
The World Around Me, Hal-Hal Kecil yang Menjadi Indah
Yogyakarta — Hal-hal kecil dan sederhana bisa menjadi indah dalam suatu karya visual bagi seorang seniman. Seorang perupa jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta misalnya, membuat gejala alam yang kecil dan remeh disulap menjadi inspirasi paling mujarab untuk berkarya.
Bermula dari dialognya dengan alam, terutama musibah yang melanda bumi, Anton Afganial kemudian menggoreskan kuasnya pada kanvas dengan penuh nilai estetika. Penuh makna dan bercerita. Ia melukis bentuk mobil atau binatang, kemudian ia menindihkan banyak goresan warna.

Seperti dituliskan Bonyong Munny Ardhie dalam naskah kuratorialnya, “Karyanya berevolusi tanpa beban. Seolah ia berjalan seperti air mengalir sesuai nurani. Karya perupa ini memang tidak ada juntrung-nya. Tidak ada cerita atau maksud yang tertera pada kanvas tersebut, kecuali dengan menikmati ‘keseluruhan’ yang dirasakan.”
Anton Afganial adalah seorang perupa yang pernah belajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain, progam studi Seni Murni, ISI Surakarta. Karyanya pernah menjadi finalis Biannale Beijing #6 di Museum International China.
“The World Around Me” merupakan pameran tunggal pertamanya. Di buka pada Selasa (5/12), dan akan terus berlangsung hingga Rabu (13/12) di Bentara Budaya Yogyakarta. Pada pameran tunggal pertamanya ini, menampilkan 15 lukisan yang ia garap selama satu tahun terakhir.
“Karena memang saya merasa harus pameran tunggal. Sudah lama saya rencanain pameran tunggal, udah dari 2014. Baru bisa terlaksana hari ini, kebetulan akhir tahun,” kata Anton saat ditemui pada pembukaan pameran.

Di dorong keinginan untuk mengetahui seberapa besar ia memahami karya dan bagaimana tanggapan orang lain, ia memilih konsep yang ringan untuk menyampaikan pesannya melalui seni rupa.
“Ini tentang dunia di sekitarku. Dari dialog ketika mengalami apa pun, dari segi musibah, dari peristiwa sekitar. Saya sengaja ingin yang ringan-ringan aja, nggak mau yang berkonsep atau apa, yang penting mewakili apa yang mau saya sampaikan dulu,” tuturnya.
Anton menceritakan salah satu lukisannya yang berjudul Interconnection yang terinspirasi dari alam. Dari pertumbuhan pohon di hutan. “Sekarang itu nggak bisa kita prediksi gitu loh, tiba-tiba hilang pohonnya, itu sebenarnya berhubungan sama kita sendiri, sama orang orang yang ada di sana,” ungkapnya.
Menurut Bonyong, konsep Anton dalam melukis keluar seenaknya. Belok ke kanan atau ke kiri, bahkan “terantuk” pada konsep yang tidak bercerita apa-apa. Hal ini menjadikan ketidakjelasan maksud dan tujuan serta gambarnya sendiri.
Namun, inilah kemampuan perupa kelahiran Pamekasan ini dalam proses kreatifnya untuk mencari dan menemukan makna-makna baru.*


