Advertisement Section

Terkenang Memori Merah Jambu

Kenangan. Tidak peduli seberapa lama dan indah ia pernah singgah, pada akhirnya perpisahan akan tetap menyisakan resah. Kenangan adalah hantu, bayangan. Tersembunyi, tapi kau akan terus merasakan pengalamannya. Saat ia menjelma menjadi yang menusuk hati, menjadi kabut yang membuat kenangan masa depan, hanya bisa bersimpuh, jaringan, menyekaka kenangan saat lagi-lagi menyudutkanmu di ujung lorong keputusasaan. Tapi…, tidak selamanya begitu.

Kenangan yang selama ini saya kenal berbeda. Ia bukan sekedar bayangan dan ketakutan. Tetapi itu adalah alasan dari munculnya kekuatan.

Angin berhembus pelan, seperti biasa aku akan bergoyang, gerak tubuhku dengan gemerisik daun juga tampak menikmatinya. Di sampingku, seorang lelaki yang bersandar pada tiang bangunan mushola, sepertinya responnya memang kembali dengan baik. M atanya sudah berulang kali terpejam kini membola dengan sempurna, karena kehadiran perempuan itu.

TAK… TAK…                                                                                   

Ketuk secara teratur dari tongkat yang beradu dengan keramik perlahan mulai secara bergantian secara perlahan saat dasar tongkat itu bertemu dengan tanah pekarangan. Si lelaki menahan napas saat perempuan itu keluar dari rumahnya, berjalan perlahan menuju satu-satunya pohon yang jambu menaungi halamannya yang gersang. Seperti biasa akan terjulur, menyentuhnya, mengomel, lalu ia akan mengitari pohon tersebut dengan mata terpejam, tanpa ekspresi. Sendu.

Tapi aku tahu, kali ini akan ada yang sedikit berbeda. Senyum. Senyum perempuan muda itu merekah begitu cerah saat jemari dimainkan berhasil menangkup gerombolan buah jambu air yang ranum. Kelopak mata terbuka, tak lama kemudian terdengar penjelasannya, namun seolah-olah saya dapat merasakan kebahagiaannya. Kebahagiaan yang begitu sederhana. Definisi kenangan pertama, menyenangkan.

GUBRAK…                                                           

***

“Biar aku membantumu, Nona,” Lelaki yang selama berjam-jam duduk dan berdiri di balik tiang mushola itu kini sudah tergopoh-gopoh hanya berlari dan membantu perempuan muda yang baru saja tersandung seonggok batu itu. Perempuan itu menurut saja saat lelaki itu membawanya duduk beralaskan terpal tepat di bawah pohon jambunya.

“Ini milikmu?” lelaki itu membungut sebuah buku tebal yang terpental tak jauh dari tempat mereka duduk, ia membaca sempat sekilas judulnya sebelum tangan perempuan itu menggapai buku itu akhirnya darinya.

“Terima kasih,” lirihnya, ia kembali mengusap-usap lututnya yang mungkin terasa perih, butiran pasir dan kerikil yang menempel di permukaan kulitnya.

“Aku Taruna Akmil, baru lulus bulan lalu,” lelaki itu mencoba mencairkan suasana, membuka percakapan karena si perempuan yang hanya menunduk sejak lima menit lalu.

“Karena buku ini, ya?” perempuan itu tersenyum kecil di atas perkenalan tiba-tiba dari lelaki di sampingnya, matanya membocorkan kosong buku Tes Seleksi TNI-Polri dalam genggamannya.

“Buku ini seharusnya kuhadiahkan kepada orang lain…” perempuan itu tiba-tiba menjadi sendu, lengkung matanya yang seharusnya terlihat sekarang justru menutupi kelemahan. “Tapi aku tak pernah mampu melakukannya, keadaannya tidak pernah mendukungku…”

Aku tahu kalau hati pasti sejak-tiba terasa ngilu, dulu topik ini memang selalu membuat emosional. Si lelaki hanya mengangguk pelan, dari raut wajahnya terlihat jika ia bingung harus merespon bagaimana. Tiba tiba atmosfer disana menjadi hening, masing-masing dari mereka tampak sibuk berbaku hantam dengan alam bawah sadarnya, entah kisah apa yang masing-masing ingat akibat percakapan singkat itu.

