Advertisement Section

Menurut Mahasiswa, Sistem Pembelajaran Luring Dinilai Jauh Lebih Efektif Daripada Sistem Pembelajaran Daring

Sistem pembelajaran di perguruan tinggi saat ini memanfaatkan dua metode utama, yaitu metode pembelajaran dalam jaringan atau lebih dikenal dengan nama “daring” dan metode luar jaringan atau “luring.” Berdasarkan hasil wawancara dengan Diva Bunga Lestari, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024, metode pembelajaran luring dinilai lebih efektif dalam membantu mahasiswa, terutama berkaitan dengan interaksi pembelajaran yang lebih interaktif. Menurut Diva, metode ini mempermudah mahasiswa dalam memahami materi karena mereka dapat melihat secara langsung penjelasan dosen serta memperoleh kesempatan untuk bertanya ketika ada hal yang kurang dipahami. Diskusi yang terjadi di dalam kelas juga dinilai lebih hidup sehingga respon mahasiswa terhadap materi lebih cepat dan tidak kaku dibandingkan dengan pembelajaran daring.

Suasana Pembelajaran Luring

Pembelajaran daring dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital seperti aplikasi Zoom Meeting atau platform pembelajaran lain, seperti Google Classroom dan platform untuk mengumpulkan tugas, seperti Google Drive. Metode ini memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa karena dapat mengikuti proses pembelajaran dari mana saja, seperti rumah, kos, kafe, maupun tempat lain selama tersedia jaringan internet. Dengan metode daring, mahasiswa tetap dapat mengikuti perkuliahan meskipun tidak berada di area kampus, namun Diva mengungkapkan bahwa pembelajaran daring sering menghadapi kendala teknis, terutama masalah jaringan internet yang tidak stabil. Gangguan jaringan tersebut terkadang membuat mahasiswa kesulitan mengikuti penjelasan dosen secara maksimal.

Suasana Pembelajaran Daring

Selain kendala teknis, Diva juga menilai bahwa pembelajaran daring memiliki keterbatasan dalam hal interaksi. Ia mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran daring terkadang terasa seperti ada batasan antara dosen dan mahasiswa karena komunikasi berlangsung melalui sebuah media. Keterbatasan interaksi ini sering menimbulkan keraguan bagi mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan atau pendapat kepada dosen. Akibatnya, mahasiswa terkadang belum sepenuhnya memahami materi yang disampaikan selama proses pembelajaran berlangsung. Berbeda jika pembelajaran dilakukan secara langsung, mahasiswa akan merasa lebih leluasa untuk menyampaikan pendapat atau pertanyaan, bahkan diskusi kepada dosen.

Dalam praktiknya, perkuliahan terkadang mengalami perubahan dari luring menjadi daring baik secara tiba-tiba maupun telah didiskusikan sebelumnya. Hal tersebut dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti adanya kesepakatan bersama antara dosen dengan mahasiswa untuk mengganti metode belajar dari luring menjadi daring atau karena dosen memiliki agenda lain yang tidak memungkinkan untuk hadir secara langsung di kelas. Diva menuturkan bahwa jika perubahan metode pembelajaran dari luring menjadi daring mendadak seperti itu terkadang menimbulkan rasa kecewa bagi mahasiswa yang telah datang ke kampus dengan harapan mengikuti perkuliahan secara langsung. Meskipun demikian, sebagai mahasiswa mereka tetap mengikuti keputusan dosen demi kelancaran proses pembelajaran. Diva juga pernah mengalami pengalaman pembelajaran yang berbeda saat berada di semester tiga. Pada saat itu, dosen datang hanya untuk memberikan instruksi kepada mahasiswa untuk mengerjakan tugas dan nantinya dosen akan kembali ke kelas untuk memeriksa tugas yang telah dikerjakan. Mahasiswa tetap diminta untuk mengerjakan tugas tersebut di dalam kelas, tidak diperkenankan dikerjakan di tempat lain dan nantinya dibawa kembali ke dalam kelas saat dosen telah kembali ke kelas.

Diva juga menilai bahwa pembelajaran daring tetap memiliki manfaat dalam kondisi tertentu, terutama ketika pembelajaran tatap muka tidak memungkinkan untuk dilakukan. Dalam situasi seperti pandemi atau ketika dosen memiliki keperluan mendesak, sistem daring menjadi alternatif agar proses perkuliahan tetap dapat berlangsung. Meskipun pemahaman yang diperoleh tidak akan sekomprehensif ketika luring, metode daring setidaknya memungkinkan mahasiswa tetap memperoleh materi dan mengikuti kegiatan perkuliahan tanpa harus menghentikan proses belajar.

 

Nama Anggota Kelompok:

Syafa Karisma Rizki Riwanda

Naila Aisya Lutfiana

Amanda Aprira Putri

Naura Zalfa Nadia Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Antara Gaya Hidup dan Produktivitas: Fenomena Kafe sebagai Ruang Belajar Mahasiswa di Jogja
Next post Kala Satu Tahun Sekali