Advertisement Section

Jolenan Somongari

Suasana Acara Jolenan di Desa Somongari.

Somongari adalah nama dari sebuah desa yang berada di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Desa ini memiliki tradisi merti desa yang berbeda dengan desa-desa yang lain. Setiap dua tahun sekali pada Selasa Wage, diadakan Tradisi Jolenan.

Jolenan, merupakan tradisi mengarak jolen sejauh 2,5 kilometer, bolak-balik ke arah timur kemudian kembali ke barat. Sejarah ini bermula dari dua anak kembar bernama Kedhana dan Kedhini yang saling mencintai. Karena keduanya memiliki hubungan darah, orang tua mereka sangat kecewa. Terusirlah keduanya dari rumah. Karena tidak memiliki modal hidup, keduanya terus berjalan mengembara sembari mengamen. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa jalan dan nyanyiannya kedua anak kembar itu diikuti oleh orang-orang sehingga membentuk rombongan yang memanjang. Rombongan itu lantas berhenti di sebuah tempat dan kemudian membentuk pedesaan yang dijuluki Desa Somongari. Dinamainya Somongari dari kata somo yang berarti sama dan ngari atau ngarai yang diyakini penduduk bukan pegunungan dan persawahan yang terjal sehingga mudah dijangkau orang dari berbagai penjuru.

Baca lainnya: UNY Catatkan 22 Tim Lolos Pendanaan PKM 2025 di Tengah Penyesuaian Kebijakan Nasional

Jolen sendiri merupakan gunungan yang terbuat dari anyaman daun aren. Dibuat dengan daun aren karena lebih tahan lama dan tidak mudah kering jika dibandingkan dengan daun kelapa. Bagi penduduk, aren berarti nggone leren yang bermakna di sinilah tempatnya berhenti. Berhenti sejenak dari segala aktivitas sehari-hari untuk kemudian melaksanakan pesta raya. Anyaman sendiri dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah nam-naman yang memiliki maksud bahwa ketika akan memutuskan suatu hal, maka semuanya harus dinam-nam atau dipikirkan baik-baik terlebih dahulu.

Bagian bawah jolen berbentuk segi empat dan semakin mengerucut ke atas seperti gunung. Masyarakat suku Jawa mempercayai adanya sedulur papan limo pancer. Bentuk jolen tersebut melambangkan hal itu. Dalam masyarakat jawa, sedulur papat limo pancer adalah perlambangan nafsu manusia yakni nafsu amarah, nafsu makan yang berlebihan, nafsu kemewahan duniawi, dan nafsu ketenangan hati.

Baca lainnya: Reviu Film Budi Pekerti

Gunungan jolen berisi hasil panen raya yang mewujud ayam panggang, tumpeng dengan segala lauk pauknya, dan berbagai hasil desa lainnya. Jolen yang telah dibuat dikumpulkan di balai desa sebelum akhirnya diarak sejauh 2,5 km bolak balik ke arah timur kemudian kembali ke barat hingga tiba kembali di halaman balai desa. Ketika jolen diarak kembali ke barat, masyarakat yang menonton di sepanjang jalan mulai berebut hasil desa yang berada di puncak jolen. Sementara yang di dalam dibagi untuk penggotong dan sebagian untuk acara kenduri di sekitar makam Kedhana Kedhini. Setelah Acara Kenduri, Festival Jolenan dilanjutkan dengan pentas tayub semalam suntuk.

Gunungan jolen.

Acara jolenan tidak hanya dinikmati oleh warga setempat. Acara ini diselenggarakan secara umum dan juga biasa dilakukan untuk menghadirkan bupati dan tokoh-tokoh penting lainnya.

 

Ditulis oleh: Hana Yuki Tassha Aira

Diedit oleh: Dean Farrel Wiramada Abdullah

12 Agustus 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post UNY Catatkan 22 Tim Lolos Pendanaan PKM 2025 di Tengah Penyesuaian Kebijakan Nasional
Next post Pentingnya Rasa Tanggung Jawab bagi Mahasiswa