Advertisement Section

Kala Satu Tahun Sekali

Kilauan cahaya mentari mampu menggerakkan otot dari kelopak mata gadis mungil yang kini tengah ada masalah di atas kasur. Ia masih berusaha mempertahankan meski lelap sudah terlahap kesadaran. Setelah beberapa menit lalu sempat dihantui mimpi buruk akan kejadian beberapa tahun silam, kini malah sang surya yang memaksa gadis kecil itu untuk membuka mata. Ia pun menyerah, mungkin memang sudah waktunya terjaga. Jadilah ia membuka mata diiringi decakan kesal yang keluar dari bibir tipisnya.
gadis kecil itu mencoba bangkit perlahan dengan sambil menyandarkan punggungnya ke punggung kasur. Memori pilu atas kepergian kedua orang tuanya tentu tak dapat dihapus begitu saja.Kecelakaan nahas tersebut berlangsung tanpa ia duga, menyebabkan cambukan oleh realitas terasa begitu nyata. Dan di sinilah sekarang, tinggal bersama kedua adiknya di rumah Bibi mereka, Bibi Aludra.
“Kak? Kak Athena ke sini lagi?”
Athena menoleh ke sumber suara. Venus, nama adiknya yang kedua. Usianya kini menginjak 6 tahun, entah hanya perasaan Athena saja atau tidak, ia merasa tubuh Venus lebih tinggi dan besar bila dibandingkan dengan yang ia lihat terakhir kali. Athena yang belum mempelajari lebih lanjut mengenai bagaimana proses pertumbuhan manusia berusaha tak ambil pusing.
Tetapi, apa tadi? Pertanyaan Venus terdengar sedikit ganjil. Namun lagi dan lagi Athena memaklumi hal itu.Kosakata yang Venus kuasai, belum sebanyak dirinya. Ditambah lagi adiknya belum terlalu bisa memadupadankan rangkaian kata menjadi sebuah kalimat utuh yang baik. Suatu hal yang lumrah untuk anak berusia 6 tahun.
Mata cokelat milik Athena melirik ke setiap sudut kamar. Instingnya sebagai seorang kakak membuat ia bertanya, “Lyra di mana?”
Masih dengan senyum cerah di wajah mungilnya, Venus menjawab, “Kak Ly–”
Pintu yang terbuka tiba-tiba menyebabkan penutupan Venus untuk sementara. Sorot mata cokelat orang tuanya teralih ke arah mana seorang gadis kecil lainnya berada.
“Kamu ngomong sama siapa, sih?” tanya Lyra.
Ekspresi yang Lyra tampilkan jauh berbeda dengan raut kakak dan adiknya.Dari nada suara pun Venus dapat merasakan itu. Namun hal itu tak mampu melunturkan senyum manis dari bibir tipisnya.
“Kak Athena,” jawab Venus sambil menunjuk keberadaan Athena.
Lyra terdiam. Tekukan di dahinya seketika menghilang. Anak itu memutuskan untuk mendekati Venus. Ia meraih tangan mungil Venus untuk kemudian mengajaknya keluar dari kamar. Tanpa mengatakan apapun Lyra menuntun Venus menuju ruang makan.
Venus tak menolak. Namun di sisi lain ia melirik ke belakang. Tepatnya ke arah Athena yang tampak mengikuti mereka berdua dengan langkah kecilnya.
Venus berusaha memberanikan diri untuk bertanya. “Kak Athena kenapa tidak diajak?”
Lyra tak menggetarkan pita suara sama sekali. Hanya senyum kecil nan kaku yang coba kucoba di Venus. Pertanyaan ini, bukan sekali ia dapatkan. Tetapi tetap saja anak perempuan itu belum dapat menemukan susunan kata yang pas untuk menjawab pertanyaan adiknya. Selain itu, masih ada pula dengan petuah sempat Bibi Aludra sampaikan.
Di ruang makan tampak Bibi Aludra sudah duduk di salah satu bangku. Senyum cerah ia tampilkan pada ponakan-ponakannya yang baru saja datang. Saya ngin merasa gemas, wajah bantal si bungsu Venus lah yang menjadi sasaran.
