Advertisement Section

Keteladanan Buya Syafii Maarif dalam Perspektif Jurnalistik

Di tengah hujan informasi digital yang kian menjamur, jurnalisme menghadapi tantangan serius mengenai kebenaran, nurani, dan gengsi. Media bukan hanya ruang yang digunakan untuk menyebarkan berbagai informasi, tetapi terkadang digunakan pula sebagai pertarungan nilai. Di era ini, keteladanan sosok Buya Syafii Maarif menjadi penting untuk dihadirkan. Ahmad Syafii Maarif adalah seorang cendekiawan Muslim yang gemar menyuarakan kegelisahan bangsa ini melalui artikel yang dipublikasikan di media nasional. Seseorang yang kerap dikenal dengan panggilan Buya Syafii Maarif, lahir di Sumpur Kudus pada tahun 1935 dan sempat mengenyam pendidikan di sana. Buya kemudian berpindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Muallimin. Buya Syafii telah merantau sejak usia 18 tahun, dari Yogyakarta, Lombok, hingga Surakarta. Beliau kembali lagi ke Yogyakarta untuk berkuliah di IKIP Yogyakarta. Pendidikan beliau berlanjut lagi ke Universitas Ohio, Amerika Serikat, lewat program beasiswa Full Bright. Tidak sampai di Sana, beliau lalu melanjutkan program doktor di Universitas Chicago.

Baca Juga: Kebudayaan dalam Museum Sonobudoyo: Pengaruh Agama Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia

Selain gemar menuntut ilmu, beliau juga berkecimpung di jurnalistik. Pada tahun 1965-1972 beliau menjadi jurnalis di Suara Muhammadiyah dan bertugas sebagai korektor mengenai naskah-naskah yang masuk agar layak cetak. Beliau diangkat menjadi pemimpin redaksi pada tahun 1988-1990. Tulisan-tulisannya banyak mengangkat isu mengenai keislaman, demokrasi, dan kritik mengenai kekuasaan. Beliau kerap menyorot mengenai agama dan negara secara jelas tanpa terjebak pada pemikiran yang sempit. Beliau memiliki nama pena, yaitu Salman Lumpur, yang merupakan nama dari mending anaknya. Salman adalah seorang putra sulung Buya yang meninggal pada usia 20 bulan karena terkena penyakit cacar.  

Pendidikan yang tinggi telah membawa beliau ke titik penerbitan karya-karya yang fenomenal, beberapa di antaranya adalah “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”, “Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965)”, “Membumikan Islam”, “Memoar Seorang Anak Kampung”, dan ”Menerobs Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim”. Keteladanan Buya Syafii dalam dunia jurnalistik juga dirasakan oleh murid-muridnya, salah satunya adalah Dr. K.H. Tafsir yang saat ini diamanahi sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah. Berikut adalah tanggapan dari Dr. K.H. Tafsir (salah satu murid Buya Syafii Maarif) mengenai keteladanan Buya Syafii Maarif dalam Perspektif jurnalistik.

Baca Juga: Dibalik Pintu Kelenteng Gondomanan

Bagaimana warisan pemikiran dari Buya Syafii dapat diteruskan oleh generasi pada saat ini? 

Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita menjadi manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, perkembangan peradaban harus dikuasai, sehingga umat Islam bisa berada di barisan depan peradaban. Sebagai pengikut Nabi Muhammad, hendaknya berani berkreasi untuk membangun kreativitas budaya agar tidak terbelenggu pada dogma-dogma pemikiran ulama otentik. Sebenarnya memahami Islam melalui pendapat ulama adalah hal yang penting, namun tidak boleh jika kemudian hanya terpaku pada dogma-dogma yang ada, harus berani melakukan pembaruan agar tidak berada  di buritan peradaban. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Dr. K.H. Tafsir, “Beliau berkali-kali menyampaikan, jangan sampai umat Islam itu hanya pada posisi buritan peradaban. Buritan itu kan di belakang. Itu karena ketidakmampuan umat Islam dalam berinteraksi dengan perkembangan global. Itulah mengapa menjadi sangat penting umat Islam membangun kreativitas budaya”

Apa perbedaan gaya penulisan jurnalistik dari Buya Syafii ini dengan tokoh-tokoh yang lain? 

Tulisan karya Buya Syafii Maarif memiliki keunikan tersendiri dengan tokoh-tokoh yang lain, beliau tidak hanya melaporkan mengenai apa yang sedang terjadi, tetapi juga mengkritisi mengenai situasi yang ada. Beliau juga suka melengkapi tulisannya dengan analisis kritis dari berbagai sudut pandang sehingga bisa memahami dengan lebih komprehensif. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Dr. K.H. Tafsir, “Beliau tidak hanya sekadar menulis, tidak sekadar reportase, tapi mengkritisi, baik terhadap situasi yang ada maupun tulisan-tulisan yang telah lebih dulu ada. Sehingga tulisan yang beliau tampilkan itu sangat dinamis. Tidak pasif, tidak hanya sekadar deskripsi, tapi juga analisis,”

Baca Juga: Titik Seimbang Mahasiswa: Mengapa Mahasiswa Harus Cerdas Mengelola Diri di Ruang Digital dan Dunia Nyata?

Apa tantangan terbesar generasi muda dalam mewarisi intelektual Buya Syafii Maarif di era digital saat ini?

Tantangan generasi muda saat ini untuk mewarisi intelektual Buya Syafii adalah tantangan dari dalam diri dan luar diri. Tantangan dari dalam yang dimaksud adalah apakah seseorang tersebut memang ingin berusaha atau tidak, karena jika hanya ingin sesuatu tetapi tidak ada usaha, maka akan sia-sia. Tantangan dari luar adalah lingkungan yang kurang mendukung untuk dapat menguasai ilmu baru, seringkali terbawa arus pertemananan menyebabkan diri sendiri menjadi kurang berkembang. Sebagai generasi muda harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaring informasi digital yang serba cepat dan dinamis. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Dr. K.H. Tafsir, “Tantangan paling berat pada generasi muda untuk meneladani Buya Syafii adalah bagaimana yang Buya tekankan, yakni gerakan ilmu harus dikuasai oleh generasi muda. Generasi muda harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itulah bekal paling pokok untuk menghadapi situasi perkembangan dunia.”

Keteladanan Buya Syafii Mariif tidak hanya tercermin dari kedalaman ilmu, tetapi juga pada keberaniannya dalam menyuarakan sesuatu melalui tulisan. Di tengah tantangan era digital yang serba cepat, warisan pemikiran Buya Syafii menjadi penerang yang membimbing generasi muda untuk tetapi berpihak pada kebenaran dan kejujuran. 

Penulis: Voleta Marshaniswah

Editor: Dean Farrel Wiramada Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Membidik Filosofi Hidup Melalui Jemparingan Indoor Yogyakarta
Next post Press Release Musyawarah Anggota 2025