Advertisement Section

Press Release Seminar In-Depth LPPM Kreativa 2026

LPPM Kreativa – Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa (LPPM) Kreativa mengadakan Seminar In-Depth di Ruang Seminar Gedung Pelayanan Akademik Lantai 3, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta. Seminar ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Mei 2026, pukul 08.00 WIB hingga selesai dengan mengangkat tema “In-Depth Writing : Strategi Menulis Kritis, Analitis, dan Berkualitas”.

The Shark Caller: Menyelami Luka dan Pengampunan di Laut Papua

Novel The Shark Caller karya Zillah Bethell merupakan kisah yang penuh makna tentang persahabatan, kehilangan, dan keberanian untuk memaafkan. Cerita ini mengambil latar di Papua Nugini, tempat yang masih sangat dekat dengan alam dan tradisi. Bethell membawa pembaca menyelami kehidupan seorang gadis muda bernama Blue Wing, yang hidup di desa nelayan kecil di tepi laut. Di sana, laut bukan hanya tempat mencari ikan, tapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan, kepercayaan, dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Melalui kisah Blue Wing, pembaca diajak mengenal dunia yang sederhana namun penuh nilai kehidupan tentang bagaimana manusia berhubungan dengan alam, dengan sesamanya, dan dengan perasaannya sendiri. Blue Wing tinggal bersama seorang pria tua bernama Siringen. Ia adalah seorang shark caller atau pemanggil hiu, seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan hiu. Tradisi ini sudah ada sejak lama di desanya dan dianggap sebagai warisan yang sakral. Blue Wing bermimpi bisa menjadi shark caller seperti Siringen, bukan karena ia ingin terkenal atau dihormati, tetapi karena ia memiliki alasan pribadi. Ia ingin memanggil hiu yang telah membunuh kedua orang tuanya. Dalam pikirannya, dengan memanggil hiu itu dan membunuhnya, ia bisa membalas dendam dan menenangkan hatinya yang terluka. Namun, perjalanan yang ia jalani justru membawa Blue Wing pada pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar balas dendam.

Dibalik Pintu Kelenteng Gondomanan

Di tengah kesibukan Jalan Brigjen Katamso, berdiri sebuah bangunan yang memancarkan ketenangan. Atap tersusun dengan ornamen naga, warna merah dan kuning yang tak lekang oleh waktu, serta aroma hio yang mengepul lembut. Inilah Klenteng Fuk Ling Miau, atau yang akrab disapa masyarakat Jogja sebagai Klenteng Gondomanan. Bukan hanya sekadar tempat ibadah, klenteng ini juga adalah saksi bisu perjalanan panjang harmoni antarbudaya di tanah Mataram.

From Trash to Cash: Olahan Sampah menjadi Sebuah Wayang Seni

Sampah selalu menjadi masalah kompleksitas di Yogyakarta. Salah satunya sampah plastik yang menjadi masalah lingkungan serius di Yogyakarta karena sebagian besar sampah yang dihasilkan berasal dari sampah plastik seperti botol plastik atau plastik sekali pakai yang sulit terurai. Penanganan masalah sampah ini harus dilakukan dengan kesadaran pengelola negara dan masyarakat. Keberadaan inisiatif masyarakat seperti bank sampah sangat diperlukan. Di Yogyakarta terdapat bank sampah Pa-Q-One yang mampu mengelola sampah plastik menjadi produk kreatif seperti wayang.  

Titik Seimbang Mahasiswa: Mengapa Mahasiswa Harus Cerdas Mengelola Diri di Ruang Digital dan Dunia Nyata?

Perkembangan teknologi informasi sangat berdampak dalam membawa perubahan di kehidupan sosial, khususnya di kalangan mahasiswa. Mahasiswa sebagai generasi digital tentunya sangat akrab dengan teknologi, termasuk media sosial dan game online. Saat ini media sosial dan game online sedang menjadi prioritas bagi semua orang, termasuk mahasiswa. Penggunaan media sosial dapat berdampak positif dalam memperluas jaringan sosial di dunia maya, tapi juga memiliki dampak negatif yang berisiko menurunkan kualitas komunikasi di dunia nyata. Demikian juga dengan game online yang dapat menjadi sarana hiburan dan kompetisi, namun jika digunakan secara berlebihan dapat mengganggu intensitas interaksi sosial di dunia nyata.