***

“Arghhh… masammm!”

Si lelaki yang sedang sibuk memilih jambu air itu menoleh, tertawa kecil saat perempuan dengan dress kuning lemon itu membuang waktu melihat air yang baru saja di petinya sendiri. Dengan wajah yang sudah mengernyit tidak karuan, ia mengecap-ngecapkan mulutnya mencoba menghilangkan rasa asam yang membuat seluruh tubuh bergerak. Terhitung sudah hari ketiga sejak si perempuan selalu memilih buah yang mentah.

“Kamu nggak lihat kalau jambunya masih hijau?” di akhiri dengan kekehan, lelaki tadi menyerahkan jambu air yang baru saja di pilihnya, seperti kemarin-kemarin. Berwarna merah muda, telah matang sempurna, terlihat segar di tengah-tengah pada siang hari yang terik.

Si perempuan seperti biasa hanya menunduk, tersenyum canggung, malu karena ketahuan selalu memilih buah yang salah. Tanpa banyak bicara, segera saja membagi jambu itu menjadi dua potongan, potong lalu dia tersenyum.

Hatiku turut tersenyum, terasa lega saat melihat pemandangan di bawah sana, walau perempuan itu tidak mengatakan apa-apa, tapi aku tahu kalau momen siang ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rindunya. Rindu akan duduk di bawah rindang pohon, menikmati semilir angin, memetik berdua-setelah bermusim-musim lewat diri mengecap rasa pahit dan hambar ditemani ditemani.   

“Manis, kan?”

Perempuan itu mengangguk, binar merah dari matanya kembali muncul.

“Spesial untukmu, hahaha…” ujar si lelaki sebelum ia kembali beranjak, memetik buah yang lain untuk mereka makan berdua.

Tapi, tiba-tiba perempuan itu tersenyum getir. Seakan ada aliran listrik yang di seluruh tubuhnya begitu si lelaki mengucap kata spesial , rasanya seperti di tarik melewati dimensi dimana ia merasa pernah jatuh cinta—karena perlakuan yang sama. Ia memilih diam dan tidak mengambil makannya, menunggu si lelaki duduk menghampirinya lagi. K ebenaran kali ini ia memang benar-benar harus memastikan sesuatu.

“Oh iya, namaku Rinai, kamu?” perempuan itu sedikit menoleh, memasang ekspresi seceria mungkin. Aneh, memang tapi ini adalah perkenalan pertama yang seharusnya sudah ia temukan sejak dua hari yang lalu, saat pertama kali lelaki itu menghampirinya dan duduk di sampingnya.

“Rumah ini baru ya? di sebelah mushola ini dulu hanya tanah kosong…”

Rinai mengernyitkan dahinya heran saat lelaki itu tiba-tiba berdiri, tidak mengacuhkan salam dan perkenalannya, seolah menghindar dari jawaban yang seharusnya ia dengar. Tak ayal, sikap lelaki itu membuat Rinai merasa semakin kalut. Ia takut jika apa yang ada di benaknya ternyata hanyalah khayalannya. Tapi ia tetap berusaha menjawab senormal mungkin, meraih tongkatnya untuk membantunya berdiri.

“Ahh… iya, rumah ini memang baru aku beli satu tahun yang lalu, komplek perumahan baru, beruntung sekali pohon ini tidak ikut ditebang. Kau… sepertinya kenal daerah ini dengan baik, ya?” tebak Rinai.

“Ahh… tidak terlalu. Hanya saja saat masih SMA aku cukup sering lewat disini, sudah empat atau lima tahun yang lalu, ya?” si lelaki terkekeh, mengungkapkan pada ujungnya yang kemudian menendang satu doa kecil. Nampaknya sesuatu memang sedang mendera pikirannya.

“Tinggal disini membuat saya merasa lebih hidup,” ujar Rinai seraya menyentuh batang pohonnya, merasakan guratan-guratan kulitnya, mengangkat tangan yang bertemu dengan berkumpul dan berkumpul bersama buah-buahan yang masak.

Lelaki itu hanya diam dan menunggu, sudah sesuai dengan kebiasaan perempuan itu sejak beberapa hari yang lalu. Rinai pasti akan mengitari pohon jambu air itu, seperti sedang berkomunikasi, mengenang sesuatu, seolah-olah pohon jambu itu adalah hal berharga dalam hidupnya, satu-satunya teman yang setia. Raut sendu menempel pada wajah manisnya, terbalik dengan tawa cerianya beberapa saat lalu.

