PITA HITAM, SIMBOL KEMATIAN BUDAYA

Malam itu (5/8), suasana PKM FBS hening, tak seperti  biasanya. Hanya terlihat beberapa anak yang duduk di Pendopo PKM, sedang mengukur pita hitam. Sementara itu di Ormawa C, berkumpul mahasiswa dengan wajah-wajah tegang (lebih tepatnya sedih-red). Mereka adalah Panitia Ospek FBS dan ketua HIMA.
Dari pertemuan malam itulah, maka pada tanggal 6 Agustus 2011, elemen FBS khususnya mahasiswa baru mengadakan aksi, sebagai bentuk respon atas kejadian ricuh display UKM di GOR UNY pada tanggal 3 Agustus 2011. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas FBS terhadap KM UKM sekaligus respon terhadap gagalnya konsolidasi antara KM UKM terhadap pihak-pihak terkait (yang dianggap harus bertanggung jawab terhadap aksi balik badan-red).
“Substansi dari aksi tersebut adalah wujud rasa simpati dan iba kita terhadap kesenian yang telah dimatikan” tegas Arda Sedyoko, ketua panitia ospek FBS 2011.
Buntut dari insiden balik badan di GOR memang berlarut-larut. Beberapa kali FK UKM mengadakan rapat dengan orang-orang terkait sebagai itikad untuk menyelesaikan masalah ini. Namun ternyata hasilnya nihil. Hal ini dikarenakan Avi (FMIPA), Ngadino (FIK), Taat (FISE), serta satu orang dari FT, selalu memberikan keterangan yang berbeda setiap kali FK UKM melakukan cross check.
“Sangat disayangkan bahwa pernyataan mereka berbeda setiap kali rapat” tutur Frangky, ketua FK UKM. Dia juga merasa bingung ketika Ngadino menyatakan tertekan. Karena yang pasti pihak FK UKM sendiri hanya meminta kejujuran, dan yang terjadi malam itu dia (Ngadino-red) ngomongnya lari-lari (tidak konsisten-red).
Berkaitan dengan aksi FBS Frangky mewakili teman-teman UKM mengucapkan terima kasih atas solidaritas yang dilakukan FBS “Saya mewakili anak-anak UKM cukup senang, dalam artian FBS menunjukkan solidaritasnya untuk UKM, walaupun fakultas lain kelihatannya malah mau membunuh”. Dia bahkan mengakui bahwa aksi, baru direncanakan oleh FK UKM. Adapun long march yang dilakukan sore itu (6/8) adalah bentuk solidaritas terhadap teman-teman FBS.
“Aksi solidaritas itu dilakukan agar kita tidak diremehkan lagi. Bahwa budaya itu sangat penting. Kalau tidak mengerti budaya yang sebenarnya, kalau tidak menghargai multikultural, jangan sembarangan menyalahkan” tandas Pembantu Dekan III,  Herwin Yogo Wicaksono, M.Pd.
Berkaitan dengan adanya dekan yang justru menyalahkan FBS, PD III menyatakan tidak akan melakukan konsolidasi antar dekanat, karena itu akan masuk dalam evaluasi Pembantu Rektor (PR) III. Beliau juga menyatakan, bahwa pihak rektorat pun belum memberikan statement, karena memang belum ada pertemuan. Namun beliau yakin bahwa senior-senior FBS, akan mendukung FBS.
FK UKM pun tetap optimis meskipun ada dekan yang membekingi mahasiswanya “Karena kalau tidak memperjuangkan hal ini, apa gunanya kita di sini? Untuk apa kami berkarya kalau kami dibatasi seolah dibunuh perlahan” Frangky juga menambahkan, meskipun dengan skenario terburuk pihak rektorat akan membekukan FK UKM, dia dan teman-teman sudah siap, sembari tertawa dia menjawab “Kalau mau dibekukan, ya bekukan saja. Mungkin justru itulah bentuk perlawaan kami”. Itu berarti dia menandaskan bahwa rektorat tak akan mampu berbuat banyak, karena UKM selama ini jadi wadah kreatifitas mahasiswa.
Arda Sedyoko menyatakan bahwa acara long march dan aksi damai FBS berjalan sukses. Dia menyatakan salut dengan semangat mahasiswa untuk mendukung dan melaksanakan aksi solidaritas itu dengan semangat kendati mereka menjalankan puasa.
Meskipun begitu, tak semua mahasiswa FBS setuju dengan aksi long march, contohnya Rahmatul, maba PBI 2011 “Sebenarnya menurut saya acara kaya gitu gak perlu dilakukan, karena kalau mahasiswa gitu-gituan (demonatrasi-red) mirip anak SMA”
Arda maupun Franky sama-sama mengatakan bahwa ini bukanlah usaha terakhir untuk menyelesaikan masalah, karena FK UKM sendiri rencananya akan melakukan semacam sarasehan dengan jajaran rektorat dan seluruh ormawa di UNY.
Franky berharap agar jajaran rektorat bisa obyektif menilai. Bisa melihat bahwa ini adalah keluarga besar UNY yang punya kultur budaya, agama, dll. Semua itu bisa mendapat porsi masing-masing dan berimbang. Karena perkembangan seni dan budaya di UNY semakin tergerus dan dibunuh oleh pihak-pihak tertentu.
Oleh: Okta Adetya, Kadiv. Litbang dan Jaringan, LPPM Kreativa FBS UNY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post KEHIDUPAN DI TEMPAT LAIN
Next post Koperasi Di Tengah Arus Kapitalisme Global