Advertisement Section

The Shark Caller: Menyelami Luka dan Pengampunan di Laut Papua

Novel The Shark Caller karya Zillah Bethell merupakan kisah yang penuh makna tentang persahabatan, kehilangan, dan keberanian untuk memaafkan. Cerita ini mengambil latar di Papua Nugini, tempat yang masih sangat dekat dengan alam dan tradisi. Bethell membawa pembaca menyelami kehidupan seorang gadis muda bernama Blue Wing, yang hidup di desa nelayan kecil di tepi laut. Di sana, laut bukan hanya tempat mencari ikan, tapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan, kepercayaan, dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Melalui kisah Blue Wing, pembaca diajak mengenal dunia yang sederhana namun penuh nilai kehidupan tentang bagaimana manusia berhubungan dengan alam, dengan sesamanya, dan dengan perasaannya sendiri. Blue Wing tinggal bersama seorang pria tua bernama Siringen. Ia adalah seorang shark caller atau pemanggil hiu, seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan hiu. Tradisi ini sudah ada sejak lama di desanya dan dianggap sebagai warisan yang sakral. Blue Wing bermimpi bisa menjadi shark caller seperti Siringen, bukan karena ia ingin terkenal atau dihormati, tetapi karena ia memiliki alasan pribadi. Ia ingin memanggil hiu yang telah membunuh kedua orang tuanya. Dalam pikirannya, dengan memanggil hiu itu dan membunuhnya, ia bisa membalas dendam dan menenangkan hatinya yang terluka. Namun, perjalanan yang ia jalani justru membawa Blue Wing pada pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar balas dendam.

Seminar Reorientasi Pers Mahasiswa: Menyuarakan yang Terpinggirkan

Hari ulang tahun Badan Pers dan Penerbitan Mahasiswa Balairung Universitas Gajah Mada Ke-40 telah dimeriahkan dengan beragam rangkaian agenda. Berbagai agenda yang telah dilakukan bertujuan untuk menyemarakkan “Nafas Intelektualitas Mahasiswa”. Agenda-agenda yang telah terlaksana adalah lomba meme, pameran arsip, Seminar Nasional Reorientasi Pers Mahasiswa, dan tilik bareng B21. Seminar Nasional Reorientasi Pers Mahasiswa dilaksanakan pada Sabtu, 1 November 2025 di Auditorium FISIPOL UGM dan diikuti lebih dari 100 mahasiswa dari UGM serta mahasiswa dari luar UGM.