Advertisement Section

Nara dan Langkah Kecilnya

Kadang, yang terlihat nyata hanyalah mimpi, dan yang kita pegang erat justru perlahan memudar. Meski rindu sering kali membelenggu, ada saatnya kita harus merelakan dan melangkah maju. Mungkin perpisahan tidak berarti akhir, tapi awal dari perjalanan baru—untuk kita dan mereka yang telah pergi.

Lampu kuning

Lampu kuning temaram di ruang tengah menyala pukul lima subuh. Aku tahu, itu pasti Abang yang baru pulang setelah semalaman tadi pergi melaut dengan Pak Sukir. Air mukanya tampak lelah, tanpa mengucapkan sepatah kata, aku yakin dia pasti merindukan kasur tipis di kamarnya secepat mungkin.

Menelisik Ketimpangan Sosial dan Kerusakan Ekosistem dalam Mei Salon Karya Iin Farliani

Kumpulan cerpen Mei Salon karya Iin Farliani menghadirkan alam sebagai objek hidup yang terluka, bukan sekadar latar pasif. Melalui pendekatan Sosio-Ekokritik, 16 cerita berlatar pesisir dan pegunungan ini membongkar keterkaitan antara keserakahan manusia, ketimpangan kelas, dan kerusakan moral lingkungan.

Fokus pada masyarakat marginal seperti nelayan dan perempuan salon, konflik utama digerakkan oleh krisis ekologis seperti penebangan liar, tanah longsor, dan kerusakan laut. Karakter-karakter di dalamnya digambarkan terjebak di tengah lingkungan yang tidak hanya rusak secara fisik, tetapi juga beracun secara sosial akibat kepalsuan dan pengkhianatan dalam ruang domestik.