Advertisement Section

Antara Gaya Hidup dan Produktivitas: Fenomena Kafe sebagai Ruang Belajar Mahasiswa di Jogja

Mahasiswa belajar di sebuah kafe di Yogyakarta.

Suasana kafe yang santai kini tidak lagi identik hanya dengan tempat berkumpul atau bersantai. Di Yogyakarta, banyak mahasiswa menjadikan kafe sebagai ruang alternatif untuk belajar dan mengerjakan tugas. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola belajar mahasiswa yang mulai memanfaatkan ruang publik sebagai tempat yang dianggap lebih mendukung produktivitas. 

 

Aulia Anggaeni, salah satu mahasiswi, mengungkapkan bahwa suasana kafe menjadi alasan utama yang mampu meningkatkan semangat belajar. “Saya memilih kafe untuk mengerjakan tugas karena suasananya beda dengan di kos. Di kos kadang sepi, jadi cepat bosan dan ngantuk. Kalau di kafe, banyak orang juga mengerjakan tugas sehingga saya lebih termotivasi,” ujarnya. Aulia menambahkan bahwa ketika belajar di kos, distraksi sering datang dari hal-hal kecil, seperti bermain media sosial dan koneksi internet yang kurang stabil. Kondisi tersebut membuat proses belajar menjadi kurang efektif. “Kalau di kos sering terdistraksi, apalagi kalau sinyal internetnya lemot. Jadi tidak mood mengerjakan tugas,” tambahnya, Sabtu (14/3). Menurutnya, kafe juga menawarkan suasana yang lebih santai dibandingkan perpustakaan. Meskipun perpustakaan dikenal sebagai tempat yang tenang untuk belajar, suasananya terkadang terasa formal bagi sebagian mahasiswa. Aulia mengatakan, “Kalau di perpustakaan memang tenang, tapi kadang terasa terlalu formal dan kita khawatir kalau berisik sedikit bisa mengganggu orang lain. Kalau di kafe suasananya lebih santai, jadi masih bisa ngobrol (diskusi) dengan teman,” imbuhnya. 

Baca juga: Titik Seimbang Mahasiswa: Mengapa Mahasiswa Harus Cerdas Mengelola Diri di Ruang Digital dan Dunia Nyata?

Selain suasana yang berbeda, fasilitas kafe juga menjadi faktor penting yang membuat mahasiswa nyaman belajar di sana. Banyak kafe yang menyediakan jaringan Wi-Fi yang cukup stabil, stop kontak untuk mengisi daya laptop, serta meja dan kursi yang nyaman untuk belajar. “Fasilitas di kafe biasanya mendukung, seperti Wi-Fi yang cukup stabil, colokan listrik, meja yang luas, kursi yang nyaman, dan pencahayaan yang bagus,” ujarnya, Sabtu, (14/3). 

 

Fenomena di kafe juga melibatkan berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa. Aulia mengaku sering mengamati pekerja bahkan bahkan dosen yang memanfaatkan kafe sebagai tempat rapat atau bekerja. “Kadang saya lihat ada orang yang bekerja di kafe, bahkan beberapa kali saya melihat siswa (pelajar) belajar di kafe untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi,” tuturnya, Sabtu (14/3). 

 

Biasanya, Aulia mengunjungi kafe bersama teman kuliah untuk mengerjakan tugas kelompok atau berdiskusi. Namun, ada kalanya ia memilih datang sendirian untuk bisa lebih fokus menyelesaikan pekerjaan. “Kalau ada tugas kelompok biasanya datang bareng teman untuk diskusi. Tapi kadang saya juga datang sendiri supaya lebih fokus,” ujarnya, Sabtu (14/3). Waktu yang paling sering dipilih mahasiswa untuk belajar di kafe adalah sore hingga malam hari. Pada siang hari, sebagian besar mahasiswa masih mengikuti perkuliahan di kampus. 

Baca juga: Pentingnya Rasa Tanggung Jawab bagi Mahasiswa

Dalam menentukan kafe, lokasi juga menjadi pertimbangan penting. Aulia mengungkapkan lebih sering memilih kafe yang berada di dekat kampus atau kos agar tidak menghabiskan banyak waktu di perjalanan. “Saya juga sering ke Kopi Kenangan karena harganya masih terjangkau dan tempatnya nyaman untuk mengerjakan tugas,” imbuhnya. Ketika berada di kafe, Aulia juga memiliki kebiasaan memilih tempat duduk tertentu agar bisa belajar dengan lebih fokus. “Saya biasanya memilih tempat di pojok ruangan dan dekat colokan listrik. Kalau laptop lowbat bisa langsung di-charge dan juga tidak terlalu terganggu oleh orang yang berlalu-lalang,” jelasnya, Sabtu (14/3). Agar waktu belajar di kafe tetap produktif, ia juga berusaha mengatur strategi sebelum datang. Salah satunya membuat daftar tugas yang harus diselesaikan. Ia juga berusaha mengurangi gangguan seperti membuka media sosial agar tetap fokus pada tugas yang sedang dikerjakan. 

 

Namun, di balik kenyamanan tersebut,ia menyadari bahwa kebiasaan belajar di kafe juga dapat memengaruhi gaya hidup mahasiswa, terutama dari segi pengeluaran. “Menurut saya, fenomena belajar di kafe memang memengaruhi gaya hidup mahasiswa. Sekarang kafe tidak hanya untuk nongkrong, tapi juga untuk belajar atau rapat organisasi,” ujarnya. Aulia menambahkan mahasiswa perlu bijak dalam mengatur keuangan ketika sering belajar di kafe. 

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa kafe kini telah berkembang menjadi ruang sosial sekaligus ruang produktif bagi mahasiswa. Dengan suasana yang nyaman dan fasilitas yang mendukung, kafe menjadi pilihan alternatif untuk belajar di tengah dinamika  kehidupan di kota pelajar Yogyakarta. 

Penulis: Kelompok 3

Editor: Kelompok 3

Dian Lutfiana

Belva Ramadhani

Hana Septiyaningsih

Diva Bunga Lestari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Mahasiswa Keluhkan Sulitnya Akses Tempat Parkir FBSB UNY
Next post Menurut Mahasiswa, Sistem Pembelajaran Luring Dinilai Jauh Lebih Efektif Daripada Sistem Pembelajaran Daring