The Shark Caller: Menyelami Luka dan Pengampunan di Laut Papua
Novel The Shark Caller karya Zillah Bethell merupakan kisah yang penuh makna tentang persahabatan, kehilangan, dan keberanian untuk memaafkan. Cerita ini mengambil latar di Papua Nugini, tempat yang masih sangat dekat dengan alam dan tradisi. Bethell membawa pembaca menyelami kehidupan seorang gadis muda bernama Blue Wing, yang hidup di desa nelayan kecil di tepi laut. Di sana, laut bukan hanya tempat mencari ikan, tapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan, kepercayaan, dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Melalui kisah Blue Wing, pembaca diajak mengenal dunia yang sederhana namun penuh nilai kehidupan tentang bagaimana manusia berhubungan dengan alam, dengan sesamanya, dan dengan perasaannya sendiri. Blue Wing tinggal bersama seorang pria tua bernama Siringen. Ia adalah seorang shark caller atau pemanggil hiu, seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan hiu. Tradisi ini sudah ada sejak lama di desanya dan dianggap sebagai warisan yang sakral. Blue Wing bermimpi bisa menjadi shark caller seperti Siringen, bukan karena ia ingin terkenal atau dihormati, tetapi karena ia memiliki alasan pribadi. Ia ingin memanggil hiu yang telah membunuh kedua orang tuanya. Dalam pikirannya, dengan memanggil hiu itu dan membunuhnya, ia bisa membalas dendam dan menenangkan hatinya yang terluka. Namun, perjalanan yang ia jalani justru membawa Blue Wing pada pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar balas dendam.
Seragam Sekolah
[caption id="attachment_35369" align="aligncenter" width="300"] Ilustrasi Puisi (Sumber: pinterest.com)[/caption] Aku memandang tumpukan kain pada kotak cokelat Ada...
Dibalik Pintu Kelenteng Gondomanan
Di tengah kesibukan Jalan Brigjen Katamso, berdiri sebuah bangunan yang memancarkan ketenangan. Atap tersusun dengan ornamen naga, warna merah dan kuning yang tak lekang oleh waktu, serta aroma hio yang mengepul lembut. Inilah Klenteng Fuk Ling Miau, atau yang akrab disapa masyarakat Jogja sebagai Klenteng Gondomanan. Bukan hanya sekadar tempat ibadah, klenteng ini juga adalah saksi bisu perjalanan panjang harmoni antarbudaya di tanah Mataram.
From Trash to Cash: Olahan Sampah menjadi Sebuah Wayang Seni
Sampah selalu menjadi masalah kompleksitas di Yogyakarta. Salah satunya sampah plastik yang menjadi masalah lingkungan serius di Yogyakarta karena sebagian besar sampah yang dihasilkan berasal dari sampah plastik seperti botol plastik atau plastik sekali pakai yang sulit terurai. Penanganan masalah sampah ini harus dilakukan dengan kesadaran pengelola negara dan masyarakat. Keberadaan inisiatif masyarakat seperti bank sampah sangat diperlukan. Di Yogyakarta terdapat bank sampah Pa-Q-One yang mampu mengelola sampah plastik menjadi produk kreatif seperti wayang.
Titik Seimbang Mahasiswa: Mengapa Mahasiswa Harus Cerdas Mengelola Diri di Ruang Digital dan Dunia Nyata?
Perkembangan teknologi informasi sangat berdampak dalam membawa perubahan di kehidupan sosial, khususnya di kalangan mahasiswa. Mahasiswa sebagai generasi digital tentunya sangat akrab dengan teknologi, termasuk media sosial dan game online. Saat ini media sosial dan game online sedang menjadi prioritas bagi semua orang, termasuk mahasiswa. Penggunaan media sosial dapat berdampak positif dalam memperluas jaringan sosial di dunia maya, tapi juga memiliki dampak negatif yang berisiko menurunkan kualitas komunikasi di dunia nyata. Demikian juga dengan game online yang dapat menjadi sarana hiburan dan kompetisi, namun jika digunakan secara berlebihan dapat mengganggu intensitas interaksi sosial di dunia nyata.
Laut Bercerita: Sastra Sebagai Pembuka Realitas Politik
Sastra memiliki daya untuk menjadi cermin, bahkan kritik tajam terhadap situasi sosial dan politik. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori hadir bukan hanya sebagai kisah fiksi, melainkan juga sebagai peringatan sejarah tentang luka bangsa. Melalui tokoh-tokoh yang hidup dalam narasi penuh duka, novel ini menyuarakan tragedi penculikan aktivis pada era Reformasi 1998. Di sinilah Laut Bercerita membuktikan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang bagi kebenaran yang kerap dibungkam.
