Kampung Ramadhan Jogokariyan: 20 tahun Melekat di Hati Masyarakat

Rabu (20/3) LPPM Kreativa melakukan wawancara kepada Bapak Arif selaku panitia inti yang tergabung dalam program Kampung Ramadhan Jogokariyan (KRJ). Beberapa pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan persiapan, pelaksanaan, dan kendala dari program KRJ. Bapak Arif mengatakan program Kampung Ramadhan Jogokariyan sudah berlangsung selama 2 dekade atau 20 tahun lamanya. Tahun pertama pelaksanaan KRJ dengan jumlah 700 porsi, tetapi tahun ini telah mencapai 4.200 porsi dan diperkirakan akan terus bertambah.

Baca juga: Komersialisasi Fasilitas Kampus FBSB UNY

Panitia dan relawan yang tergabung berjumlah 300 orang. Mereka merencanakan konsep Kampung Ramadhan Jogokariyan sejak satu tahun sebelum pelaksanaan, kemudian untuk pembahasan lebih matang selama 2 bulan sebelum Ramadan. Wawancara dilaksanakan selama hampir 30 menit dengan Bapak Arif yang memberikan penjelasan mengenai alasan dan sejarah terbentuknya KRJ. Selain itu, beliau juga menjelaskan sumber dana yang digunakan, ketentuan bagi panitia dan relawan yang tergabung, serta kendala yang dihadapi oleh mereka.

Apakah Kampung Ramadhan Jogokariyan (KRJ) rutin dilaksanakan setiap tahun? Kalau iya, mengapa rutin dilaksanakan? Apa ada alasan tersendiri yang mendasari rutin dilaksanakan setiap tahunnya?

Sudah dilaksanakan selama 20 tahun (2 dekade). Alasan diadakan terus karena fungsi masjid memang untuk memberdayakan umat, salah satunya masjid ini. Di Jogokariyan, Kampung Ramadan bukanlah satu-satunya untuk memberdayakan umat. Akan tetapi, ketika Ramadan yang paling utama itu ya KRJ.

Baca juga: Dari Hati yang Berbakti

Menurut Bapak apakah ada suatu hal yang menjadi ikonik atau yang menonjol dari KRJ ini sehingga dilaksanakan setiap tahunnya? 

Untuk ikoniknya memang setiap tahun selalu berbeda, seperti halnya maskotnya. Maskot dan tema selalu berubah setiap tahunnya, karena maskot berperan sebagai daya tarik pengunjung.

Apa peran Bapak di KRJ ini?

Peran saya disini sebagai relawan di dalam masjid untuk menjaga kebersihan di masjid.

Adakah hal-hal yang ingin dipertahankan yang menjadi ciri khas di KRJ ini?

Ciri khas dari mempertahankan KRJ adalah melaksanakan itu setiap tahunnya. Yang dipertahankan adalah selalu apa yang telah dilaksanakan. Tetapi, kami selalu berinovasi dengan memperhatikan tren yang sedang hits di tahun tersebut dan apa yang perlu kami bagikan agar pemberdayaan umat tetap terus berlangsung.

Baca juga: Tiada Tempat Pulang Terbaik Selain Diri Sendiri

Prosedur untuk rekrutmen atau semacam itu dimulai dari bulan apa, Pak?

Jadi kalau untuk relawan itu kebanyakan orang di sekitar sini. Sumber daya manusia sekitar sini karena yang paling diperhatikan pertama kali adalah radius empat puluh rumah dari masjid. “Jangan sampai kita bisa menghidupi orang lain tapi ternyata tetangga sebelah kita kelaparan”. Itu salah satu tujuannya, ada aturan radius tersebut yang merupakan minimal tapi bisa diperlebar lagi. Panitia yang tergabung termasuk remaja dan anak-anak, mereka memiliki wadahnya sendiri yang disebut RMJ (Remaja Masjid Jogokariyan) dan kelompok anak-anak disebut ‘hamas’. Jadi bisa dibilang berjenjang,‘hamas’ nanti akan menjadi RMJ dan naik lagi bisa menjadi takmir. Teruntuk pemikiran, pengelolaan dan semacamnya memang dari takmir yang dibantu dewan syuro. Tetapi, memang untuk menggerakkannya dibantu remaja dan anak-anak.

Proses dari persiapannya seperti rancangan dan ide-idenya dipersiapkan berapa lama, Pak?

