
Permohonan Setan Ikut Nonton Teater
Telah datang! Tiba waktunya seluruh tubuh saya dikekang.
Dulu masa-masa seperti ini sangat mengkhawatirkan saya. Bayangkan, apa-apa nilainya bisa berlipat-lipat. Yang kecil diupahi besar, yang besar diupahi tak terbayangkan, yang mohon ampun diampuni. Itu semua semacam palu godam sangat besar yang meruntuhkan bangunan buatan saya. Sangat merugikan!
Sekarang tidak! Saya dapat dengan ikhlas dan penuh ketenangan dikekang seluruh tubuh saya, bahkan bila mungkin tanpa celah untuk bergerak.
Dari sini saya bisa melihat —itu coba lihat— ada anak muda di tepi jalan raya berjalan menuju terminal. Lihatlah apa yang akan terjadi! Apa saya bilang, ia mengendap pelan-pelan ke dalam terminal dan —sangat gesit— keluar sudah membawa satu tas cantik. Pasti tas itu tidak sekadar cantik, namun juga berisi banyak uang atau perhiasan. Apa lagi? Memang itulah yang menjadi tujuan utamanya.
“Alhamdulillah,” ucapnya. “Ibu-ibu itu uangnya banyak.”
Lalu ia berjalan ke arah warung dan membeli rokok tak tanggung-tanggung tiga bungkus, lalu lekas-lekas menyulut satu batang dengan senyum yang tak lepas-lepas dari wajahnya.
“Oi, hidup ini alangkah menyenangkan kalau bisa terus begini. Alhamdulillah sekali.”
Bukankah itu lucu?
Ngakak pokoknya.
Ngekek!
Coba lihat tempat lain: sekolah. Ini menarik. Orang-orang dalam ruang lingkup ini harusnya terdidik —ya, setidaknya saya berpikir begitu. Itu dia, di belakang sebuah kelas kosong, yang letaknya tertutup oleh rimbunnya pohon-pohon hijau yang membikin rindang sekolah: hasil gagasan seorang cerdas dan peduli lingkungan.
Keduanya duduk di sebuah kursi. Saya juga heran sebenarnya, kenapa di sana ada fasilitas seperti itu yang dapat dimanfaatkan dua sejoli untuk mencari kebahagiaan. Yang jelas semua seperti diberi kemudahan takdir. Mereka merasa: memang harus terjadi.
Dalam posisi itu, tiada seorang pun dapat melihat mereka kecuali sengaja datang ke sana untuk suatu keperluan. Dalam sepi itulah yang laki-laki mulai bekerja tangannya. Ah, pandai sekali! Padahal saya dikekang dan artinya semua itu murni tanpa campur tangan atau bisik-bisik dari saya. Lihatlah, jemari laki-laki itu menyentuh punggung tangan perempuan di sampingnya. Hahaha! Hahaha!
Lucu sekali, kan, ya? Ini sungguh terjadi dan sungguh lucu. Saya permisi tertawa sebentar. Tugas saya sudah bekerja otomatis bagai teknologi modern saja di dunia.
Hanya dalam beberapa menit saja —saya mengasumsikan bisa lebih cepat sebenarnya— laki-laki dan perempuan itu sudah saling genggam tangan satu sama lain. Wow! Luar biasa. Ini murni tanpa saya goda dan macam-macam. Tatapan mata keduanya bertemu, masing-masing berusaha masuk ke ruang paling dalam bagian mata lawan tatapannya.
Sudahlah! Tanpa perlu saya lanjutkan, hadirin kiranya sudah mengerti betul, apa yang akan terjadi berikutnya. Maka, saya dapat dengan lega beralih ke hal-hal lain yang tentu saja tak kalah menarik dibanding yang barusan.
***
Saya juga menyaksikan bagaimana seorang anak mengamuki ibunya minta dibelikan Android dan motor baru sampai berani memukul punggung ibunya. Padahal bapaknya baru seminggu lalu meninggal dunia setelah berhasil saya goda agar mencuri uang di sebuah toko. Si bapak tertangkap masa dan dipukuli sampai nyawa lepas dari raganya. Saya susah mendeskripsikan perasaan saya ketika melihat dengan jelas perilaku mereka itu. ‘Kan saya juga punya orang tua! Dan ah —ini tidak boleh saya ceritakan! Rahasia!
Singkatnya seperti itulah! Saya merasa kekangan pada diri saya ini tidak berguna. Tidak beda antara saya dikekang dan tidak. Manusia toh juga seperti sudah menjadi anak didik saya yang ulung. Kemampuan mereka untuk melakukan kejahatan, kemaksiatan, atau apalah sebutannya itu sudah sangat hebat —bahkan kadang saya terheran-heran atas kemajuan kemampuan mereka yang terlalu pesat. Jempol buat manusia zaman sekarang.
Di akhir cerita ini, saya akan ajukan permohonan pada Tuhan. “Ya Tuhan, mbok ya Njenengan itu izinkan saya lepas saja. Biar saya ikut duduk manis membikin majelis bareng malaikat, buat nonton teater manusia di bumi. Ini pertunjukan hebat! Sak jose, ya Tuhan. Mereka pandai bikin adegan tak terduga. Saya pengen nonton. Saya lho, ya Tuhan, pengen juga ketawa-tawa seperti malaikat Njenengan itu. Kayak seru sekali. Beri saya welas asih Njenengan dong! Saya pengen banget, ya Tuhan. Pengeeeen banget. Please….”
Kata-kata saya beterbangan, mengudara, hancur! Lalu berpilin-pilin, berputar bagai beliung, melesat jauh entah ke mana dan jatuh di mana. Semoga, ya semoga, Tuhanlah saja tujuannya.
Hamdalah, ternyata saya bisa pakai bahasa Jawa dan Inggris dikit-dikit.
Yogyakarta, 18 Mei 2018


