Siswa-siswI SD Muhammadiyah Condong Catur, Sleman, DI Yogyakarta, sedang melaksanakan proses belajar di ruang kelas. (Lppmkreativa.com)

Privatisasi Pendidikan dalam Sekolah di Yogyakarta

Pendidikan merupakan komponen vital dalam perkembangan bangsa. Kualitas pendidikan yang baik merupakan unsur krusial untuk membangun bangsa yang maju. Sangat disayangkan, indikator kualitas pendidikan seringkali dikaitkan dengan biaya yang dikeluarkan orang tua. Kesenjangan antar sekolah yang mahal dan sekolah yang murah membuat pendidikan berkualitas terkesan “privat” dan hanya bisa dijangkau segelintir kalangan dengan modal besar.

Perbandingan Lewat Fasilitas dan Sarana Penunjang Pembelajaran

Eko Apri Anggoro selaku wakil kepala sekolah bidang Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA), serta Sumber Daya Manusia di SD Muhammadiyah Condong Catur, Sleman berpendapat bahwa kreasi dan inovasi harus terus dikembangkan supaya tidak berhenti di satu titik. Berbagai fasilitas di SD Muhammadiyah Condong Catur, seperti kursi, komputer, dan mobil antar jemput sudah dikembangkan dengan harapan dapat menarik minat dan pandangan masyarakat.

“Untuk fasilitas, kita sudah mengganti semua kursi. Kemudian, kita juga melengkapi berbagai fasilitas yang ada, termasuk komputer dan mobil antar jemput. Seluruh fasilitas pastinya akan kita lengkapi dan perbaiki lagi dan lagi,” ujar Eko.

Di sisi lain, terdapat sekolah yang masih sangat kekurangan dalam segi fasilitas. Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Bendosari, Sleman, Sidiq Wasitojati, menyatakan terdapat kesulitan dalam memperoleh izin dari dinas pendidikan untuk menambah jumlah ruang kelas.

“Di sini ada enam kelas, karena untuk menambah ruang itu sedikit susah izin ke dinas. Kebetulan dari dinas itu minimal enam,” jelas Sidiq.

Sementara itu, keterbatasan lahan juga menjadi hambatan untuk pembangunan fasilitas pembelajaran. “Kami beberapa tahun lalu itu sudah mem-planning untuk membuat ruangan komputer, tapi karena lahannya kita kan cuma di parkiran ini dan diajukan ke dinas ternyata tidak masuk,” ujar Sidiq.

Hal ini menunjukkan ketimpangan yang signifikan antara SD Muhammadiyah Condong Catur dan SD Muhammadiyah Bendosari dalam fasilitas. Hal ini turut mempengaruhi kualitas pembelajaran kedua sekolah tersebut.

Baca juga: Komersialisasi Fasilitas Kampus FBSB UNY

Sumber Pendanaan dan Kontribusi Orang Tua Murid

SD Muhammadiyah Condong Catur memiliki tunjangan dari pemerintah berupa dana BOS yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru maupun karyawan. Sementara itu, untuk pembangunan fisik sekolah biasanya berasal dari dana milik sekolah yang didukung oleh orang tua wali murid.

“Termasuk pembangunan masjid itu juga dari sekolah, pemerintah hanya memberikan dana BOS,” ungkap Eko selaku Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Condong Catur.

Orang tua murid juga mendukung dihadirkannya tambahan untuk menunjang pembelajaran siswa. Salah satunya merupakan pengadaan guru pendamping untuk memfasilitasi proses belajar siswa berkebutuhan khusus (ABK).

“Karena kami tidak mengakses dana untuk guru inklusi, jadi kalau mau ada penambahan guru pendamping support pendanaannya bisa dari orang tua. Karena kembali lagi kami adalah sekolah umum, kami hanya menerima siswa berkebutuhan khusus yang dalam arti kesalahan pola asuh, tetapi pada hakikatnya anak tersebut normal dan kami hanya mendampingi saja,” tambah Eko.

