Scene Film Budi Pekerti. (Instagram.com/filmbudipekerti)

Resensi Film Budi Pekerti: Refleksi pada Siswa Dapat Mengubah Masa Depan

Film Budi Pekerti telah menggugah penonton pada bulan November 2023 lalu. Film drama Indonesia yang disutradarai dan ditulis oleh Wregas Bhanuteja ini menawarkan sebuah cerita yang unik. Film ini berlatar di Kota Yogyakarta selama masa pandemi Covid-19. Banyak tokoh publik dan aktor yang mendukung suksesnya film Budi Pekerti, di antaranya Sha Ine sebagai Bu Prani, Angga Yunanda sebagai Muklas, dan Prilly Latuconsina sebagai Tita. Berkat kehadiran para pemain berbakat ini, film Budi Pekerti semakin menarik perhatian penonton.

Film ini diawali pada masa Covid-19 ketika semua pembelajaran dialihkan secara daring dengan media pembelajaran seperti zoom dan chat group. Sebagai seorang guru, Bu Prani berusaha mengajar muridnya dengan penuh konsentrasi. Namun, terdapat satu siswa yang terlihat mengantuk dan tidak memperhatikan penjelasan Bu Prani. Bu Prani pun memanggilnya dan mengetes dengan beberapa pertanyaan terkait materi yang disampikan. Alhasil, siswa tersebut kebingungan dan harus menerima hukuman berupa refleksi dari Bu Prani.

Baca juga: Review Film Sweet 20: Kisah Seorang Nenek yang Kembali Muda

Semenjak video Bu Prani viral karena difitnah telah mengatai penjual putu dengan sebutan yang kasar dan nada tinggi, para guru yang ada di sekolah pun menginterogasi Bu Prani. Bu Prani berusaha menjelaskan sedetail mungkin kejadian yang sebenarnya. Namun, tidak semua guru mempercayai perkataannya. Bahkan ia sampai membuat video klarifikasi yang menyatakan bahwa ia tak besalah.

Selama pembelajaran bersama Bu Prani berlangsung, banyak siswa yang tidak mengindahkan aturan sekolah. Seperti tidak memperhatikan guru, merusak fasilitas, menyakiti atau mem-bully teman, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, Bu Prani memberikan refleksi yang merupakan sejenis hukuman bagi siswa yang telah melanggar aturan sekolah. Salah satu siswa melakukan refleksi dengan menggali makam. Siswa tersebut menggali makam bersama dengan tukang penggali makam lainnya. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan pelajaran bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, dan hal yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Untuk mempersiapkan diri menuju kematian, kita harus melakukan kebaikan sebanyak mungkin dan tidak menyakiti orang lain.

Ketika anak tersebut telah dewasa, dia masih ingat dengan refleksi dari Bu Prani yang dia lakukan ketika menggali kubur. Ternyata, dia mendapatkan hal yang luar biasa dari refleksi tersebut. Anak itu mendapatkan pengalaman unik yang tak terduga, menjadi siswa berprestasi, dan tidak takut untuk mencoba hal baru. Bukan hanya siswa tersebut, tetapi banyak siswa lain yang telah diajar oleh Bu Prani mengenang dan mengingat kisah yang telah mereka lalui.

Baca juga: Resensi Novel Rasa Karya Tere Liye

Hal ini menunjukkan bahwa tidak selamanya hukuman berakhir dengan penderitaan. Bu Prani merupakan tokoh guru yang sangat cerdas, beliau mampu mengubah stigma hukuman menjadi refleksi yang dapat berpengaruh bahkan mengubah masa depan siswa.

Editor: Dhea Arini Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tembok Granada. (Lppmkreativa/facts.net) Previous post Di Balik Tembok Granada
Aktivitas Pertambangan di Kali Progo Dusun Wiyu, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo, Sabtu (18/11/2023). (Lppmkreativa.com/Ahmad Rendy) Next post Sengketa Tambang Kali Progo: Masalah Perizinan dan Krisis Lingkungan