Advertisement Section

Reviu Film Budi Pekerti

    Poster Film Budi Pekerti.

Identitas Film

Judul film : Budi Pekerti

Judul bahasa Inggris : Andragogy

Sutradara : Wregas Bhanuteja

Penulis : Wregas Bhanuteja

Produser : Adi Ekatama, Ridla An-Nuur, Willawati, Nurita Anandia W

Pemain : Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina

Tanggal rilis : 9 September 2023 (TIFF), 25 Oktober 2023 (Jakarta Film Week), 2 November 2023 (Indonesia)

Produksi : Rekata Studio dan Kaninga Pictures

Durasi : 110 menit

Bahasa : Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa

Negara : Indonesia

Genre : Drama

Film Budi Pekerti adalah salah satu film garapan Wregas Bhanuteja yang tayang pada tahun 2023. Film ini telah berhasil mendapatkan 17 nominasi dalam ajang Festival Film Indonesia 2023 yang menjadikan sebagai film dengan meraih nominasi terbanyak di FFI 2023. Beberapa penghargaan yang berhasil diraih pada film Budi Pekerti, yaitu Pemeran Utama Perempuan Terbaik pada Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2023 yang diraih oleh Sha Ine Febriyanti, Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik pada Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2023 yang diraih oleh Prilly Latuconsina, Penata Editing Terpuji Film Indonesia pada Festival Film Bandung 2024 yang diraih oleh Ahmad Yuniardi, dan Best International Feature Film pada Santa Barbara International Film Festival (SBIFF) 2024.

Sinopsis

Film Budi Pekerti menceritakan tentang Bu Prani, seorang guru BK yang bersikap tegas, komunikatif, penyabar, berpegang teguh pada nilai moral, serta berdedikasi tinggi di sebuah SMP di Yogyakarta yang memiliki suami dengan gangguan mental bipolar serta dua orang anak. Bu Prani mengalami pertengkaran dengan seorang pembeli lain yang menyerobot antrean saat sedang mengantre membeli kue putu Mbok Rahayu di pasar untuk suaminya. Pertengkaran Bu Prani ternyata direkam oleh pengunjung lain dan diunggah ke media sosial lalu menjadi viral. Potongan video tersebut merekam Bu Prani yang mengatakan “ah, suwi” dalam bahasa Jawa yang berarti “ah, lama”, namun video tersebut membuat banyak orang salah paham sehingga mengira Bu Prani mengatakan kata umpatan “asui” dalam bahasa Jawa yang berarti “anjing”. Sehingga, hal ini membuat Bu Prani mendapatkan kecaman publik karena dianggap tidak mencerminkan sikap seorang guru.

Baca Juga: Resensi Novel Maryam : Mereka yang Terusir Karena Iman

Bu Prani yang akan menjadi calon kuat untuk posisi wakil kepala sekolah akhirnya menjadi terancam. Kejadian viral itu tak hanya berdampak pada Bu Prani sendiri, namun keluarganya pun terkena dampak karena warganet akhirnya mengulik kehidupan Bu Prani dan keluarganya. Hal ini membuat anak bungsu Bu Prani, Muklas yang sebagai influencer dan anak sulung Bu Prani, Tita sebagai penjual baju bekas atau yang biasa disebut thrift dan juga anggota dari sebuah band yang melek terhadap isu sosial menjadi terkena dampaknya. Keduanya bertekad membantu untuk berusaha membersihkan nama keluarganya, namun malah membuat keadaan semakin parah dan membuat mereka kehilangan pekerjaan sebab kebencian publik sudah terlalu besar. Berbagai usaha telah mereka lakukan, namun tidak membuahkan hasil. Kebencian publik sudah terlalu parah. Hingga akhirnya, Bu Prani memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah dan mereka sekeluarga pindah untuk memulai kehidupan yang baru.

