Sadari Ragam Persamaan bukan Perbedaan
Ruang Seminar lantai 3 PLA Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakartapada hari Jumat pagi (23/1) lalu , dikunjungi mahasiswa asing dari Universiti Putra Malaysia. Acara ini diselenggarakan untuk membandingkan sistem organisasipemerintahan, kegiatan, dan pengalaman masing-masing Universitas dengan Universitas Negeri Yogyakarta sebagai tuan rumah. Studi banding tersebut diikuti oleh sekitar 10 mahasiswa Universiti Putra Malaysia yang daytang ke FBS.
Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan diawali oleh sambutan-sambutan, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video profil Fakultas Bahasa dan Seni. Setelah pemutaran video, perwakilan mengenalkan masing-masing Universitas yang dirangkum dalam sebuah diskusi, perwakilan dari Universitas Negeri Yogyakarta ialah Roni selaku Ketua BEM FBS tahun 2014 dan Tejo selaku wakil ketua BEM FBS tahun 2015, perwakilan dari Universiti Putra Malaysia ialah Cik Dini dan Cik Masliana. Moderator diskusi ini ialah Nasibah mahasiswa FBS dari Universitas Negeri Yogyakarta, dalam diskusi ini perwakilan dari Universiti Malaysia menjelaskan tentang sistem organisasi di dalam Universitas mereka yang sangat berbeda dengan sistem keorganisasian di Universitas Negeri Yogyakarta.“Sebenarnya di University Putra Malaysia dan Universitas Negeri Yogyakarata dalam struktur organisasi sangatlah berbeda karena di pengaruhi oleh background. Tetapi, dari perbedaan inilah kita dapat melihat terdapat persamaan, dari perbedaan inilah kita dapat bersatu, untuk mewujudkan generasi-generasi yang perduli terhadap dunia, dan isu-isu dunia”,jelas moderator saat menyimpulkan perbedaan sistem organisasi kedua Universitas. Dalam diskusi ini juga membahas mengenai konflik yang terjadi antara indonesia dan malaysia seperti saling klaim kebudayaan dan lain-lain. Roni selaku pembicara dari Universitas Negeri Yogyakarta mengatakan, ”Yang paling penting, tidak mencari perbedaan itu, tapi mencarilah persamaan”. Ahmad Mushaimi selaku Mahasiswa dari Malaysia juga menanggapi persoalan tersebut, “Semuanya rasa becara perintah, yang menyebabkan perpecahan. Jadi semuanya enggakpernah selesai jika soal ini di perkarakan lagi. Soalnya kita yang paling penting adalah apa yang kita sampaikan melalui budaya ini, itu yang semestinya”. Berbagai topik dibahas dalam diskusi tersebut, moderator pun membuka sesi pertanyaan untuk memperjelas masing-masing sistem di kedua Universitas. Namun sangat disayangkan mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta hanya sedikit yang mengikuti acara tersebut.
Diskusi ini berlangsung seruhingga pukul 11.35 meskipun Native Speaker dirasa kurang aktif dalam menerjemahkan bahasa Malaysia yang dinilai satu rumpun namun harus masih diterjemahkan untuk pendengar awam. Acara kemudian untuk sementara dihentikan pukul 11.40 karena istirahat dan sholat Jum’at. Acara dilanjutkan dengan closing ceremony yaitu berupa penampilan budaya dari mahasiswa FBS UNY pukul 13.00 . Diharapkan acara ini dapat menambah wawasan mahasiswa dari Malaysia dan tentunyauntuk mahasiswa FBS UNY. (Upit&tama)

