Puisi: Gagak Pemakan Apel

Alkisah, manusia belajar
menyembunyikan
dosa ke dalam tanah
lewat dua ekor gagak.
Anak manusia yang sigap belajar
dan gemar mencetak dosa, memikul
dosanya untuk ditenggelamkan dalam
kubangan tanah dan aliran dosa yang
akan mengalir sampai keturunannya
berhenti beringkar.

Baca juga: Harmoni Estetika Sastra dan Kritik Sosial dalam Novel Gadis Pantai

Alhasil, kamu mendatangi aku dengan
dosa yang kamu lahirkan dari sela-sela jari
setelah bertahun-tahun kamu kandung
di dalam kepala.
Tapi kamu jijik
dengan dosa yang
kamu kandung
bertahun-tahun
di dalam kepala,
dan kamu lahirkan
sendiri lewat garis
bibir dan sela-sela jari.

Baca juga: Harapan dan Hambatan: Suara Mahasiswa Kampus Mengajar Angkatan 7

“Kamu kan gagak utusan tuhan.”
Artinya, kamu minta aku untuk gali
kuburan untuk buah apel busuk
yang kamu rangkai untuk aku yang
sejak awal merupakan pemakan apel
busuk.

Baca juga: Resensi Novel “Re dan PeRempuan”

O, Nona! Nona,
tapi yang tumbuh
di punggungmu
adalah sayap gagak
yang menembus
dua lapis kain
seragam musim dinginmu—tidak!
Kamu tidak mau sayap tajam nan hitam,
karena itulah kamu datang kepadaku, kan?

Penulis: Najwa Aulia Fatihah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Harapan dan Hambatan: Suara Mahasiswa Kampus Mengajar Angkatan 7
Next post Resensi Novel “Kambing dan Hujan”