Advertisement Section

Menelisik Ketimpangan Sosial dan Kerusakan Ekosistem dalam Mei Salon Karya Iin Farliani

Tampilan sampul buku kumpulan cerpen bertajuk Mei Salon (Sumber: Dokumentasi pribadi)

 

Isu alam dalam karya sastra sering kali hanya diletakkan sebagai latar tempat yang pasif, seperti gunung yang indah atau pantai yang sepi, atau sekadar menjadi simbol untuk menggambarkan perasaan tokohnya. Namun, jika kita membaca Mei Salon, sebuah buku kumpulan cerita pendek karya Iin Farliani, kita akan menemukan cara pandang yang berbeda. Di tangan Iin, alam adalah objek yang hidup dan bisa terluka. Uniknya, kerusakan alam tersebut digambarkan terikat sangat erat dengan masalah sosial di masyarakat. Melalui pendekatan Sosio-Ekokritik, esai ini akan membongkar bagaimana keserakahan manusia, ketimpangan kelas, dan rusaknya moral lingkungan saling berhubungan satu sama lain di dalam buku ini.

 

Secara garis besar, buku Mei Salon berisi 16 cerita pendek yang berlatar di wilayah pesisir pantai dan pegunungan. Cerita-cerita di dalamnya berpusat pada kehidupan masyarakat marginal atau kelas bawah, seperti nelayan, pelestari penyu, hingga perempuan salon yang menghadapi pahitnya kehidupan. Konflik utama dalam antologi cerpen ini digerakkan oleh krisis ekologis, seperti penebangan liar yang memicu tanah longsor, kerusakan ekosistem laut, serta ruang-ruang domestik yang penuh dengan kepalsuan dan pengkhianatan. Karakter-karakter di dalamnya digambarkan terjebak di tengah lingkungan yang rusak secara fisik sekaligus beracun (toxic) secara sosial.

 

Baca juga: Mahasiswa UNY Gandeng Nasi Darurat Jogja dalam Misi Satu Bungkus Nasi, Satu Langkah Menuju Zero Hunger.

 

Untuk membedah karya ini, kita menancapkan pandangan dengan teori Lawrence Buell menjadi dua fokus utama: pertama, kerusakan alam dan hilangnya ruang hidup (topofilia), yakni menyoroti bagaimana hancurnya ekosistem fisik merusak ikatan emosional dan ruang kelola masyarakat kelas bawah (environmental injustice); kedua, ketimpangan sosial dan krisis etika/tanggung jawab manusia, yaitu menyoroti bagaimana kaum penguasa melegitimasi egonya, sehingga melahirkan ketidakadilan sosial bagi kaum marginal.

 

Fokus utama pertama mengenai kerusakan alam dan hilangnya ruang hidup (topofilia) dibuktikan secara empiris melalui teks cerpen “Suatu Hari di Sekitar Tebing-Tebing Putih” dan “Sembilan Puluh Sembilan Tikungan”. Dalam cerpen “Suatu Hari di Sekitar Tebing-Tebing Putih”, kehancuran topofilia masyarakat akibat ulah eksploitatif manusia terekam jelas dalam kutipan berikut:

 

“Lahan yang telah gundul di atas tebing menjadi longsor jika turun hujan dan mereka telah melewati gundukan batu-batu besar yang menghalangi jalan akibat sisa longsor kemarin. Kristo memotret pemandangan yang membuatnya takjub sekaligus kesal. Dia berseru marah: ‘Seharusnya mereka tidak menebang pohon!'”

 

Kutipan tersebut menunjukkan dampak langsung dari kerusakan hutan terhadap keselamatan manusia. Kerusakan lahan gundul dan gundukan batu longsor merupakan hasil dari perilaku eksploitatif manusia. Kemarahan tokoh Kristo memperlihatkan kritik terhadap ketidakpedulian masyarakat atau oknum tertentu yang menebang pohon tanpa memikirkan bencana alam yang akan menimpa orang lain di kemudian hari.

 

Baca juga: Buletin Aksara: Dinamika Kehidupan Mahasiswa

 

Selanjutnya, kerusakan ruang hidup atau environmental injustice ini juga ditegaskan dalam cerpen “Sembilan Puluh Sembilan Tikungan” melalui kutipan berikut:

 

“Kudengar banyak penebang liar. Di seberangnya lagi ada jurang yang begitu dalam, tak terkira dalamnya sebab tertutupi rimbunan pohon yang meninggi. Musim penghujan juga mulai datang. Apakah Saudara tahu betapa amat berbahayanya melewati jalanan yang licin, juga sembilan puluh sembilan tikungan itu?”

 

Penjelasan ini menyoroti rasa terancam yang dialami manusia ketika alam sudah tidak lagi seimbang. Aktivitas penebangan liar menciptakan ketakutan bagi pengguna jalan karena kondisi geografis yang ekstrem menjadi berkali-kali lipat lebih berbahaya saat musim hujan. Kutipan ini menegaskan bahwa kerusakan ekosistem di satu titik akan berujung pada ancaman nyawa bagi masyarakat luas.