Namun kemudian senyum itu luntur saat Aludra tidak sadar, ada yang tak beres dengan senyum kaku yang Lyra tampilkan.
“Ada apa, Lyra?”
Lyra membantu Venus untuk menaiki salah satu bangku. “Biasa, Bi. Setiap satu tahun sekali.” Hanya itu yang dapat ia katakan.
Senyum pada wajah oval Aludra luntur seketika. Tak perlu Lyra menjelaskan secara lebih rinci, ia sudah dapat menerka apa yang sebenarnya terjadi. Sebab hal ini terjadi untuk yang kesekian kali.
Tak ingin ambil pusing, langsung saja Aludra mengoleskan selai cokelat pada roti bakar milik Venus. Lantas setelah salah satu sisi roti tersebut sudah terlapisi selai, ia diletakkan di atas piring yang bersebelahan tepat dengan susu cokelat. Roti dengan selai cokelat serta susu cokelat memang menjadi menu sarapan kesukaan Venus.
Sedangkan Lyra, tanpa bantuan anak itu sudah dapat menyendokkan beberapa sendok besar nasi goreng ke atas piring putih di hadapannya. Bila dibandingkan dengan Venus, Lyra memang jauh lebih suka memakan makanan berat untuk sarapan.
Baru akan membuka mulut untuk melihat pertama, tanpa sengaja mata Venus ke arah Athena. Kakak sulungnya itu tampak masih berdiri tak jauh dari meja makan dengan wajah sendu. Venus langsung turun dari tempat duduk kemudian ia menarik salah satu bangku yang berada tepat di sisi kirinya.
“Duduk sini, Kak!” ajak Venus dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
Athena yang semula menunduk sendu kini mengangkat wajah. Ia tersenyum pada adik bungsunya lalu duduk ke atas bangku yang telah Venus geser untuknya.
“Bibi Aludra, apa Venus boleh meminta tolong?” tanya Venus yang masih berdiri di samping kursi Athena.
Aludra berusaha menetralkan keterkejutan pada wajahnya. Senyum kecil ia ukir sebelum akhirnya menjawab, “Iya, kenapa, Sayang?”
“Bisa tolong tolong oleskan selai kacang ke roti ini, Bi?” Venus menyodorkan selembar roti tawar di tangan.
Dengan gerakan sedikit kaku, Aludra meraih roti tersebut. Kemudian oleskan selai kacang. Setelah itu tanpa menunggu perintah dari Venus, Aludra langsung meletakkan roti dengan selai itu ke atas piring, tepat di depan Athena.
“Terima kasih, Bibi!” kata Venus sambil tersenyum puas. Kemudian anak itu kembali duduk di kursinya.
Namun ketika akan menggigit roti, pergerakannya kembali terhenti. Sorot mata gadis kecil itu kembali mengarah pada Athena kemudian melirik Aludra.
“Bibi, kenapa Bibi tidak menuangkan susu putih kesukaan Kak Athena?”
“Venus mau kamu apa, sih?” Tentu ini bukan suara yang keluarkan Aludra.
Aludra mengelus pundak Lyra. Meminta anak perempuan itu terbawa emosi. Aludra arahkan agar Lyra kembali fokus pada nasi goreng buatannya. Setelah dirasa aman, baru kemudian Aludra bergerak menuju lemari es. Tempat di mana ia menyimpan berbagai bahan makanan. Susu UHT putih juga ada di dalam sana. Aludra segera membuka tutup dan segel dari susu tersebut.Kemudian menuangkannya ke dalam sebuah gelas yang telah ia siapkan sebelumnya. Terbit senyum kecil di bibir Aludra. Tetapi tak lama, karena ia harus menyeka setetes udara hasil kelenjar lakrimalis yang bergerak bebas pada permukaan pipi.
“Terima kasih, Bibi!” pekik Venus bahagia ketika Aludra meletakkan susu tepat di sebelah sepiring roti dengan selai cokelat di atasnya.
