
Seragam Sekolah

Aku memandang tumpukan kain pada kotak cokelat
Ada 3 pasang baju bertumpuk bagaikan sebuah gedung.
Setiap baju memiliki pasangan dengan warna berbeda pula
Ada warna merah, biru, dan abu-abu.
Potongan memori masa lalu kembali tersusun rapi
Aku ingat ketika aku memakai baju itu
Aku ingat rasa bangun pagi dengan tujuan yang pasti.
Aku ingat rasanya ketika mandi pagi dengan bayangan bel masuk pukul 7 pagi.
Aku ingat waktu menyusun buku pelajaran dan menggendongnya sebagai bekal.
Sekarang, masa itu sudah habis.
Kertas kelulusan sudah mendarat dengan selamat.
Pintu gerbang kehidupan orang dewasa terbuka lebar.
Aku sekarang sadar, melepas seragam sekolah itu tidak menyenangkan.
Aku ingin kembali ke masa itu.
Beban terberat hanya pelajaran matematika.
bukan bagaimana cara agar tetap hidup pada esok hari.
Seragam sekolah yang setiap hari harus selalu ada pada rak bagian atas.
Hanya akan menjadi kenangan.
Baca lainnya: Seminar Reorientasi Pers Mahasiswa: Menyuarakan yang Terpinggirkan
Penulis: Nabila Rizqi Laila Azzahra
Editor: Hana Yuki Tasha Aira


More Stories
Menelisik Ketimpangan Sosial dan Kerusakan Ekosistem dalam Mei Salon Karya Iin Farliani
Kumpulan cerpen Mei Salon karya Iin Farliani menghadirkan alam sebagai objek hidup yang terluka, bukan sekadar latar pasif. Melalui pendekatan Sosio-Ekokritik, 16 cerita berlatar pesisir dan pegunungan ini membongkar keterkaitan antara keserakahan manusia, ketimpangan kelas, dan kerusakan moral lingkungan.
Fokus pada masyarakat marginal seperti nelayan dan perempuan salon, konflik utama digerakkan oleh krisis ekologis seperti penebangan liar, tanah longsor, dan kerusakan laut. Karakter-karakter di dalamnya digambarkan terjebak di tengah lingkungan yang tidak hanya rusak secara fisik, tetapi juga beracun secara sosial akibat kepalsuan dan pengkhianatan dalam ruang domestik.
Keberadaan Perempuan di Tengah Konflik dan Syariat dalam Cerpen Cerita dari Sebelah Masjid Raya
Kumpulan cerpen Cerita dari Sebelah Masjid Raya (2024) karya Raisa Kamila memotret kehidupan masyarakat Aceh pasca-konflik, tsunami, dan di bawah hukum syariat. Fokus pada tokoh perempuan, seperti ibu korban konflik, pemudi dalam kontrol moral, dan pekerja domestik, buku ini menyoroti trauma kolektif serta interogasi kritis terhadap sejarah resmi yang kerap mengabaikan peran perempuan.
Melalui pendekatan sosiologi feminisme sastra, esai ini membedah relasi kuasa gender yang bertautan dengan struktur sosial-budaya. Latar sekitar Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar dekorasi, melainkan ruang sosiologis aktif yang membatasi, mendisiplinkan tubuh, dan membentuk perilaku tokoh dalam menghadapi dominasi patriarki serta stigma sosial.
Mengungkap Realitas Kekerasan dalam Kumpulan Cerpen Keluarga Oriente Karya Armin Bell
Karya sastra tidak hanya menghibur pembacanya, namun juga mengangkat realita sosial masyarakat. Seperti pada buku kumpulan cerpen yang berjudul Keluarga Oriente karya Armin Bell. Buku kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri pada tahun 2024 dengan jumlah halaman 104. Harga dari buku ini sebesar Rp. 64.000,00 jika membelinya di toko online. Buku kumpulan cerpen Keluarga Oriente masuk dalam penghargaan daftar pendek (Shortlist) Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 untuk kategori Kumpulan Cerita Pendek.
Gugatan Nh. Dini terhadap Belenggu Patriarki melalui Jalan Bandungan
Jalan Bandungan bukan hanya sekadar menceritakan tentang runtuhnya sebuah mahligai rumah tangga. Menurut saya, novel ini menyampaikan sebuah manifesto sastra tentang bagaimana seorang perempuan merebut kembali narasi kehidupannya. Nh. Dini berhasil menyuarakan kesetaraan gender sebagai sebuah kebutuhan mendasar bagi perempuan Indonesia umtuk dapat berdiri tegak, berpikir secara merdeka, dan menentukan nasibnya sendiri tampa harus didikte oleh bayang-bayang kuasa laki-laki, sehingga kesetaraan gender dalam buku ini bukanlah konsep barat yang asing. Buku ini tetap krusial dan relevan untuk dibaca di masa kini sebagai cermin refleksi tentang sejauh mana posisi perempuan telah bergerak di ruang publik maupun domestik itu sendiri.
The Shark Caller: Menyelami Luka dan Pengampunan di Laut Papua
Novel The Shark Caller karya Zillah Bethell merupakan kisah yang penuh makna tentang persahabatan, kehilangan, dan keberanian untuk memaafkan. Cerita ini mengambil latar di Papua Nugini, tempat yang masih sangat dekat dengan alam dan tradisi. Bethell membawa pembaca menyelami kehidupan seorang gadis muda bernama Blue Wing, yang hidup di desa nelayan kecil di tepi laut. Di sana, laut bukan hanya tempat mencari ikan, tapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan, kepercayaan, dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Melalui kisah Blue Wing, pembaca diajak mengenal dunia yang sederhana namun penuh nilai kehidupan tentang bagaimana manusia berhubungan dengan alam, dengan sesamanya, dan dengan perasaannya sendiri. Blue Wing tinggal bersama seorang pria tua bernama Siringen. Ia adalah seorang shark caller atau pemanggil hiu, seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan hiu. Tradisi ini sudah ada sejak lama di desanya dan dianggap sebagai warisan yang sakral. Blue Wing bermimpi bisa menjadi shark caller seperti Siringen, bukan karena ia ingin terkenal atau dihormati, tetapi karena ia memiliki alasan pribadi. Ia ingin memanggil hiu yang telah membunuh kedua orang tuanya. Dalam pikirannya, dengan memanggil hiu itu dan membunuhnya, ia bisa membalas dendam dan menenangkan hatinya yang terluka. Namun, perjalanan yang ia jalani justru membawa Blue Wing pada pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar balas dendam.
Laut Bercerita: Sastra Sebagai Pembuka Realitas Politik
Sastra memiliki daya untuk menjadi cermin, bahkan kritik tajam terhadap situasi sosial dan politik. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori hadir bukan hanya sebagai kisah fiksi, melainkan juga sebagai peringatan sejarah tentang luka bangsa. Melalui tokoh-tokoh yang hidup dalam narasi penuh duka, novel ini menyuarakan tragedi penculikan aktivis pada era Reformasi 1998. Di sinilah Laut Bercerita membuktikan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang bagi kebenaran yang kerap dibungkam.
