Bahasa

Tentang Terjemahan Kitab Berbahasa Arab: Diksi

Tentang Terjemahan Kitab Berbahasa Arab Masa Kini

Meskipun mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, sebagian besar tidak memiliki akses yang memadai terhadap Bahasa Arab. Di sinilah tantangannya.

Kitab suci tidak bisa begitu saja dipahami secara harfiah. Sebagai teks yang seluruhnya merupakan firman Tuhan, kitab suci mengandung sofistikasi atau kecanggihan berbahasa yang memerlukan pemahaman dan kajian yang cermat. Selain itu, kecanggihan substansi kitab suci mendorong timbulnya berbagai kitab untuk membantu memahaminya.

Sebagian besar kitab-kitab pembantu itu ditulis dalam Bahasa Arab. Sehingga, harus dilakukan penerjemahan ke dalam bahasa yang dipahami penduduk Indonesia. Pasalnya, meskipun mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, sebagian besar tidak memiliki akses yang memadai terhadap Bahasa Arab. Di sinilah tantangannya.

Penerjemahan kitab berbahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia sering kali menghadapi hambatan dalam hal diksi atau pemilihan kata dalam bahasa Indonesia. Diksi yang tidak tepat berisiko menghasilkan terjemahan yang rancu. Oleh karena itu, sering kali hasil penerjemahan Bahasa Arab juga bergantung pada subjektivitas dan kepekaan penerjemah.

Penerjemahan dari Bahasa Arab ke Bahasa Jawa pun menghadapi tantangan yang sama. Hanya saja, Bahasa Jawa memiliki kosakata lebih banyak daripada Bahasa Indonesia. Sehingga, penerjemah memiliki banyak pilihan kata dan bisa lebih lentur dalam proses pemilihan kata.

Penerjemahan ke dalam Bahasa Jawa biasanya dilakukan di lingkungan pondok pesantren. Hasil terjemahan ditulis dengan aksara Pegon (aksara Arab dengan bunyi Bahasa Jawa). Langgam yang digunakan bisa menggunakan langgam Jawa Tengahan dan Timuran. Di lingkungan penutur Bahasa Sunda juga dilakukan penerjemahan ke dalam Bahasa Sunda.

Tantangan utamanya tetap pada masalah diksi. Penerjemah harus cermat memilih kata agar pesan dan nuansa dalam Bahasa Arab tersampaikan. Misalnya, “galau” dalam Bahasa Indonesia berarti “tidak bahagia”. Namun, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa, harus diperhitungkan kosakata yang paling tepat untuk konsep yang dirujuk oleh kata itu.

Bisa juga terjadi ada kosakata dalam Bahasa Arab yang mengandung nuansa lucu. Tapi, karena tidak ada padanan yang pas dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa, kelucuan itu tidak tersampaikan. Apalagi, dalam kasus Bahasa Jawa, untuk nomina atau kata benda paling biasa pun, misalnya “nasi”, khasanah Bahasa Jawa memiliki varian yang lumayan banyak.

Soal fonetik, tidak ada masalah dalam penerjemahan Bahasa Arab ke Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Lidah orang Indonesia, terutama yang berasal dari suku Jawa, cenderung luwes untuk menerima pelafalan kata-kata serapan dari Bahasa Arab. Tapi, tentu saja aspek linguistik hanyalah salah satu aspek dalam proses penerjemahan bahasa apa pun.

Saya sendiri sedang melakukan kajian kecil tentang aspek lain dalam proses penerjemahan Bahasa Arab ke dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia, yaitu aspek tata bahasa. Mudah-mudahan hasilnya bisa saya sampaikan secepatnya.

Sumber gambar: YouTube

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top