******
“Kenapa kita harus memakai baju berwarna hitam?” Venus mengerucutkan bibir. Dahinya pun tak luput dari tekukan. “Padahal Venus lebih suka warna ungu, Bibi,” tambahnya.
Sudah tiga kali Venus menanyakan hal yang sama. Namun tak ada jawaban dari Aludra maupun Lyra.Aludra selalu berbicara tentang topik pembicaraan Venus sudah mempermasalahkan warna baju yang tengah mereka kenakan.
“Minggu depan, kalian sudah mulai libur Panjang, ‘kan? Mau liburan ke mana?” Tangan Aludra dengan cekatan memutar setengah lingkaran kemudi mobil yang kini tengah ia kendarai.
“Ke pantai, Bi! Sudah lama sekali kita tidak ke pantai!” Lyra memberi usul.
“Ke gunung saja. Di pantai panas, cahaya matahari menusuk. Venus tidak suka,” tolak Venus.
Aludra tersenyum gemas. Antara pantai dan gunung memang sering menjadi topik topik antara Lyra dan Venus. Biasanya, si sulunglah yang menjadi penengah. Sebelum akhirnya kini hal itu tak mungkin lagi terjadi.
“Sudah. ​​Nanti kita piknik di danau saja bagaimana?”
Keduanya mengangguk setuju. Piknik di danau memang dapat menjadi solusi terbaik. Lyra dapat bermain air dan Venus dapat menikmati kesejukan.
Venus meraih salah satu snack yang berada di sisi kanannya. Lalu ia membuka makanan ringan itu dengan jari mungil. Setelah tiga tahun lalu terbebas dari ketergantungan akan bantuan Athena, kini Venus memang sudah dapat melakukan beberapa hal secara mandiri. Membuka snack adalah salah satu contohnya.
“Kak Athena mau?” tawar Venus pada Athena yang duduk tepat di sampingnya.
Sedangkan Lyra dan Aludra yang duduk di bangku bagian depan, hanya dapat saling melempar pandangan. Mulut mereka tertutup rapat.Kemudian keduanya sama-sama menghela napas.
Beberapa tujuan, akhirnya mobil yang mereka naik berhenti karena sudah sampai. Aludra membuka pintu untuk para ponakannya. Ia pun mengambil satu keranjang kecil berisi kelopak-kelopak bunga juga tiga botol air yang berada di dalam satu plastik. Mereka berjalan melewati pagar.
“Tempat–”
“Sudah ayo cepat masuk.” Lyra menarik tangan mungil Venus. Membuat gadis kecil itu bacaannya pada papan putih yang terletak tak jauh dari pagar.
Mereka berjalan satu demi satu tempat peristirahatan terakhir. Dengan Aludra di depan dan Lyra yang menggengam tangan mungil Venus. Sampai akhirnya Aludra berhenti.Tepat di depan tiga makam dengan nisan berwarna putih. Aludra berjongkok di samping salah satu nisan. Diikuti oleh Lyra. Sedangkan Venus masih berdiri tepat di depan ketiga makam tersebut.
“Evan?” Venus meliriknisan lain. Wajah Venus tampak sedikit muram. “Papa? Mama?” gumamnya kemudian.
Lalu berjalan mendekati makam ketiga. Makam yang terlihat tak asing, karena sudah lumayan sering mereka kunjungi. Venus berjongkok di samping makam tersebut. Jemari telunjuknya menunjuk tulisan yang tertulis di atas nisan.
“Athena Berlina. Lahir, 26 Februari 2008, wafat 19 Oktober 2018.” Alis Venus tampak berkerut. “Hari ini tanggal 19 oktober 2021,’
Aludra dan Lyra dengan mengangguk.
“Satu tahun sekali. Pantas saja Kak Athena berkunjung.” Venus menganggukkan kepala beberapa kali, mulai mengerti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Menurut Mahasiswa, Sistem Pembelajaran Luring Dinilai Jauh Lebih Efektif Daripada Sistem Pembelajaran Daring
Next post Demo Mahasiswa dan Ojek Online Menolak Kenaikan Harga BBM, Akses Jalan Malioboro Ditutup