Advertisement Section

Pengarang Jaim dan Pengarang Pemberani

Saya selalu merasa bahwa pengarang yang berlatar belakang jurnalis, terkesan lebih berani. Sedangkan untuk yang berlatar belakang nonjurnalis, terasa lebih “jaim”.

Banyak pengarang berlatar belakang jurnalis maupun nonjurnalis yang masih produktif hingga kini. Karya-karya mereka banyak dicari dan digemari pembaca.

Tentu kita sudah banyak mengetahui pengarang berlatar belakang jurnalis. Misalnya Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, Goenawan Muhammad, Laksmi Pamuntjak, dan banyak lainnya.

Sedangkan pengarang berlatar belakang nonjurnalis, misalnya Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, Emha Ainun Najib, dan masih banyak lagi.

Mengingat tulisan ini bukan ajang untuk memperkenalkan pengarang, saya tidak perlu menyebutkan banyak contoh.

Kemarin, saya baru saja membaca kumpulan cerpen Budi Darma yang berjudul Kritikus Adinan. Sebelumnya saya juga pernah membaca novelnya yang berjudul Olenka.

Setelah membaca, saya mencoba membandingkan gaya tulisan Budi Darma dengan  tulisan Seno.

Sebelum kita berangkat ke pembahasan yang lebih luas, saya ingin sedikit memperkenalkan Budi Darma.

Selain seorang pengarang, Budi Darma juga seorang guru besar di FPBS, Universitas Negeri Surabaya.

Tulisan-tulisan Budi Darma memang lebih menonjolkan dunia psikologis tokoh-tokohnya. Misalnya, dalam kumpulan cerpen Kritikus Adinan.

Baiklah, agar tak terkesan berbohong, akan saya berikan sedikit gambaran mengenai isinya. Kritikus Adinan banyak membicarakan kisah-kisah manusia yang sifatnya ganjil.

Tokoh yang dipilih dalam ceritanya ialah manusia yang cenderung berbeda. “Dipandang sebelah mata oleh masyarakat”.

Dalam kumpulan cerpen tersebut, psikologi tokoh dikuak habis-habisan. Dari cara berpikir yang tidak masuk akal, hingga hal-hal aneh yang memengaruhi gaya pikiran tokoh.

Mungkin, gaya tulisan yang semacam ini dipengaruhi oleh tujuan utamanya menulis. Ia selalu terobsesi dengan pertanyaan-pertanyaan dari dalam dirinya yang sulit terjawab.

Akhirnya, dengan melihat kondisi kehidupan yang demikian, muncullah ide tulisan yang demikian pula.

Dari gaya tulisan tersebut, saya menjadi tertarik membandingkan tulisannya melalui pendekatan sosiologi pengarang.

Gaya tulisan Budi Darma terkesan datar. Tulisannya lebih banyak menunjukkan konflik batin. Atau mungkin bisa dibilang, ceritanya mirip cerita anak yang dibingkai dalam ekspresi filosofis.

Jika kita bandingkan dengan tulisan pengarang yang sekaligus jurnalis, tulisan pengarang yang jurnalis lebih menantang. Mungkin karena mereka banyak mengangkat konflik yang banyak kita temui dalam masyarakat (konflik sosial).

Jika Budi Darma mengatakan bahwa menulis karena didorong obsesinya, maka tidak untuk Seno.

Meskipun mereka sama-sama pengarang besar, tetapi gaya tulisan mereka jauh berbeda.

Mungkin semua itu tergantung dengan tema yang mereka pilih. Atau bisa jadi karena tujuan menulisnya.

Penulis dengan latar belakang jurnalis, layaknya Seno, lebih memusatkan tujuannya ke sejarah masa lalu. Mereka ingin berbagi tentang kejamnya peristiwa masa lalu, yang mungkin tak sempat mereka ungkapkan pada masa itu melalui tulisan.

Jika dibilang lebih berani, mungkin gaya tulisan penulis semacam Seno ini dipengaruhi oleh pengalaman langsung.

Bagi penulis nonjurnalis, mereka hanya “menyaksikan kehidupan di sekeliling mereka”.

Lalu, mereka menulisnya dengan dibumbui imajinasi mereka sendiri. Terkadang pula, bumbu-bumbu itu bersifat teoretis dan filosofis.

Lain dengan penulis berlatar belakang jurnalis. Mereka mungkin pernah terjun langsung ke dalam peristiwa yang mereka tulis. Sehingga, tulisan mereka banyak bertema sosial.

Bukan hanya untuk menyaksikan atau meliput. Tetapi, mereka juga ikut merasakan bahkan ada beberapa di antaranya ikut terlibat.

Dengan begitu, gaya tulisan mereka terkesan berani. Sebab, mereka menulis berdasarkan penghayatan. Sehingga, pembaca juga mendapatkan feel-nya.

Seperti yang dikatakan Seno, dalam esainya yang berjudul Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra yang Berbicara:

“Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana setiap penghayatannya terhadap setiap inci kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total.”

Dengan demikian, tulisan mereka terasa lebih menonjolkan keberanian. Sebab, semua peristiwa yang terjadi (entah baik atau buruk) ditulis dengan penuh kejujuran.

Mungkin, karena tuntutan pekerjaan, jurnalis lebih banyak terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting. Jurnalis tidak mungkin diam dalam zona aman.

Berbeda dengan pegawai pemerintah atau katakanlah PNS. Mereka bisa terus berada di zona amannya dan menghindari ganasnya kehidupan.

Oleh karenanya, tulisan para penulis berlatar belakang nonjurnalis mungkin terkesan “jaim”. Sebab, tema yang mereka pilih bisa jadi menurut pandangan mereka. Bukan penghayatan mereka.

Terlalu seringnya berada pada zona aman, tulisan pengarang nonjurnalis muncul dengan nada elegan. Biasanya mereka menuliskan peristiwa yang disertai nasihat bagi pembaca.

Bisa juga, tulisan mereka mengarah ke bentuk motivasi. Mungkin juga mendidik.

Sedangkan pengarang berlatar belakang jurnalis lebih menonjolkan pemberontakan batinnya. Hal ini dimaksudkan untuk menuliskan kebenaran.

Kebenaran yang saya maksudkan di sini adalah kebenaran masa lalu. Sebab, mereka memang lebih banyak menuliskan peristiwa masa lalu.

Dengan keluar dari zona aman, mungkin orang lebih peka terhadap puncak sesuatu di sekelilingnya. Sedangkan orang-orang yang memilih berada dalam zona aman, hanya sibuk dengan apa yang tampak saja.

Sehingga, segala sesuatu yang dianggap benar adalah apa saja yang berada di zona aman.

Berbeda dengan jurnalis, yang menilai bahwa kebenaran harus diungkapakan. Sekali pun harus keluar dari zona aman.

Meski demikian, anggapan di atas tidak ada yang salah. Tergantung kita melihat dari sudut pandangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Bukan Negara Agraris, tapi Sekadar Desanya yang Agraris
Next post Strategi Kognitif (Dalam Analisis Wacana)