Kalau untuk rancangan ide-idenya sebetulnya untuk tahun depan pun sudah direncanakan dari tahun ini. Jadi, tahun ini, “Apa sih yang jadi kekurangan tahun ini?”. Itulah yang kita perbaiki di tahun depan seperti evaluasi dari tahun-tahun sebelumnya. Tetapi, untuk yang benar-benar direncanakan (matangnya) itu sekitar dua bulan sebelum Ramadan. Jadi, ya istilahnya untuk menampung pendapat dan kekurangannya mulai dari sekarang. Kekurangan dan apa yang perlu kita munculkan, “Apa lagi yang sekarang tidak ada?”, seperti perbaikan-perbaikan karena memang dilaksanakan secara beruntun selama dua dekade. “Seperti kita mandi kan sudah rutin dilaksanakan, bagian apa yang belum kita bersihkan jadi segera kita  bersihkan.”

Baca juga: Tips Ormawa Produktif

Menyinggung perbaikan tadi, kira-kira untuk kendala apa saja yang dialami untuk program KRJ selama seminggu lebih ini?

Untuk seminggu lebih ini kendalanya lebih ke pengaturan pesertanya, seperti setiap hari pun bisa berubah tapi juga ada yang lho kok itu lagi, jadi kita nikmati saja. Memang nanti untuk kedepannya kita perlu evaluasi untuk pengaturannya biar akhwat dan ikhwan dalam tanda kutip “tidak bisa bertemu” terutama yang di dalam masjid. Semua sudah ada job masing-masing karena begitu pelaksanaan sudah menjadi tanggung jawab masing-masing, seperti halnya yang di luar tidak tahu keadaan yang di dalam begitu juga sebaliknya, yang di dalam tidak tahu keadaan di luar. Baru begitu selesai pelaksanaan kita bisa sharing, evaluasi kecil biar bisa koordinasi setiap bagiannya bisa jalan dan untuk evaluasi besar setelah Idulfitri. Untuk koordinasi bagian dalam dan luar, tidak bisa benar-benar menyelesaikan masalah secara holistik, tetapi mungkin saat itu bisa selesai tapi ternyata besoknya kok terulang. Nah, ketika terulang inilah bagaimana solusi yang baiknya.

Apakah disediakan tim medis untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan?

Setiap hari disiapkan tim medis. Tidak hanya berjaga-jaga, tetapi juga mengadakan program pengobatan gratis seperti cek gula dan cek kolesterol. Siapapun bisa melakukan pengobatan gratis, tempatnya ada di sebelah barat masjid. Terdapat perempatan, lalu belok ke utara dua puluh meter sebelah kanan jalan. Di KRJ sudah menyediakan unit ambulans, stand by setiap hari, apabila ada yang pingsan dan tak bisa tertangani bisa segera dibawa ke rumah sakit.

Baca juga: Privatisasi Pendidikan dalam Sekolah di Yogyakarta

Mengapa harus memakai piring, Pak? Porsinya saja sudah banyak, apakah tidak takut untuk pecah dan sebagainya? 

Walaupun kami harus kesulitan mencuci, mengeringkan piringnya, dan resiko pecah, akan tetapi kita ingin memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, bahwa sampah ini merupakan masalah yang urgent di Yogyakarta.

Apakah setiap harinya ada piring yang pecah, Pak?

Semestinya ada, tetapi hanya dalam tiga hari itu sepasang gelas dan piring yang pecah. Biasanya terjadi karena keteledoran pengunjung, dan kami tidak menuntut ganti rugi. Sebenarnya pada awal Ramadan kita menyediakan 3.500 porsi, tetapi sekarang sudah mencapai 4.200 piring. Jadi, kalau terjadi piring pecah pun tidak begitu terlihat karena jumlah piring yang bertambah.

Berapa jumlah porsi piring yang dikeluarkan pada awal pelaksanaan program KRJ?

Awal pelaksanaan tahun pertama dulu sekitar tujuh ratus porsi, lalu semakin menambah sekarang menjadi 4.200 porsi, itu pun masih ada yang tidak kebagian.

Berapa jumlah keseluruhan relawan atau panitia yang terlibat dalam proses persiapan dan pelaksanaan KRJ?

Untuk jumlah relawan dan panitia reguler secara keseluruhan itu totalnya tiga ratus  orang. Panitia reguler itu panitia inti seperti takmir, dan saya ini pengelola masjid yang termasuk dalam panitia inti. Untuk panitia inti setiap hari hadir dan stand by di lokasi, sedangkan untuk relawan bisa hadir bisa tidak di setiap harinya. Dahulu jumlahnya tidak sebanyak ini panitia dan relawannya, semua secara bertahap.

Baca juga: Pameran Prestasi Unit Kegiatan Mahasiswa: Ajang Unjuk Gigi UKM bagi Mahasiswa Baru

Apabila di akhir Ramadan, pengunjung berkurang dan piring tersisa itu nanti bakal dibawa ke mana, Pak?