 

Fokus utama kedua mengenai ketimpangan sosial dan krisis etika/tanggung jawab manusia dibedah secara mendalam melalui cerpen “Fani Nirwana” dan “Sebuah Rumah Berwarna Biru”. Dalam cerpen “Fani Nirwana”, krisis etika di mana kelompok penguasa lebih mementingkan egonya daripada esensi lingkungan hidup digambarkan melalui kutipan berikut:

 

“Dan, mereka sibuk mengoceh soal baju apa yang pantas mereka kenakan. Perlukah menyablon kaos dengan jargon-jargon kelautan untuk menyambut rombongan menteri… Aku duduk diam di antara mereka. Mataku panas. Hampir menangis. Tak ada satu pun yang menghiraukanku. Apalagi mengucapkan satu saja pernyataan yang pantas bagi kelangsungan penelitianku.”

 

Kutipan ini menggambarkan fenomena sosial di mana formalitas dan citra jauh lebih diutamakan daripada substansi atau kerja nyata. Adanya ketimpangan perhatian antara penyambutan pejabat (menteri) dengan kepentingan ilmu pengetahuan (penelitian) menunjukkan kritik terhadap ketidakpedulian masyarakat atau oknum tertentu yang cenderung personalia dan egois. Tokoh utama merasa terasing dan kecil hati karena keberadaannya serta tujuannya diabaikan oleh kelompok masyarakat yang lebih memuja jabatan dan penampilan luar.

 

Baca juga: Mengungkap Realitas Kekerasan dalam Kumpulan Cerpen Keluarga Oriente Karya Armin Bell

 

Terakhir, ketimpangan dinamika hubungan antarmanusia dan hancurnya tanggung jawab moral ini memuncak dalam ruang domestik pada cerpen “Sebuah Rumah Berwarna Biru” melalui kutipan berikut:

 

“Dia ingin Jakob bertanggung jawab. Sudah kuduga. Pasti akan begini jadinya. Bagaimana, ya? Selingkuh itu tak ada penawarnya… Akulah yang memilih hubungan seperti ini, jadi bagaimana supaya kuat bertahan?”

 

Kutipan ini memotret sisi gelap hubungan antarmanusia dan moralitas dalam masyarakat. Fokusnya adalah pada konflik batin dan penerimaan atas situasi sosial yang salah (perselingkuhan) demi bisa bertahan hidup secara mental. Ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai kejujuran dalam sebuah hubungan mulai luntur, dan individu terpaksa berkompromi dengan rasa sakit atau kesalahan agar tetap memiliki tempat atau ikatan sosial tertentu.

 

Ironi yang dimunculkan dari serangkaian alur cerita dipertegas melalui simbol “Salon” yang disematkan dalam tajuk buku ini. Salon adalah ruang artifisial tempat manusia memanipulasi penampilan agar tampak cantik di luar. Iin menyindir masyarakat modern yang memperlakukan alam layaknya salon: mereka menutupi kerusakan hutan dan laut dengan istilah “pembangunan” atau “pariwisata”, padahal ekosistemnya sedang dihancurkan. Hubungan antarmanusia di dalamnya pun rusak oleh pengkhianatan, seperti yang tampak dalam cerpen “Sebuah Rumah Berwarna Biru”, di mana tokoh Nyonya Jakob memilih memendam borok rumah tangganya demi menjaga nama baik di mata tetangga.

 

Baca juga: Keberadaan Perempuan di Tengah Konflik dan Syariat dalam Cerpen Cerita dari Sebelah Masjid Raya

 

Sebagai sebuah karya sastra, Mei Salon berhasil memotret realitas lingkungan dengan bahasa yang sangat puitis namun tetap kritis. Keahlian Iin yang berlatar belakang ilmu kelautan membuat detail-detail tentang ekosistem pesisir terasa sangat nyata dan hidup.

 

Namun, jika kita menguliti buku ini lebih dalam, terdapat kelemahan pada dominasi narasinya yang terlampau suram dan pesimistis. Hampir seluruh cerita bergerak linear menuju keputusasaan dan kehancuran tanpa memberikan solusi konkret. Pembaca disuguhi bencana alam dan kebobrokan moral sebagai sesuatu yang mutlak, tanpa diberi ruang bagi munculnya kesadaran ekologis yang murni dari para tokohnya. Selain itu, penggambaran karakter antagonis, seperti para perusak lingkungan atau pegawai birokrasi, cenderung satu dimensi (stereotipikal) sebagai pihak yang jahat saja, tanpa digali sisi psikologisnya secara lebih mendalam.

 

Melalui kumpulan cerpen Mei Salon, Iin Farliani berhasil menegaskan sebuah pesan penting, yakni krisis lingkungan pada dasarnya adalah krisis kemanusiaan. Kerusakan alam bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan cermin retak dari runtuhnya moralitas dan keadilan sosial di dalam masyarakat. Meskipun dibungkus dengan atmosfer yang sangat mendung dan pesimistis, buku ini sukses menjadi alarm keras bagi kita semua bahwa keselamatan hidup manusia tidak akan pernah terwujud selama kita masih memperlakukan alam hanya sebagai objek eksploitasi.

 

Penulis: Risa Yuli Astuti

Editor: Aprilia Tara Monica

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Keberadaan Perempuan di Tengah Konflik dan Syariat dalam Cerpen Cerita dari Sebelah Masjid Raya