Kala Satu Tahun Sekali
Kilauan cahaya mentari mampu menggerakkan otot dari kelopak mata gadis mungil yang kini tengah ada masalah di atas kasur. Ia...
Aku Ingin Ponsel Baru
Lagi dan lagi. Sudah kesekian kalinya dia, atasan kami, membentak dan mencaci maki para buruh. Entah apa masalah yang ia...
Nara dan Langkah Kecilnya
Kadang, yang terlihat nyata hanyalah mimpi, dan yang kita pegang erat justru perlahan memudar. Meski rindu sering kali membelenggu, ada saatnya kita harus merelakan dan melangkah maju. Mungkin perpisahan tidak berarti akhir, tapi awal dari perjalanan baru—untuk kita dan mereka yang telah pergi.
The Hole Named Loneliness.
[caption id="attachment_35304" align="aligncenter" width="288"] Ilustrasi The Hole Named Loneliness.[/caption] Sore itu, langit mendung melengkapi hari pertama di bulan September. Bunga...
Lampu kuning
Lampu kuning temaram di ruang tengah menyala pukul lima subuh. Aku tahu, itu pasti Abang yang baru pulang setelah semalaman tadi pergi melaut dengan Pak Sukir. Air mukanya tampak lelah, tanpa mengucapkan sepatah kata, aku yakin dia pasti merindukan kasur tipis di kamarnya secepat mungkin.
Menelisik Ketimpangan Sosial dan Kerusakan Ekosistem dalam Mei Salon Karya Iin Farliani
Kumpulan cerpen Mei Salon karya Iin Farliani menghadirkan alam sebagai objek hidup yang terluka, bukan sekadar latar pasif. Melalui pendekatan Sosio-Ekokritik, 16 cerita berlatar pesisir dan pegunungan ini membongkar keterkaitan antara keserakahan manusia, ketimpangan kelas, dan kerusakan moral lingkungan.
Fokus pada masyarakat marginal seperti nelayan dan perempuan salon, konflik utama digerakkan oleh krisis ekologis seperti penebangan liar, tanah longsor, dan kerusakan laut. Karakter-karakter di dalamnya digambarkan terjebak di tengah lingkungan yang tidak hanya rusak secara fisik, tetapi juga beracun secara sosial akibat kepalsuan dan pengkhianatan dalam ruang domestik.