Hal tersebut berbeda dengan SD Muhammadiyah Bendosari, khususnya menyangkut kontribusi orang tua. Pihak sekolah meminta kontribusi dari orang tua jika menyangkut hal-hal semacam keikutsertaan lomba. Hal tersebut sebelumnya akan didiskusikan dengan orang tua terlebih dahulu untuk meminta persetujuan dan kontribusi dana dalam pendaftaran lomba.

“Pihak sekolah juga mendanai sebagian, tapi untuk lomba tingkat kabupaten atau porda itu kami rembukan dulu ke orang tua karena ya itu, mahal-mahal,” ujar Sidiq.

Selain itu, SD Muhammadiyah Bendosari juga masih kurang dalam melakukan pengembangan sekolah inklusi. Terdapat keterbatasan dalam menyediakan guru pendamping untuk siswa yang tergolong Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Kalau ABK dulu iya, tetapi sekarang kita kesulitan pengajar. Karena pengajar dari kami kurang dibekali, pada dasarnya ini sekolah umum. Harusnya ada kelas sendiri, guru sendiri. Jadi untuk ABK seperti tuna rungu, tuna netra, dan sebagainya sekolah ini belum bisa,” jelas Sidiq.

Baca juga: Sengketa Tambang Kali Progo: Masalah Perizinan dan Krisis Lingkungan

Perbedaan Pengembangan dan Penerapan Kurikulum

Perbedaan dalam penerapan kurikulum mempengaruhi metode pembelajaran. SD Muhammadiyah Condongcatur sudah menerapkan Kurikulum Merdeka kepada kelas 1 dan 4, sedangkan untuk kelas 2, 3, 5, dan 6 masih menggunakan Kurikulum 2013.

“Ada perbedaan lagi, kalau di Kurtilas namanya Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), kalau di Kurikulum Merdeka (Kumer) namanya Modul Ajar. Ada beberapa komponen, kemudian nanti media dan bahan ajar, LKPD di Lembar Kerja Peserta didik.”

Sementara itu di SD Muhammadiyah Bendosari, Kurikulum Merdeka sudah diterapkan pada kelas 1, 2, 4, dan 5, edangkan kelas 3 dan 6 masih menggunakan Kurikulum 2013.

“Setiap pergantian menteri itu kan ganti kurikulum, itu yang membuat sekolah menerapkan dua jenis kurikulum,” ujarnya.

Sekolah Alternatif sebagai Solusi dari Permasalahan Privatisasi

Sebagai tanggapan mengenai polemik privatisasi pendidikan dan konsep mengenai pendidikan berkualitas yang terpusat pada kalangan atas, terdapat sistem sekolah yang mengilhami antitesis terhadap kedua konsep privatisasi tersebut. Pendidikan kontekstual yang dilakukan oleh Sekolah Pagesangan mengedepankan pembelajaran hidup dan kedaulatan manusia. Sekolah nonformal ini menuntun peserta belajar agar menentukan hal yang mau dipelajari sehingga bisa dikontekstualkan dengan kehidupan sehari hari.

“Kita membebaskan murid untuk memilih, kita menjadikan mereka subjek. Kalau menurut saya, kita saja di pendidikan formal sudah berkiblat pada sistem yang sudah ditetapkan oleh dinas pendidikan, mau mengubahnya bagaimana? Jadi kita pendekatannya informal. Jadi tidak harus mendaftar secara fisik gitu. Jadi, untuk kami yang penting itu esensinya. Esensi belajar yang penting adalah ada proses belajarnya. Kalau di sekolah formal kita tidak diperbolehkan membawa adik, tidak diperbolehkan ngomong, kita sebaliknya. Kita malah mendukung, kita mengobrol bareng-bareng,” ujar Diah Widuretno selaku pendiri dan fasilitator di Sekolah Pagesangan.

Diah menambahkan bahwa sistem independen diterapkan agar dapat dengan leluasa menentukan cara pembelajaran yang sesuai dengan ideologi yang dimiliki.

“Jadi, ini alasan kenapa kita membuat sistem sendiri karena kita independen. Alasan kenapa kita memilih independen karena kita bebas untuk menentukan cara belajar kita, ideologi kita, dalam memandang pendidikan untuk apa gitu,” jelas Diah.

