
Mengungkap Realitas Kekerasan dalam Kumpulan Cerpen Keluarga Oriente Karya Armin Bell

Sumber: Dokumentasi Pribadi
Karya sastra tidak hanya menghibur pembacanya, namun juga mengangkat realita sosialat. Seperti pada buku kumpulan cerpen yang berjudul Keluarga Oriente karya Armin Bell. Buku kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri pada tahun 2024 dengan jumlah halaman 104. Harga dari buku ini sebesar Rp. 64.000,00 jika membelinya di toko online. Buku kumpulan cerpen Keluarga Oriente masuk dalam penghargaan daftar pendek (Shortlist) Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 untuk kategori Kumpulan Cerita Pendek.
Buku kumpulan cerpen Keluarga Oriente ini mayoritasnya berlatar di wilayah Flores dan sekitarnya yang menggambarkan pergulatan manusia-manusia dari berbagai profesi, taraf sosial, dan usia yang seakan tak bisa lepas dari pusaran kekerasan keseharian yang membelit. Kekerasan yang terjadi pada buku kumpulan cerpen Keluarga Oriente berupa kekerasan oleh adat dan tradisi, kekerasan oleh negara dan aparat kekuasaan, kekerasan oleh ekspansi kapital, kekerasan berbasis gender, serta kekerasan lingkungan dalam lingkungan terdekat. Armin Bell membungkus realita sosial mengenai kekerasan kedalam buku kumpulan cerpen dengan bahasa yang puitis dan tajam. Dalam buku ini terdapat 12 cerpen yang mengangkat isu sosial mengenai kekerasan yang berbeda-beda. 12 cerpen tersebut berjudul “Carlos”, “Keluarga Oriente”, “Orang Terakhir”, “Hari Minggu”, “Ingatan”, “Nada-Nada yang Rebah”, “Foto Hutan”, “Suatu Hari di Rumah Idrus”, “Menolog di Penjara”, “Bertemu Kura-Kura”, “Rahasia-Rahasia”, dan “Puisi Apa yang Kau Tulis Setelah Hari Ini?”.
Baca juga: Buletin Aksara: Dinamika Kehidupan Mahasiswa
Buku kumpulan cerpen Keluarga Oriente sangat dekat dengan sosiologi sastranya. Armin Bell secara gamblang membedah berbagai isu sosial dan representasi kekerasan struktural yang terjadi di tengah masyarakat. Berdasarkan hasil pembacaan terhadap unsur intrinsik dan ekstrinsik karya, terdapat empat indikator kekerasan utama yang dibumbui dengan realitas sejarah di Indonesia terutama di wilayah Flores. Kekerasan yang kerap kita temui dalam kehidupan berbangsa kita adalah kekerasan oleh negara dan aparat. Dalam buku ini terdapat beberapa cerpen yang menyuarakan kekerasan oleh negara dan aparat salah satunya adalah cerpen “Carlos” dan “Ingatan”. Kedua cerpen ini memperlihatkan bagaimana merepresentasikan trauma mendalam masyarakat akibat tindakan represif institusi negara dan manipulasi informasi demi melindungi korupsi mereka. Kekerasan oleh Ekspansi Kapital juga turut digambarkan di buku ini seperti pada Cerpen “Nada-Nada yang Rabah” yang menyoroti bagaimana kekuatan kapitalisme global dan industri ekstraktif menghancurkan ekosistem alam sekaligus merampas hak-hak hidup masyarakat lokal.
Buku ini juga menyoroti kekerasan oleh adat dan tradisi yang menjadi judul dari buku ini yaitu Keluarga Oriente. Masyarakat memandang adat sebagai hal luhur, namun Armin Bell secara berani membongkar sisi gelap hukum adat yang kerap dijadikan alat represi dan pengucilan demi menjaga stabilitas politik kelompok dominan.
“Berhenti dari seluruh kegiatan itu atau berhenti menjadi Oriente.” pada cerpen “Keluarga Oriente” halaman 16.
Pada kutipan tersebut dapat diketahui bahwa ketua adat dapat memegang wewenang yang tinggi hingga mengeluarkan anggota adat karena tidak sejalan dengannya. Sehingga dapat dilihat bahwa ikatan kekerabatan dapat diputus secara paksa menggunakan instrumen adat jika ada anggota keluarga yang melakukan perlawanan terhadap sistem kekuasaan. Hal terakhir yang disinggung oleh Armin Bell pada buku ini adalah kekerasan berbasis gender dan seksual. Kekerasan berbasis gender dan seksual berakar kuat pada sistem patriarki yang masih ada hingga saat ini. Sehingga hal ini dapat melegitimasi supremasi maskulin dan objektivitas terhadap tubuh perempuan. Bentuk seksual domestik digambarkan secara tragis seperti dalam cerpen “Hari Minggu”. Cerpen “Monolog di Penjara” juga menggambarkan kekerasan berbasis gender dan seksual dikarenakan menyuarakan bagaimana ego laki-laki menganggap perempuan sebagai komoditas yang bisa dikendalikan sepenuhnya.
Buku ini memberikan pandangan keberpihakan yang konsisten untuk berpihak di sisi kaum marginal dan menyuarakan jeritan para korban kekerasan yang selama ini dibungkam oleh sejarah. Armin Bell juga dapat membalut isu-isu sosio politik yang masif dan berat ke dalam bentuk diksi yang puitis, estetik, namun tetap menghujam esensinya. Narasi yang dibangun juga dari berbagai sudut pandang yang kaya, mulai dari memori murni anak-anak hingga metafora suara yang meranggas. Namun, Armin Bell menggunakan teknik open-ending serta fragmen ingatan yang meloncat-loncat sehingga dapat menimbulkan kebingungan bagi pembaca awam untuk menangkap keutuhan cerita. Terdapat ambiguitas tokoh dimana batas antara fiksionalitas dan tokoh nyata sejarah dibuat sangat tipis. Hal yang memberatkan lainnya yakni tentang tragedi yang muncul bertubi-tubi yang dapat memicu kelelahan mental pembaca.
Buku kumpulan cerpen Keluarga Oriente karya Armin Bell bukan hanya sekedar karya fiksi hiburan, melainkan sebuah dokumentasi kesaksian kritis yang merekam pusaran kekerasan struktural di Indonesia khususnya Flores dan Nusa Tenggara Timur. Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang tertarik pada sastra kontekstual yang berani menyuarakan kebenaran sejarah dan kemanusiaan. Karya ini berhasil membuktikan bahwa sastra mampu menjadi alat perjuangan kultural untuk melawan lupa.
Baca juga: Mahasiswa Sastra Inggris FBSB UNY Gelar Kampanye Penggunaan Tumbler untuk Mendukung SDGs 3
Penulis: Aprilia Tara Monica
