Home KolomSastraCerita Pendek Generasi Menunduk

Generasi Menunduk

by Muhammad Nursaid R
349 views

Saat libur semester dua yang lalu, aku pulang ke rumah lalu bertukar cerita dengan ayah. Ayah bilang, dulu yang muda tunduk kepada yang tua. Di jalan, di masjid, di rumah, di seluruh tempat—mungkin—di Indonesia.

Anak muda itu berjalan membungkuk, menjulurkan tangannya ke bawah. Hingga tangannya itu nyaris menyentuh tanah.

Bicaranya lembut dan takzim kepada yang lebih tua, terlebih kepada guru. Berbahasa dengan bahasa kromo bagi yang bisa. Yang tidak bisa tetap menggunakan bahasa ngoko, namun dengan nada yang sopan.

Aku bertanya kepada Ayah, “Kenapa anak muda itu harus menunduk?”

Ayah bilang, itu untuk menghormati mereka yang lebih tua. Itu budaya Jawa, kata ayah. Aku lupa bertanya, Jawa mana tepatnya. Sebab, Jawa bukanlah sesuatu yang sempit.

“Ayah bilang itu terjadi di seluruh Indonesia, tapi apa seluruh Indonesia menggunakan budaya Jawa?” tanyaku ragu-ragu.

“Mungkin, anakku, ayah bilang mungkin saja. Saat seusiamu, ayah tidak berdiam diri di rumah. Memang tidak seluruh Indonesia pernah dijelajahi, tapi ayah pernah melakukan perjalanan jauh,” jawab ayah.

“Ayah, di kampusku, di Yogyakarta, budaya menunduk masih lestari. Bahkan, aku rasa, para mahasiswa di sana lebih hebat dalam hal menunduk daripada generasi ayah.”

Ayah terlihat kagum—sedang aku merasa prihatin. Budaya menunduk yang aku maksud bukan seperti yang ayah ceritakan.

“Tapi, tangannya tidak seperti akan menyentuh tanah. Tangannya lebih mirip orang yang sedang memanjatkan doa-doa panjang. Pandangan matanya berputar-putar hanya di sekitar benda yang ia pegang. Ia mengabaikan sekitar.”

Ayah terheran-heran, lalu menanyakan kepadaku benda apa yang kumaksud itu. Aku menjawab sebuah buku, awalnya.

Ayah mengangguk, “Mahasiswa memang harus begitu, kan? Begitu pun dengan kamu, kamu harus banyak membaca.”

Mata ayah menyorot ke bekas lemari pendingin yang digunakan untuk menyimpan buku. “Ayah hanya bisa mengisi buku setengahnya saja. Selanjutnya kamu yang mengisi. Agar adik-adikmu itu tertular penyakitmu juga, penyakit membaca.” Beliau tertawa kecil.

Aku melanjutkan, “Mereka hanya sesaat saja menggendong buku dengan telapak tangan. Sisanya layar datar yang—mereka pikir—dapat melakukan segalanya. Itulah yang aku maksud seperti memanjatkan doa-doa panjang.”

“Nak, ayah lebih menghargai introvert yang jarang berbicara dengan kawannya. Daripada mereka yang menunduk berjam-jam di layar datar.” Ayah mengisap rokoknya yang tinggal separuh.

Lalu, bagaimana jika intovert itu termasuk orang yang “seperti memanjatkan doa-doa panjang”? Duh, semoga bukan urusanku.

Setelah rokok ayah habis terbakar, kami bersama berjalan menuju dapur. Di ruang tengah, kedua adikku sedang bertengkar, berebut gawai milik kakak perempuanku.

Related Articles