Penerapan pendidikan kontekstual ini dimulai dengan melakukan observasi terkait latar belakang peserta belajar. Hal ini untuk mencari kebutuhan dan keinginan peserta belajar sehingga dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran.

“Jadi, tidak serta-merta kebutuhan itu terlontar dari mulut anak. Maka dari itu, dibutuhkan riset partisipatif sebelumnya. Jadi, kita mengamati kehidupannya, kemudian dialog-dialog informal, itu justru sangat membantu untuk mengetahui. Kita mengamati terlebih dahulu kehidupannya sehari-hari, lalu kita membantu memformulasikan. Bisa saja kita sebenarnya salah untuk menyusun kurikulum, tetapi paling tidak kita sudah mulai melakukan sesuatu yang mengutamakan pelajar itu sebagai manusia yang berhak untuk menentukan apa yang dipelajari dan itu yang tidak dilakukan di pendidikan kita.”

Kegiatan belajar juga tidak terbatas dalam ruangan kelas dan tidak terikat pada ruang dan tempat, tetapi disesuaikan dengan materi yang dipelajari.

Baca juga: Berubahnya Sistem Regulasi Sampah TPS Tamansari dan Depo Utoroloyo Pasca Penutupan TPA Piyungan

“Misalnya kita mau belajar tentang bagaimana pengolahan pangan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa masuk ke rumah-rumah warga sehingga memungkinkan adanya interaksi komunikasi yang tidak bisa dikonsumsi dengan orang lain.”

Sementara itu, pendanaan keberlangsungan Sekolah Pagesangan tidak pernah dibebankan kepada peserta belajar maupun orang tuanya. Sistem wirausaha mandiri yang terdiri dari beberapa kelompok, seperti kelompok anak, kelompok perempuan, kelompok tani, dan kelompok relawan, mampu membantu pendanaan mereka terhadap Sekolah Pagesangan.

“Misalnya kita mencoba untuk melakukan bentuk usaha yang bisa mendanai, akhirnya kegiatan itu didanai oleh program itu sendiri,” ungkap Diah.

Selain lewat wirausaha mandiri, Sekolah Pagesangan juga mengadakan workshop dan kelas-kelas berbayar untuk menyokong program dan pendanaan pembelajaran.

“Sejauh ini kita sudah berjalan hampir 16 tahun dan belum pernah kita mengajukan proposal sekalipun untuk melakukan kegiatan. Dana didapatkan dari, yang pertama, mengadakan kelas-kelas berbayar, misalnya workshop tempe, cooking class, workshop pendidikan kontekstual, workshop mengenai riset partisipatif.”

Dalam pengadaan kelas dan workshop tersebut, peserta belajar ikut memberikan kontribusi non-materi. Peserta belajar Sekolah Pagesangan tidak pernah dibebankan dengan biaya, tetapi memberikan partisipasi dalam pengadaan program-program tersebut.

“Untuk anak-anak SP (Sekolah Pagesangan) tidak membayar, tetapi untuk anak-anak luar yang ingin belajar di sini biasanya memberikan kontribusi. Misalnya kita lagi ada event pameran, mereka yang menjadi pemandunya. Jadi, semua pihak tetap berkontribusi, baik anak-anak, orang tua, maupun relawan, namun tidak selalu dalam bentuk uang atau material. Kontribusi juga bisa diberikan dalam bentuk tenaga semacam gotong-royong,” jelas Diah.

Redaktur: Sofia Annisa L
Editor: Annaila Syafa A. & Dhea Arini P

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Sampah menggunung di bak truk Depo Utoroloyo, Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta, dampak dari melambatnya distribusi sampah, Selasa (14/11/2023). (Lppmkreativa.com/Hanifa Dian Kusumaningrum) Previous post Berubahnya Sistem Regulasi Sampah TPS Tamansari dan Depo Utoroloyo Pasca Penutupan TPA Piyungan
Gedung performance hall, FBSB, UNY. (Kinarya.fbs.uny.ac.id) Next post Komersialisasi Fasilitas Kampus FBSB UNY