“Kisah Sukses Bu Inuk: Strategi Bisnis Es Buah di Pasar Ramadan Lembah UGM”

Kamis (21/3/2024) jalanan sekitar Lembah UGM yang merupakan tempat dibukanya Pasar Ramadan dipadati oleh  penjual takjil selama Ramadan. Waktu yang masih menunjukkan pukul tiga sore itu digunakan oleh sebagian penjual untuk mulai memasang tenda dagangannya, bersiap untuk menyambut ramainya pembeli menjelang berbuka puasa. Beberapa penjual mendirikan lapak dagangan untuk berjualan, sedangkan yang lainnya ada yang hanya menggunakan gerobak.

Baca juga: Resensi Novel Jalan Tak Ada Ujung

Bu Inuk salah satu pedagang yang menggunakan gerobak. Dalam kesehariannya, Bu Inuk berjualan ditemani oleh suaminya. Gerobak es buahnya yang berwarna-warni terlihat mencolok daripada lapak dagangan yang lain. Momen Ramadan dimanfaatkan beliau yang biasanya berjualan di food court UGM untuk menjajakan dagangannya di Pasar Ramadan. Meskipun hujan membuat dagangannya tidak seramai biasanya, tetapi ia tetap bersyukur karena masih mendapatkan penghasilan.

Menjual es buah merupakan pekerjaan utama Bu Inuk sehingga dari sinilah beliau mendapat penghasilan harian. Bu Inuk sudah menjalani pekerjaannya sebagai penjual es buah sejak lima belas tahun yang lalu. Sebagai penjual yang telah lama menjalani pekerjaannya, Bu Inuk juga memanfaatkan adanya teknologi untuk menambah keuntungan dengan menggunakan aplikasi belanja online  seperti ShoopeFood dan GoFood, sehingga lingkup pembelinya semakin luas. Dari hasil penjualannya selama bulan Ramadan ini biasanya Bu Inuk mendapatkan omset sekitar 500 sampai 700 ribu per hari dan masih merupakan hasil kotor.

Baca juga: Tips Naskahmu Cepat dilirik Penerbit!

Es buah yang dipatok dengan harga Rp10.000 per porsi itu tidak berencana dinaikkan oleh Bu Inuk, meskipun harga buah-buahan kian melonjak. Bu Inuk  memasang strategi penjualan dengan mengurangi jumlah potongan buah yang diberikan pada pembeli lebih sedikit daripada yang biasanya ia berikan. Dengan mengandalkan strategi ini, Bu Inuk tetap mendapatkan keuntungan seperti biasanya.

“Ya, kita mainin aja. Biasanya berapa potong. Misalkan semangka itu 5 potong, dikurangi jadi 2 potong, atau 3 potong gitu. Biar tetap untung, kalau enggak gitu ya gak untung.”

Momentum Ramadan merupakan momen yang berharga bagi beliau karena pada momen inilah hasil penjualan beliau mengalami peningkatan. Mendekati waktu berbuka merupakan saat-saat dagangannya menjadi laris oleh pembeli karena pembeli ingin menikmati waktu berbuka dengan minuman dingin dan manis. Meskipun wajah Bu Inuk terlihat kelelahan karena sehari-hari harus melayani pembeli yang memadati lapak dagangannya selama Ramadan. Akan tetapi, di balik wajah lelah Bu Inuk, beliau tampak bahagia dengan larisnya hasil jualan sehari-hari.

Baca Juga: Press Release Pendidikan dan Pelatihan Dasar LPPM Kreativa 2024

Dalam menghadapi ketidakpastian cuaca yang sering berubah-ubah dan fluktuasi penjualan, seperti kemungkinan jualan yang sepi apabila memasuki musim hujan, Bu Inuk menerima dengan lapang dada apa hasil yang akan didapatkan. Baginya, hal tersebut adalah bagian dari kehidupan dan risiko berbisnis. “Ya enggak papa. Mau gimana lagi kan,” ucapnya. Meskipun demikian, Bu Inuk tidak berniat untuk mengganti pekerjaannya dan terus bertekad untuk meningkatkan perekonomian keluarganya.

Penulis : Annisa Latifathuzahra, Ghiovita Fatika Putri

Editor : Salma Najihah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Kampung Ramadhan Jogokariyan: 20 tahun Melekat di Hati Masyarakat
Next post Gelora Pemburu Takjil Pasar Ramadan UGM, Rela Antre dan Berdesakan Menyambut Buka Puasa