Sopan Santun Lemah: Malu dengan Penjajah

Soal sopan santun, Indonesia jangan ditanya lagi. Indonesia terkenal dengan keramahan warganya. Kita bisa sombong mengenai hal itu. Bahkan kita bisa menjadikannya sebagai identitas bangsa. Kita gemar menggunakan sejarah sebagai tolok ukur. Mulai dari Cornelis de Houtman, Raffles hingga kedatangan Jepang di Tarakan adalah bukti kesantunan masyarakat kita yang sangat dibangga-banggakan hingga saat ini. Budaya itu memang bagus adanya. Adalah sebuah kebanggaan memilikinya. Namun, apakah budaya itu masih lestari hingga saat ini?

Penjajah juga belajar sopan santun

Kemarin, saya membaca berita. Saya dibuat kaget sekaligus miris dengan judulnya. Survei Microsoft mengatakan Indonesia menjadi negara ASEAN yang paling tidak sopan berinternet. Semakin ke bawah saya membacanya, semakin maklum. Sehari-hari memang begitu adanya. Warganet memang sangat suka ngoceh, apapun bakal jadi sasarannya.

Ironisnya lagi, sebagian dari mereka mengaku bangga dengan ’prestasi’ itu . Namun, itu bukan apa-apa. Tidak lama setelahnya, akun media sosial Microsoft dibanjiri komentar-komentar negatif dari warganet. Dengan begitu, Microsoft sepenuhnya menang dengan survei dan bukti yang mereka alami sendiri.

Belum selesai di situ, saya dibuat lebih terkejut lagi. Hasil survei Microsoft menyatakan bahwa negeri penjajahlah yang paling sopan berinternet. Ya, Belanda. Dalam sejarah kita, mereka dulu adalah orang-orang kejam. Yang kita tahu mungkin soal kerja rodi, tanam paksa, dll. Namun, apa mungkin mereka belajar sopan santun selama 350 tahun di sini? Jadi, mereka pulang mencuri rempah-rempah dan mengambil budaya sopan santun kita. Ya, seperti itulah isi kepala saya sesaat setelah membaca hasil survei tersebut.

Bangsa ini sangat ironis

Dalam dalam keseharian kita, teori sopan santun sangat gencar diberikan kepada generasi muda. Orang tua, guru, dan masyarakat kita selalu meminta kita untuk sopan santun di antara sesama. Kita diajarkan untuk tidak menghina dan menghujat sesama. Semua hal tadi memang baik. Namun, jika hasilnya seperti yang kita lihat tadi. Bukankah sangat hipokrit untuk menyebut Indonesia sebagai negara yang ramah?

Dalam beberapa kondisi, keramahan itu memang tampak jelas dalam masyarakat. Namun, apabila diperhatikan lebih jauh lagi, budaya menghakimi dan menghina sesama juga sudah menjamur sejak dahulu. Kita saja yang malu mengakuinya. Sederhana saja, ketika ada kesempatan berkumpul, seperti arisan RT, dan rapat warga yang selalu dibumbui dengan topik gunjingan yang bisa menyasar siapa saja.

Hal itu kemudian menjadi budaya baru di internet. Mulut dan jarinya sama saja. Sama-sama lemas. Mudah sekali bergerak. Setiap ada sesuatu yang beda, pasti dengan mudah dijadikan sasaran. Biasanya figur politik dan selebriti adalah korban julid para warganet. Mereka seperti pasukan khusus yang siap kapan saja jika dibutuhkan. Mereka siap menghujani kolom komentar dengan serapah, caci maki, dan hujatan.

Sudah begitu, jejak digital pun benar-benar ditelusuri oleh mereka. Seperti yang baru-baru ini terjadi, soal perselingkuhan artis, yang juga dibanjiri komentar dari warganet. Maka dari itu, sebagian figur publik merasa takut menjadi sasaran empuk mereka.

Dari beberapa kasus yang terjadi, saya rasa tindakan Microsoft untuk memblokir akun-akun dari Indonesia sudah cukup baik untuk sementara. Setidaknya, Bill Gates tidak perlu memikirkan hal receh semacam ini. Cukup bangsa ini saja yang harus memikirkannya. Karena hal tersebut merupakan tanggung jawab bangsa ini.

Baca juga : Perempuan di Dalam KBBI

Sulit menemukan penyelesaian

Masalah ini terlalu pelik. Kehadiran UU ITE ditambah Polisi Virtual pun tak cukup mampu mengatasi hal ini. Malah dalam praktiknya, justru menimbulkan masalah baru, jauh dari cita-cita kebebasan berpendapat yang baik, yang sesuai dengan budaya sopan santun kita.

Saya tidak memiliki solusi yang pasti, saya hanya berharap masyarakat sadar atas keinginannya sendiri untuk berhenti mencampuri pada sesuatu. Toh, komentar kalian tidak akan dibaca semuanya. Pendidikan sopan santun tak hanya galak di institusi pendidikan, namun juga perlu tegas di dalam dunia maya, karena pengaruh terbesar justru ada pada media sosial, arenanya para netizen julid seperti mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Perempuan di Dalam KBBI
Next post Literasi Tidak Akan Kehilangan Kutu Bukunya