Ulasan

Film Budi Pekerti ini merupakan film yang mengangkat tema moralitas dalam dunia digital dan cyberbullying yang berlatar saat kondisi pandemi COVID-19. Kesehatan mental juga menjadi bagian yang diangkat di dalamnya. Film ini memberikan gambaran bagaimana seseorang dapat dengan mudah melakukan penilaian sepihak hanya dengan sebuah potongan video yang sedang viral. Hal ini selaras dengan zaman sekarang yang telah memasuki digitalisasi sehingga perkembangan teknologi dapat berkembang dengan pesat, semua orang dapat dengan mudah mendapatkan informasi maupun berita secara mudah dan cepat. Kita juga dapat melihat bagaimana masyarakat yang dengan mudah menelan informasi secara mentah- mentah tanpa mencari kejelasan dari informasi tersebut. Hilangnya moralitas masyarakat dalam bermedia sosial digambarkan secara jelas bagaimana mereka dengan mudahnya melakukan cyberbullying dan komentar apa pun tanpa dipertimbangkan. Dampak dari perilaku tersebut membuat seseorang mendapatkan cancel culture yang membuat mereka tidak diterima dalam kegiatan maupun bersosialisasi.

Dengan alur maju progresif, penonton disajikan dengan konflik yang terus berkembang dengan intens baik dari pendahuluan dengan mengenalkan latar belakang para tokoh, lalu konflik yang terjadi secara berkembang, hingga pada resolusi. Para pemain juga sangat mendalami peran mereka sehingga emosi yang mereka tampilkan dapat sampai kepada penonton hingga benar-benar merasakan konflik yang terjadi. Pendalaman karakter dapat terlihat dari Sha Ine sebagai Bu Prani yang dengan berhasil memainkan peran sebagai tokoh yang paling disorot dalam film ini, lalu ada Dwi Sasono sebagai Pak Didit yang memerankan dengan sangat baik sebagai orang yang mengidap bipolar selayaknya seseorang yang mengidap penyakit tersebut. Muklas yang diperankan oleh Angga Yunanda juga benar-benar menunjukkan perubahan yang cukup besar pada segi visual yang mana biasanya Angga memerankan laki-laki tampan pada film-film lainnya, tetapi pada film ini ia berperan sebagai laki-laki yang memiliki visual cukup nyentrik dengan rambut pirang, tindik kuping, dan pakaiannya yang membuat kesan pemuda “jamet”. Selain itu, pengembangan karakter pada beberapa tokoh juga membuat cerita semakin menarik dengan perubahan sikap yang mereka berikan. Salah satunya pada salah satu murid Bu Prani, yaitu Gora yang dulunya dia adalah anak yang suka bertengkar dan hampir di DO lalu diberikan kegiatan refleksi oleh Bu Prani untuk membantu menggali kuburan, dia akhirnya menjadi anak yang lebih baik dan menghargai hidup karena telah melihat berbagai usia yang di kubur. Namun, dia malah memiliki kebiasaan yang tidak biasa karena memiliki ketertarikan dan kenyamanan yang lebih pada kuburan sehingga harus rutin ke psikolog. Lalu ada Tunas sebagai salah satu tim redaksi media Gaung Tinta. yang mana itu adalah tempat yang sama dengan Gora bekerja, Tunas awalnya dianggap sebagai seseorang yang memiliki keinginan untuk membantu kuliner yang terdampak pandemi melalui perusahaan medianya, namun ternyata setelah terjadi masalah pada Bu Prani saat membeli putu di Mbok Rahayu, Tunas dengan timnya memperkeruh suasana dengan menyebarkan berita palsu yang hanya bertujuan untuk menarik audiens atau viewers saja demi mendapatkan keuntungan.

Pemilihan latar film di Yogyakarta yang didukung dengan sinematografi yang sangat baik mampu membantu membangun suasana yang ditampilkan dan dapat tersampaikan dengan baik. Penggunaan bahasa Jawa ngoko dan krama inggil juga disesuaikan kepada siapa yang lawan bicaranya serta dipadukan dengan bahasa Indonesia, menjadi paduan yang sudah cukup memuaskan.

