
Gugatan Nh. Dini terhadap Belenggu Patriarki melalui Jalan Bandungan

(Sumber: Gramedia Pustaka Utama)
Identitas Buku
Judul : Jalan Bandungan
Penulis : Nh. Dini
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2019 (cetakan kedua setelah 1989 oleh Penerbit Djambatan)
Tebal Halaman : 400 halaman
Genre : Novel / Sastra Feminis
Pendahuluan
Nh. Dini dikenal sebagai salah satu sastrawan perempuan Indonesia yang paling lantang dalam menyuarakan dunia perempuan. Melalui karya-karyanya, ia konsisten membedah sosok perempuan yang berada di tengah kungkungan budaya tradisional dan domestik. Novel Jalan Bandungan ini diterbitkan pertama kali pada akhir dekade 1980-an dan menjadi salah satu magnum opus yang secara tajam menyoroti isu-isu terkait kesetaraan gender, feodalisme, dan pencarian jati diri seorang perempuan yang menolak untuk sekadar menjadi konco wingking (teman di area belakang atau dapur).
Sorotan Utama Mengenai Gugatan atas Ketimpangan Gender
Hal yang paling disoroti dalam novel Jalan Bandungan karya Nh. Dini ini adalah kritik tajam terhadap konstruksi gender dalam masyarakat patriarki, khususnya yang ada dalam budaya Jawa konvensional. Nh. Dini membedah ketimpangan ini melalui beberapa aspek penting yang dapat dijabarkan sebagai berikut.
- Dekonstruksi Konsep “Masyarakat Sempurna” dan Pernikahan Konvensional
Sebelum konflik besar terjadi, Muryati digambarkan berada dalam struktur pernikahan yang menuntutnya untuk melakukan domestikasi diri. Pada masa itu laki-laki ditempatkan sebagai pemegang otoritas tunggal, sementara perempuan dianggap sebagai pelengkap status sosial suami. Nh. Dini dengan jeli memperlihatkan bagaimana represi gender tidak selalu terbentuk pada kekerasan fisik, tetapi juga berupa pembatasan ruang gerak intelektual dan emosional.
- Kemandirian Ekonomi sebagai Kunci Emansipasi
Novel ini menekankan bahwa kesetaraan gender tidak akan tercapai tanpa adanya kemandirian ekonomi. Ketika Widodo tidak lagi mampu menjalankan perannya sebagai penyokong finansial dalam keluarga, Muryati membuktikan bahwa kapasitas intelektual dan ketahanan mental perempuan mampu melampaui batasan domestik yang selama ini disematkan padanya. Pekerjaannya sebagai seorang pengajar menjadi sarana untuk bertahan hidup dan juga merupakan bentuk kedaulatan diri atas tubuh dan pikirannya.
- Keberanian Mengambil Keputusan dan Perceraian sebagai Pilihan Rasional
Pada masa novel ini ditulis, kasus perceraian terutama yang diinisiasi oleh pihak perempuan merupakan hal yang tabu dan dapat mendatangkan aib sosial yang besar. Ditambah lagi status suami Muryati yang merupakan seorang tahanan politik selama bertahun-tahun. Melalui karakter Muryati, Nh. Dini menegaskan bahwa mempertahankan pernikahan yang toksik dan timpang demi “status” atau “pandangan masyarakat” adalah sebuah bentuk penindasan. Oleh karena itu, keputusan Muryati untuk berpisah dari Widodo adalah sebuah keputusan yang sangat berani.
Baca juga: Press Release Penetapan Politik Redaksi 2026
Kelebihan Buku
- Karakterisasi yang kuat
Muryati digambarkan dengan sangat manusiawi oleh penulis. Tokoh ini tidak digambarkan sebagai pahlawan superior, melainkan sebagai seorang perempuan yang terluka dan sempat mengalami keraguan, namun ia memilih untuk terus belajar dan menguatkan diri untuk mengejar apa yang telah ia cita-citakan. Karakter seperti sahabat-sahabat Muryati yang selalu menolong juga memperkuat adanya hubungan persahabatan yang langgeng.
- Konteks Sosio-historis yang kental
Latar belakang politik Indonesia pada masa itu menjalin cerita menjadi sangat realistis dengan memberikan beban politik yang berbobot.
- Gaya bahasa yang khas
Nh. Dini menggunakan tutur bahasa yang tenang dan deskriptif, menggunakan sudut pandang Muryati yang menampilkan narasi pergulatan batinnya. Gaya penulisan ini membuat setiap alur cerita terasa tajam dan sarat akan refleksi psikologis tokoh secara mendalam.
Kekurangan Buku
Bagi pembaca yang terbiasa dengan alur cepat, tempo penceritaan Jalan Bandungan mungkin akan dirasa lambat (slow-placed) pada sepertiga awal buku, karena Nh. Dini menghabiskan banyak ruang untuk membangun detail latar tempat dan gejolak batin tokoh.
Baca juga: Peserta UTBK 2026 Padati Cine Club FBSB UNY dengan Persiapan Matang
Penutup
Jalan Bandungan bukan hanya sekadar menceritakan tentang runtuhnya sebuah mahligai rumah tangga. Menurut saya, novel ini menyampaikan sebuah manifesto sastra tentang bagaimana seorang perempuan merebut kembali narasi kehidupannya. Nh. Dini berhasil menyuarakan kesetaraan gender sebagai sebuah kebutuhan mendasar bagi perempuan Indonesia umtuk dapat berdiri tegak, berpikir secara merdeka, dan menentukan nasibnya sendiri tampa harus didikte oleh bayang-bayang kuasa laki-laki, sehingga kesetaraan gender dalam buku ini bukanlah konsep barat yang asing. Buku ini tetap krusial dan relevan untuk dibaca di masa kini sebagai cermin refleksi tentang sejauh mana posisi perempuan telah bergerak di ruang publik maupun domestik itu sendiri.
Penulis : Hana Septyaningsih
Editor : Ulfah Nuzzul Izzah

