
Sebenarnya Dunia Terlalu Luas untuk Dilihat dari Satu Sudut Pandang

Pikiran kelabu, doktrin yang terpaku, dan mata yang kian menyempit. Suatu hal yang diyakini benar dan yang lainnya diyakini salah. Jadi, siapa yang benar? Dan siapa yang salah? Aku juga tidak tahu. Pikiran yang semakin penuh akan pertanyaan satu, pertanyaan dua, hingga pertanyaan yang entah keberapa. Jika semakin penuh kucari saja jawabannya, pikirku. Entah takdir membawaku ke mana, aku hanya berjalan melewati deretan pertokoan kota dengan rolling door yang tertutup rapat. Lampu-lampu sorot juga ikut menerangi jalanan aspal yang basah.
Langkahku terhenti pada jalanan yang ujungnya memancarkan lampu warna merah. Riuh kendaraan dengan asap knalpot memenuhi udara malam ini. Kusandarkan tubuhku pada pagar pembatas jalan, seraya menyulut sebatang rokok. Asap rokok yang kian mengepul tinggi, namun pikiranku kian meriuh. Suara gemerincing lonceng-lonceng dengan iringan nyanyian serak mulai menusuk tajam ke telinga.
Dari kejauhan, sosok waria melangkah di sela-sela kendaraan yang tertahan oleh lampu berwarna merah. Gaun kuning terang membalut tubuh kekarnya. Bedak putih yang gagal memoles setiap kerutan di wajahnya, beradu kontras dengan gincu merah merona di bibirnya. Si bencong itu kini melangkah lurus padaku, menyodorkan kaleng dengan harapan beberapa uang receh meluncur ke dalamnya. Apa bagusnya sisa gajiku masuk ke kaleng itu? Kukibaskan tangan dengan dingin, memperlihatkan tatapan risih dan enggan yang tak berusaha aku sembunyikan. Menyadari penolakanku, ia memasang raut masam lalu berbalik pergi meninggalkanku kembali dalam sunyi yang hampa.
Baca juga: Merangkai Kehangatan melalui Gatra Kenduri di PKKMB KMSI 2026
Sebatang rokok yang telah menjadi puntung, kuempaskan ke batu trotoar kemudian menginjaknya dengan ujung sepatu yang telah usang. Sepertinya memang tak ada jawaban. Langkahku kembali menyusuri jalan kota melankolis ini. Sunyi malam menempatkan langkahku pada ujung bibir jalan menanjak yang di bawahnya disertai rumah-rumah beratap seng yang keropos. Sungguh pemukiman yang kumuh dan jauh dari kata layak. Namun anehnya perasaan ini tetap memilih untuk mengambil langkah menyusuri tanjakan itu hingga puncak.
Pada ketinggian ini, mataku menyapu hamparan rumah-rumah di bawah sana. Dari balik celah dinding-dinding tripleks yang reyot, tampak pendar hangat lampu temaram, aroma masakan sederhana yang menguar, dan samar-samar suara tawa sebuah keluarga yang saling membagi piring. Dunia yang dari bawah sana yang kuanggap kelam dan tak lazim itu, dari sudut pandang ini, justru menyimpan kehangatan yang tak pernah kutemukan di tengah gemerlap kota.
Tanpa sadar, ujung bibirku terangkat tipis. Namun saat pandanganku menyusuri petak demi petak rumah, mataku tertahan pada rumah ujung yang lebih buruk dari rumah-rumah lainnya. Dua anak kecil dengan selimut tipis tersampir di punggung tampak terjaga di ambang pintu, seperti menantikan pahlawan yang hendak pulang.
Tak lama, dari balik tangga turunan, muncul sosok pria paruh baya dengan sisa bedak dan gincu yang masih membekas di wajahnya. Gaun kuning yang kini terlipat tersampir pada tangan kanannya, sementara tangan kirinya menjinjing kantong kresek hitam.
Baca juga: Humanis dan Berbudaya: Wajah Baru Mahasiswa FBSB UNY 2026 Menuju Indonesia Emas 2045
“Bapak!”
“Bapak pulang!” kedua anak itu seketika bersorak menyambut pahlawan mereka. Dengan senyum merekah, keduanya memeluk pria yang telah dinantikan sejak tadi. Pria itu memeluk kedua putrinya, mengajaknya beranjak ke rumah yang kumuh dan usang.
Perasaanku terenyuh sakit, seketika pikiran kusutku terpintal satu-satu. Kenapa kita memikirkan mana yang benar dan mana yang salah jika kita hanya melihat dunia dari balik celah prasangka kita sendiri?
Selama ini aku memosisikan diriku seperti burung pipit kecil di antara semak-semak belukar, yang merasa paling memahami semesta hanya karena ia bisa meloncat dari satu ranting ke ranting lain. Burung pipit itu menertawakan burung peng raksasa yang membentangkan sayapnya melintasi samudra tak bertepi, sebab ukuran samudra berada di luar daya jangkau logikanya.
Mungkin memang takdirku berada di ketinggian ini, bukan sebagai seorang hakim yang lebih bijak, melainkan tamparan pedas pada sempitnya pandanganku. Sudut pandangku kini melebar bagaikan bentangan sayap burung peng yang melintasi samudra. Ternyata cinta dan tanggung jawab seringkali menyamar di balik hal-hal yang terlanjur kita label “nista”.
Baca juga: Mengukir Kebersamaan Melalui Seni: Kemeriahan dan Makna Filosofis PKKMB Pendidikan Seni Tari
Dunia ini terlalu luas, rumit, dan berdenyut untuk dirangkum hanya lewat satu jendela kebenaran. Menilai manusia dari satu sisi saja hanyalah tanda dari pikiran malas dan hati yang tumpul.
Aku berlari berbalik ke warung kelontong di pertokoan yang tadi ku lalui. Kubelanjakan sisa gajiku dengan beberapa kebutuhan ke dalam sekantong kresek besar. Langkahku semakin cepat hingga berada di depan rumah yang sedari tadi kuperhatikan dari puncak tanjakan. Sekantong kebutuhan hidup itu dibiarkan tergeletak di depan pintu. Kuketuk pintunya dan bergegas berlari pulang.
“Loh?!” gumam pria itu terkejut saat menunduk.
“Wah beras, ada mi dan telur,”
“Hore! Kita bisa makan enak,” tawa girang menyelimuti kedua anak tersebut.
Dari kejauhan, aku tersenyum dalam diam seraya beranjak pulang. Hanya itu yang bisa kuberikan sebagai tanda terima kasihku, karena telah membiarkan mataku belajar menerima keluasan samudra hidup tanpa lagi tergesa-gesa menghakimi.
Penulis: Aprilia Tara Monica
Editor: Ulfah Nuzzul Izzah