Baca Juga: Mbah Melan Sang Guru Matematika: Sosok Inspiratif Bagi Anak-Anak

Film ini sangat cocok untuk ditonton karena menyampaikan beberapa nilai moral yang dapat kita ambil dan juga selaras dengan keadaan saat ini. Wregas Bhanuteja memberikan gambaran pada kita mengenai dahsyatnya dampak dari media sosial. Provokasi dan hoax mudah tersebar sehingga menyebabkan perpecahan antar masyarakat. Oleh sebab itu, melalui film ini, pelajaran yang dapat diambil adalah untuk tidak cepat menghakimi seseorang hanya dari sebuah potongan informasi atau video yang beredar. Kita harus bijak berperilaku secara kehidupan nyata karena perilaku tersebut dapat diawasi oleh orang lain, selain itu kita juga harus bisa bijak bermedia sosial dengan mencari kejelasan informasi agar tidak selalu menelan mentah-mentah berita di media sosial dan tidak bereaksi berlebihan sehingga menyebabkan cyberbullying. Jadilah warganet yang baik dengan mendengarkan pendapat dari kedua belah pihak sehingga tidak menghakimi secara sepihak saja. Bu Prani mengajarkan untuk tidak perlu takut berpegang pada prinsip kebenaran meskipun orang di sekitar kita memiliki pandangan negatif. Dan yang tak kalah penting adalah peran keluarga juga sangat utama dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi.

Kelebihan

Kelebihan pada film ini adalah tema yang diangkat sesuai dengan isu sosial yang terjadi pada saat ini. Pada era digitalisasi sekarang, krisis moral sering terjadi saat masyarakat saat bermedia sosial sehingga membuat mereka mudah melakukan cyberbullying kepada siapa pun yang tidak sesuai dengan kemauan mereka. Akting para pemain juga sangat mendalami sehingga para penonton dapat merasakan konflik yang terjadi, film ini juga mengenalkan beberapa tempat wisata di Jawa Tengah kepada para penonton seperti Tebing Breksi, Umbul Ponggok, dan pantai yang ada di Yogyakarta. Sinematografi yang sangat baik membuat suasana dalam film dapat semakin intens untuk bisa dirasakan oleh para penonton dengan pemilihan latar yang sangat sesuai dengan kehidupan masyarakat.

Kekurangan

Kekurangan dalam film ini adalah logat bahasa Jawa pada beberapa pemain terutama Muklas yang diperankan oleh Angga dan Tita yang diperankan oleh Prilly yang masih belum

Baca Juga: Museum Sonobudoyo Hadirkan Pameran Temporer “Pasar: A Glimpse Into the Past, Looking Forward to the Future”

medok sebagaimana orang Jawa dan masih terlihat bahwa itu pengucapan dari orang luar suku Jawa. Selain itu, ending pada film ini terkesan menggantung dan tidak memiliki resolusi yang jelas karena tidak ada perlawanan yang pasti untuk konflik tersebut dan juga keputusan kepindahan mereka.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, film Budi Pekerti garapan Wregas Bhanuteja yang tayang pada tahun 2023 dan telah mendapatkan banyak nominasi serta beberapa penghargaan sehingga menjadi film yang cocok direkomendasikan untuk ditonton. Meskipun terdapat beberapa kekurangan, namun bukan menjadi penghalang untuk kelayakan film ini. Keselarasan tema yang diangkat, akting para pemain dan berbagai nilai moral yang disampaikan menjadikan film ini layak untuk diapresiasi. Film Budi Pekerti menjadi pengingat untuk masyarakat agar bijak dalam bermedia sosial dan sadar untuk menjaga moral baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Penulis: Naiya Putri Alifah

Editor: Laras Mahardika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post “Tarot” .Feast: Introspeksi Diri Di Tengah Gelombang Ketidakpastian
Next post UNY Catatkan 22 Tim Lolos Pendanaan PKM 2025 di Tengah Penyesuaian Kebijakan Nasional