
Membidik Filosofi Hidup Melalui Jemparingan Indoor Yogyakarta
Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa yang memiliki beragam warisan budaya, baik Warisan Budaya Benda maupun Tak Benda (WBTB). Sebagai penyandang gelar Kota Budaya, Yogyakarta memiliki jumlah WBTB terbanyak di Indonesia yang terus berupaya melestarikan warisan ini melalui berbagai cara seperti penetapan, pendokumentasian, serta kegiatan inovatif agar tetap hidup dan bermanfaat bagi masyarakat.
Salah satu warisan budaya yang masih terus dilestarikan hingga sekarang ialah Jemparingan. Penelusuran mengenai Jemparingan ini dilakukan tim reporter dengan mendatangi Pendhapa Jemparingan yang berlokasi di Kalasan, Kabupaten Sleman dan melakukan wawancara langsung kepada pelopor Jemparingan Indoor yakni Bapak Agung Susila Hadi.
Baca Juga: Seminar Reorientasi Pers Mahasiswa: Menyuarakan yang Terpinggirkan
Seni panahan tradisional bergaya Mataraman ini kini dihidupkan kembali bukan hanya sebagai olahraga, tetapi sebagai penanaman filosofi hidup. Sebagai seorang pegiat dan edukator Jemparingan di Yogyakarta, Pak Agung membuka kisahnya kepada kami. Ia menceritakan bahwa memilih Jemparingan sebagai profesi setelah berawal dari hobi pada tahun 2014 didorong oleh keinginan melestarikan budaya dan juga pembuktian diri. “Dulu itu saya banyak dibully, dipandang sebelah mata. Terus saya jadikan profesi karena saya ingin menunjukkan pada mereka bahwa saya itu mampu,” ungkapnya.
“Jadi saya itu 2014 baru mengenal jemparingan, tapi tahun 2015 saya sudah menjadi atlit Jemparingan, atlit itu sistemnya bukan ditunjuk tapi diseleksi, seleksinya itu tahun 2014, satu tahun sebelum lomba. Saya ikut seleksi itu baru mendalami jemparingan 5-6 bulan dan lolos, dari berapa puluh orang itu hanya dipilih 4 (termasuk saya) setelah itu dipush latihan dan saya menjadi lebih tau teori-teorinya.” Ungkap Bapak Agung.
Baca Juga: Seragam Sekolah
Ketertarikan Pak Agung terhadap Jemparingan ini terus diturunkan dan disebarluaskan dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan memperkenalkan dan melatih istri dan anaknya sejak berusia 20 bulan. Hal ini adalah bentuk usaha Pak Agung agar jemparingan ini tetap memiliki penerus. Baginya, meskipun kelak bukan menjadi atlit seperti dirinya, berlatih jemparingan tetaplah perlu, dan tidak ada batasan usia untuk berlatih jemparingan.
Pada masa dahulu, panahan tradisional (Jemparingan) digunakan sebagai cara untuk berperang, namun seiring berkembangnya zaman, jemparingan ditujukan untuk edukasi, budaya, dan filosofi. Sebagai bentuk olahraga panahan tradisional, saat ini Jemparingan juga dikompetisikan dengan istilah ‘Gladhen Jemparingan.’
Berbeda dengan kegiatan panahan (Jemparingan) yang biasanya dilakukan di luar ruangan (outdoor), Jemparingan milik Bapak Agung juga pada awalnya outdoor, namun karena wabah corona melanda, terdapat larangan berkerumun di luar, maka dibuatlah Pendhapa Jemparingan yang ada di dalam ruangan (indoor).
Sebagai warisan budaya tak benda, Jemparingan memiliki sejarah yang melatarbelakanginya. Menurut Bapak Agung, secara historis, Jemparingan erat kaitannya dengan sejarah Mataram dan mengerucut pada sosok Sri Sultan Hamengkubuwono I, yang menciptakan empat filosofi mendasar yang menjadi ruh dalam Jemparingan, yaitu Sawiji (fokus), Greget (semangat), Sengguh (percaya diri), dan Ora Mingkuh (tidak mudah menyerah). Inti dari Jemparingan sendiri berasal dari kata ‘jemparing’ (panah), yang akarnya dari bahasa Jawa ‘manah’ yang berarti ‘hati’
Dalam Jemparingan, terdapat peralatan yang digunakan, hal ini juga dijelaskan oleh Bapak Agung, “Di jemparingan ada 3 peralatan pokok yaitu gendewo atau yang biasa dikenal sebagai busur, yang kedua yaitu jemparing atau yang biasa dikenal sebagai panah dan yang terakhir itu ada wong-wongan, bentuknya itu kecil ramping, sekitar 35cm dan diameter 3cm.”
Proses pembuatan alatnya, terutama busur (gendewo), membutuhkan kesabaran luar biasa. Ia menyebutkan, “Pembuatan jemparingan itu waktunya minimal 3 bulan.” Bahkan, bambu yang akan digunakan harus melalui proses yang panjang: “Bambu yang akan digunakan untuk membuat busur itu akan saya potong dan diamkan di suhu ruang selama 1 tahun untuk mengetahui awet atau tidaknya bambu tersebut.” Ia juga menunjukkan kecintaannya pada eksperimen, “Bahkan ada kayu yang saya masukkan ke dalam kolam ikan dan saya diamkan, karena saya suka bereksperimen.”
Meskipun wong-wongan termasuk peralatan pokok, Jemparingan Indoor, cenderung tidak menggunakannya, hal ini tak luput dari pertimbangan Bapak Agung dalam memahami murid-murid yang datang masih dalam tahap belajar awal. “Wong-wongan ini diibaratkan sebagai manusia, yang merah-merah di atas ini sebagai kepala, dan yang putih kebawah ini sebagai badannya. Namun di sini saya menggunakan target untuk panahan biasa, yang berbentuk lingkaran. Karena di sini saya mau mengedukasi dan kalau pakai wong-wongan yang kecil seperti ini, kalau orang yang baru belajar jemparingan kalau tidak kena kan nanti jengkel atau sedih, jadi saya menggunakan face target untuk panahan pada umumnya agar lebih mudah dikenai. Jadi sasaran jemparingan yang sebenarnya adalah wong-wongan bukan face target.” Jelas Pak Agung.
Baca Juga: Press Release Dialog Dekanat dan Mahasiswa FBSB UNY 2025
Pengunjung Pendhapa Jemparingan datang dari berbagai macam daerah yang biasanya datang dari travel agent dan dari sosial media untuk membuat konten. “Kebanyakan itu JABODETABEK, Papua juga pernah, ada Jawa Timur, Bali,” katanya tentang pengunjung domestik, sementara wisatawan mancanegara datang dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah melalui agen perjalanan. Ia menutup dengan menjelaskan sistem kunjungan yang ketat dengan sesi terjadwal dan peralatan utama.
Penulis: Intan Assafitri
Editor: Voleta Marshaniswah Armida Barrah