Alhamdulillah sampai akhir Ramadan pun kami selalu kekurangan porsi, antusias pengunjung tetap tinggi. Apabila tidak habis bisa disalurkan ke pondok-pondok di sekitar KRJ. Terkadang penjual yang dagangannya tidak habis dititipkan ke KRJ untuk sedekah supaya habis. Untuk tarawih biasanya ada takjil, tetapi tidak setiap tarawih, khususnya di malam Jumat karena satu juz. Maka pihak masjid akan memberikan takjil sebagai tombo kesel, seperti malam Jumat kemarin diberi kebab dan teh anget.

Jam berapa sebenarnya KRJ ini dibuka setiap harinya, Pak?

Jam empat, tetapi harapan kami pengunjung salat Ashar berjamaah, kemudian bisa jalan-jalan ke pasar Ramadan membeli takjil, baru masuk ke masjid untuk mengambil makan supaya pengunjung lebih enjoy dan menikmati. Kalau datang mendadak jam setengah lima itu sudah crowded.

Apakah sahur juga menyediakan bazar untuk sahur?

Kalau sahur ada bazar sahur juga, jadi memang menyediakan sahur tapi juga ada beberapa yang jualan. Baru kita laksanakan tiga tahun, sistemnya sama seperti buka, jumlah porsi disesuaikan dengan yang itikaf di sini ada berapa. Kalau misal ada yang tiba-tiba datang dan makanan tidak mencukupi, mereka tetap bisa membeli makanan dari para penjual.

Baca juga: Rape Jokes: Candaan atau Pelecehan?

Bagaimana dana bisa selalu ada?

Kita berusaha melalui open donasi, dana yang kami peroleh dipenuhi oleh Allah melalui hamba-hamba-Nya. Kalau untuk takjil kami menganggarkan hampir 1,6 M selama sebulan, dari hasil open donasi. Open donasi tidak hanya melalui kotak infak sendiri, tetapi juga bisa Qris maupun transfer dan kita sebarkan melalui sosial media. Alhamdulillah tidak pernah kekurangan dana, biasanya justru surplus.

Apakah donasi yang diterima hanya berbentuk uang atau bisa bahan makanan dan sebagainya?

Kemarin kita sempat menerima duku dan salak, kalau jumlah dukunya berapa saya kurang tahu tapi kalau salak sebanyak satu ton, jadi kita tetap terima dalam bentuk apapun nanti kita salurkan semampu kita, Alhamdulillah tetap selalu habis.

Selain open donasi adakah yang menyumbangkan takjil dari masyarakat setempat?

Ada, jadi kalau kalian bisa mengakses akun Instagramnya Jogokariyan, di situ ada penanggung jawab menu, nah kalau ada masyarakat sekitar yang mau menyumbangkan takjil bisa langsung menghubungi penanggungjawabnya. Tidak harus melalui penanggung jawab infak takjil, dan tidak ada jumlah minimalnya, berapa pun diterima sesuai kemampuan yang ingin menyumbang.

Baca juga: Berlayar Bersama dalam Sastra Tutup Pintu 2023

Apakah pengunjung yang ingin berbuka puasa memenuhi hingga lantai 2?

Iya, sampai lantai 2, di sini ada 3 lantai, tetapi yang lantai 3 digunakan untuk pertemuan. Kalau untuk acara buka bersama tetap sampai lantai 2. Antara akhwat dan ikhwan dibedakan, kalau tidak hujan di luar juga disediakan tikar bahkan di area parkir juga digunakan untuk tempat duduk.

Penentuan menunya bagaimana bisa berbeda-beda?

Untuk menentukan menu, kami melakukannya dua bulan sebelum Ramadan dimulai. Meskipun terkadang ada pengulangan menu, seperti ketika menu hari ini sudah disajikan pada Kamis minggu sebelumnya, kami berusaha untuk selalu bervariasi. Namun, karena terbatasnya sumber daya, kami terpaksa melakukan pengulangan pada beberapa menu.

Baca juga: Hidden Figures: Aksi Melawan Diskriminasi

Orang-orang yang memasak apakah setiap harinya berganti atau tetap?

Kalau orang yang masak itu tetap, di sekitar Masjid Jogokariyan ini ada beberapa pengusaha katering, kalau tidak salah ada lima pengusaha katering, jadi misal ada 4000 porsi dibagi 5 sehingga lebih ringan, tapi tidak setiap hari dibagi 5 terkadang hanya dibagi 3 karena beberapa kelelahan dan sebagainya.

 

Penulis: Nadia Asih, Aulia Mahdi, dan Vanny Damay

Editor: Salma Najihah dan Hana Yuki Tassha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Krisis Infrastruktur: Ancaman Serius bagi Pusat Kegiatan Mahasiswa FBSB (Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya) UNY
Next post “Kisah Sukses Bu Inuk: Strategi Bisnis Es Buah di Pasar Ramadan Lembah UGM”