Gugatan Nh. Dini terhadap Belenggu Patriarki melalui Jalan Bandungan
Jalan Bandungan bukan hanya sekadar menceritakan tentang runtuhnya sebuah mahligai rumah tangga. Menurut saya, novel ini menyampaikan sebuah manifesto sastra tentang bagaimana seorang perempuan merebut kembali narasi kehidupannya. Nh. Dini berhasil menyuarakan kesetaraan gender sebagai sebuah kebutuhan mendasar bagi perempuan Indonesia umtuk dapat berdiri tegak, berpikir secara merdeka, dan menentukan nasibnya sendiri tampa harus didikte oleh bayang-bayang kuasa laki-laki, sehingga kesetaraan gender dalam buku ini bukanlah konsep barat yang asing. Buku ini tetap krusial dan relevan untuk dibaca di masa kini sebagai cermin refleksi tentang sejauh mana posisi perempuan telah bergerak di ruang publik maupun domestik itu sendiri.
Seragam Sekolah
[caption id="attachment_35369" align="aligncenter" width="300"] Ilustrasi Puisi (Sumber: pinterest.com)[/caption] Aku memandang tumpukan kain pada kotak cokelat Ada...
Lampu kuning
Lampu kuning temaram di ruang tengah menyala pukul lima subuh. Aku tahu, itu pasti Abang yang baru pulang setelah semalaman tadi pergi melaut dengan Pak Sukir. Air mukanya tampak lelah, tanpa mengucapkan sepatah kata, aku yakin dia pasti merindukan kasur tipis di kamarnya secepat mungkin.
The Hole Named Loneliness.
[caption id="attachment_35304" align="aligncenter" width="288"] Ilustrasi The Hole Named Loneliness.[/caption] Sore itu, langit mendung melengkapi hari pertama di bulan September. Bunga...
Rasa yang Terlalu Dalam
Engkau datang tanpa memberi salam
Pamit juga tanpa sebuah pemberitahuan
Mempermainkan perasaanku dengan begitu kejam
Menjadikan kehidupanku hanya sebuah permainan
Re dan PeRempuan
Penulis: Maman Suherman Tebal halaman: 330 halaman. "Panggil aku: Re!" "Pekerjaanku adalah pelacur!" "Lebih tepatnya, pelacur lesbian!" ...
