hak rakyat dengan tanpa belas kasihan. Aku tak sekali pun berkeinginan untuk mewarisi bahkan salah satu sifat biadab mereka. Tidak, Mbok. Tidak! Mbok jangan ikut pura-pura! Jangan ikut-ikut bohong!”

Masalah ini sejak dulu dicari-cari solusinya. Namun selalu tak menyelesaikan. Mbok Sima selalu salah bersikap. Jima tak pernah bisa menerima kenyataan. Mbok Sima selalu merasa bersalah. Jimi selalu menyalah-nyalahkan keadaan dan… Tuhan.
***

Mariya mondar-mandir tak jelas juntrungannya. Kacau pikirannya. Ia terus bertanya-tanya, kenapa Jimi melakukan hal yang tak jelas begitu? Kenapa cuma ditanya soal remeh begitu ia seperti dipukul pakai godam? Intinya, Mariya belum mengerti maksud dari yang dilakukan Jimi. Maka Pak Noor yang mengamati kegelisahan putrinya, segera ambil tindakan. Ia meminta agar Mariya duduk di sampingnya.

“Tenanglah, anakku!”

“Tapi, Pak…”

“Dengarkan bapak! Ada suatu masalah di kehidupan Jimi tentang kedua orang tuanya. Dan sepertinya, bukan sesuatu yang remeh. Itu masalah yang serius!” Mariya bertanya, “Apa ayah?” Dan Pak Noor menjawab, “Ayah juga belum tahu.”
***

Jimi di rumah Mbok Sima juga terlihat tidak enak. Kacau juga perasaannya. Sesaknya tak lekas hilang sampai saat ia duduk berhadap-hadapan dengan Mbok Sima sekarang. Di dalam rumah kecil dengan dinding anyaman bambu dan letaknya di pojokan komplek perumahan. Mbok Sima saat ini terlihat lebih tenang. Hanya terlihat. Wajah khawatirnya sudah dipaksa lenyap sejak beberapa saat lalu ketika pikirannya mendapat pencerahan. Sebuah hidayah! Sebuah hidayah yang membuat dadanya tak akan usai dari gemuruh. “Ada solusi untuk masalah ini, Nak,” kata Mbok Sima.

Jimi diam menunggu. Mbok Sima mengeluarkan apa yang disembunyikannya di balak badan. Sebuah pisau. Fisiknya masih cukup kuat untuk melayangkan pisau itu… ke dada Jimi. Lalu… ke dadanya sendiri. Sratt! Pisau sudah melesak ke dada Jimi. Jimi tak sempat melakukan perlawanan. Posisi duduk mereka terlalu dekat. Terlalu mustahil untuk menghindar.

“Mari, Nak, kita menuju Tuhan. Kita diskusi dengan-Nya.” Mbok Sima menusuk dadanya.
***

Yogyakarta, 1 September 2018

Related Articles