Sumber foto: https://rizkybarokah.co.id/

Resensi Novel Rasa Karya Tere Liye

Novel Rasa merupakan salah satu novel yang ditulis oleh penulis terkenal bernama Darwis yang akrab disebut dengan nama penanya, Tere Liye. Beliau lahir pada 21 Mei 1979. Beberapa novel karya Tere Liye yaitu Negeri Para Bedebah, Hafalan Shalat Delisa, Hujan, serta beberapa novel serial dunia paralel.

Novel berjudul Rasa ini mengisahkan tentang perjalanan rasa yang erat terjadi di kehidupan manusia. Novel ini menceritakan kisah Linda (Lin) yang merupakan siswa SMA. Lin memiliki sahabat bernama Jo yang merupakan anak konglomerat. Di rumahnya, Lin tinggal bersama Bunda dan Adit, kakak Lin. Karena terbiasa tanpa kehadiran sosok ayah, Lin telah bekerja di studio foto milik Om Bagoes untuk membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan ketertarikan dan bakatnya di bidang fotografi, Lin kemudian naik pangkat dan selanjutnya bekerja di studio Kemang milik DT, fotografer terkenal.

Baca juga: Resensi Film Budi Pekerti: Refleksi pada Siswa Dapat Mengubah Masa Depan

Di sekolah, Lin terkenal sebagai anak yang lincah, jahil, baik, dan pintar, meski terkadang sering ceroboh dan pelupa. Lin juga dapat berubah menyebalkan ketika berhadapan dengan orang yang dibencinya. Tak tanggung-tanggung, Lin pernah dengan sengaja mengedit foto kakak kelasnya sendiri sehingga menimbulkan gosip di lingkungan sekolahnya. Hal tersebut dilakukan Lin untuk membalaskan dendamnya kepada Nico yang tega mempermainkan perasaan temannya. Ia paling anti dengan orang yang hobi selingkuh, yang mana hal serupa juga dilakukan oleh ayahnya sendiri.

Meskipun sedikit ceroboh, ternyata Lin memiliki banyak teman di sekolahnya. Salah satu sahabatnya bernama Jo yang merupakan anak konglomerat. Selain itu, ada pula Putri yang merupakan teman SD Lin dan saat ini kembali menjadi teman SMA-nya. Tak disangka, ternyata Putri yang pendiam itu adalah saudara tiri Lin yang baru terungkap pada akhir cerita.

Meski Lin menjaga jarak untuk berinteraksi dengan laki-laki, pada suatu kesempatan ia bertemu dengan Nando. Nando adalah teman SMP Lin. Kini Nando telah banyak berubah hingga membuat Lin jatuh cinta dan berbunga-bunga. Lin merasa sangat senang ketika ada kesempatan yang kembali mempertemukannya dengan Nando. Di sisi lain, ternyata Jo diam-diam juga menyukai Nando.

Kisah antara Jo, Lin, dan Nando bagaikan bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Puncaknya, Jo dan Lin bertengkar hebat hingga hubungan keduanya renggang. Tak berselang lama dari pertengkaran itu, Lin juga dipertemukan dengan ayahnya yang dulu meninggalkan keluarganya. Lin merasa syok dan memutuskan pergi dari rumah. Ia bertemu Agus yang kemudian mengantarnya bertemu Miss Lei, guru BK di sekolahnya, yang mengetahui rahasia antara Lin dan Putri. Setelah melalui gejolak penerimaan dan proses memaafkan, akhirnya Lin bersedia untuk berdamai dengan keadaan.

Dalam novel ini, Tere Liye bercerita dengan gaya yang tidak membosankan. Segala bentuk emosi: kebencian, jatuh cinta, serta perasaan ala remaja tertuang dengan indah. Novel ini juga mengajarkan kepada pembaca mengenai arti menerima dan memaafkan meski awalnya berat untuk dilakukan. Terkadang, sebuah permasalahan dapat menjadi rumit karena rasa dan persepsi yang digunakan dalam memandangnya. Namun, selain mengusahakan rasa untuk menerima, mengikhlaskan, dan memaafkan, tentu harus didasari dengan rasa kejujuran dan keterbukaan agar hal yang sedang dialami tidak berujung pada kesalahpahaman.

Bagi pembaca yang baru pertama kali membaca novel tersebut, sangat mungkin untuk merasa takjub dengan alur yang diciptakan penulis serta gaya penceritaan yang modern. Bahasa yang digunakan juga tidak terkesan kaku karena diselipkan bahasa-bahasa gaul. Terlebih, humor dan penekanan emosi yang diberikan sangat terasa sehingga pembaca seolah merasakan sendiri kejadian yang dialami.

Baca juga: Review Film Sweet 20: Kisah Seorang Nenek yang Kembali Muda

Namun, selain kelebihan yang terdapat pada novel ini, kekurangan yang dapat dirasakan adalah terlalu banyak alur yang bercabang sehingga pembaca akan merasa kebingungan memahami beberapa jalinan peristiwa. Kejelasan nasib ayah Lin juga masih menggantung, sehingga tokoh ayah Lin seolah hilang tanpa ada titik terangnya.

Selain dari isi novel, hal menarik lain dalam novel ini terletak pada sampulnya. Ilustrasi sampul novel seolah menjadi representasi seluruh jalinan cerita pada novel. Terdapat beberapa benda-benda yang mencerminkan bahwa Lin adalah siswa SMA. Selain itu, terdapat coretan khas remaja pada gambar buku yang ada pada ilustrasi sampul. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian karena mengandung unsur cinta monyet yang kerap terjadi di usia remaja.

 

Editor: Dhea Arini Putri

2 thoughts on “Resensi Novel Rasa Karya Tere Liye

  1. Kak, setelah saya baca novel Rasa-Tere Liye, saya tidak menemukan adanya tokoh antagonis, mungkin saya tidak ngeh atau bagaimana ntahlah, tapi apakah kaka tahu siapa tokoh antagonis dalam novel ini? Jujur saya tidak meliht adanya tokoh tersebut, jika tidak keberatan, boleh kasi tau juga tokoh protagonis dan tritagonis dalam novel Rasa, untuk memastikan jawaban saya dengan jawaban kakak, btw resensi kakak banyak membantu saya dalam mengertikan novel Rasa milik Tere Liye, trimakasih kak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Dari Hati yang Berbakti
Ilustrasi Mengerjakan Tugas Kuliah (pexel.com) Next post Kuliah di Jogja Tapi Bukan di UGM?