Walk out ke atap

Walk Out: Berlatih Menjadi Anggota Parlemen

Hari kedua nongkrong di PKM, saya dapat cerita heboh. Kontingen FBS di Parade Ormawa walk out. Saya bayangkan, ribuan mahasiswa baru dari fakultas ungu janda mengalir keluar dari gedung GOR nan megah diiringi tatapan bingung, dan mungkin juga marah, dari panitia Ospek (PKMMNB – alah, susah betul namanya).

Saya pikir, bagus juga kalau mahasiswa baru FBS diajari walk out seperti itu. Soalnya, itulah yang diajarkan para “pemimpin” kita di parlemen saat ini. Tidak setuju Pansus KPK, walk out – walaupun awalnya mendukung (tapi sikap mencla-mencle begitu memang normal sih dalam politik, ‘kan?). Tidak setuju UU Ormas atau presidential threshold pun bisa juga walk out.

Nah, kalau mahasiswa baru angkatan tahun ini suatu saat nanti tidak setuju dengan sesuatu di kampus, mungkin mereka juga akan lebih fasih melakukan walk out. Misalnya, dosen X tidak pernah masuk, tapi selalu memberikan tugas yang berat-berat, dan memberi nilai maksimal C. Walk out dari kampus! Seperti saya hahaha :).

Selain itu, kalau suatu saat nanti salah satu mahasiswa baru itu menjadi anggota parlemen, mereka sudah terlatih walk out. Tentu, dengan alasan yang jauh lebih lihai dan lebih pintar bersilat lidah mempertahankan argumen karena tentu saja mereka sudah menjadi politisi, yang di Indonesia hampir-hampir sinonim dengan orang yang njelehi.

Kembali ke topik walk out FBS. Denger-denger sih, FBS melakukan itu lantaran waktu. Seharusnya sudah saatnya pulang kandang ke fakultas masing-masing, tapi sesi orasi per fakultas belum juga selesai. Padahal, hari semakin sore. Matahari kian condong di barat, senja hampir menciumi cakrawala dengan mesra seperti orang pacaran di film-film romantis.

Padahalnya lagi, pukul empat teng sudah harus kelar sesuai instruksi dari Kementrian yang termasuk salah satu kementrian dengan tingkat korupsi paling tinggi di tanah air. Byuh! So, walk out is the best thing to do in that case, it seemed. Eh, tapi kalau memang alasannya sangat kuat, misalnya dicurangi wasit seperti tim sepak takraw putri kita, walk out mungkin dapat dibenarkan.

Tapi jujur saja soal walk out ini bikin saya sendiri tersindir. Soalnya, ‘kan ente sudah memutuskan walk out dari kampus, tapi kok ente masih sok-sokan ngurusi teman-teman Kreativa? Padahal, ente juga sudah sudah walk out dari Kreativa (lebih tepatnya: mencampakkan) dua atau tiga tahun setelah enten diriin.

Tapi ini perkara lain. Bahas di luar forum aja ya biar lebih intim. Emwah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Dear LPPM Kreativa
Next post Sabda Tukang Becak