“Apa pohon ini sangat berharga?”

“Eumm,” angguk perempuan itu. Ia menghela napas panjang, membuka lurus ke arah matahari yang sedang terik-teriknya, pandangannya menerawang jauh menembus sela-sela dan mengomel, seolah tidak terganggu dengan tajamnya mentari yang membuat bola mata mengilat merah.

“Karena pohon ini, saya pernah merasakan masa-masa membahagiakan. Tapi karenanya aku juga pernah terpuruk, lalu ia menjadi alasanku untuk bangkit. Setiap kali aku menyentuh pohon ini, bercerita tentang seseorang langsung merambat ke otakku. Setiap aku menggigit buahnya, rasa asam dan manis bercampur itu menjadi satu. Aku merasakan rindu yang menyesakkan dan bahagia yang membuncah karena mengingatnya dalam waktu bersamaan…”

“Tepat di bawah bayangan pohon ini, saya pernah merasakan teduhnya cinta dan perlindungan dari seseorang, bersamaan dengan ranumnya buah di sini, saya merasa manisnya cinta pertama. Tapi kau tahu apa yang terjadi kemudian?” Rinai menjeda ceritanya, dari sini aku dapat melihat jelas kalut dari lelaki itu.

“Yang tidak aku tau, ternyata sebelum aku sempat mengakui semuanya, ia justru pergi dengan sakit, tapi aku tetap menunggunya, meski aku memintanya. Aku tau memang begitu, tak pernah mau mengakui sesuatu. Jadi aku tetap menunggunya, dan kagum dengan video ini. Aku hanya ingin mendukungnya, aku sangat ingin mendukungnya yang selalu pura-pura kuat bertahan sendirian. Aku juga ingin mendukung cita-citanya…”

“Nay…” lelaki di sana tiba-tiba saja merintih pilu, membocorkan nanar perempuan bermata sipit itu dengan pandangan penuh luka, berulang kali terbuka namun tidak ada kata yang akhirnya terucap.

“Kamu siapa?!” bentak Rinai, aku melihat air mata sudah meleleh di pipinya yang memerah, “Selama ini tidak ada yang memanggilku Nay…. K-kecuali… Kalau kamu…”

“Kenapa kamu tidak mengenaliku? Ini aku! Tatap mataku, Nay!” lelaki itu mencengkeram kedua sisi bahu Rinai, memaksa perempuan itu beradu tatap dengannya. Sungguh, lelaki itu sangat tidak mengerti, mengapa Rinainya begitu aneh. “Kamu mengenaliku, kan? Mengapa kamu pura-pura tidak tahu dan malah membahas masa lalu?

“Aku nggak bisa, Ga…”

“Apanya yang nggak bisa? Kita sudah bertemu tiga hari terakhir, berhari-hari aku menunggumu di beranda mushola itu, mengapa kamu tidak mengenaliku? Kenapa kenapa-pura? Mengapa kamu pakai tongkat? Kamu sakit apa, Nay?!”

BACA JUGA: Dia dan Mesin Waktu di Penghunung Senja

Hancur. Perempuan itu hancur, apa yang akhir-akhir ini ia bayangkan ternyata bukan harapan belaka, bukan  pembenaran atas rindunya saja. Rinai hancur, karena pada akhirnya takdir itu mempertemukannya dengan Rega, namun dalam keadaannya yang sangat begini.

“Aku tidak bisa melihat kamu, aku nggak bisa melihat lagi, Ga…” Rinai tersedu dengan bahu yang bergetar hebat, akhirnya ia mengangkat wajahnya untuk pertama kali, mencoba mengungkap Rega tepat pada manik hitamnya. Dan yang Rega lihat disana adalah…

“Tidak…tidak mungkinnn!” Rega perlahan melonggarkan cengkramannya, tidak sanggup lagi menahan buliran air mata yang jatuh berderai. “Tidak, jangan bercanda… lihat aku dengan benar…” mohon Rega dengan sangat, lelaki itu masih saja mencoba menyangkal keadaan, tidak terima.

“Maafin aku, Ga…” Rinai semakin tergugu tidak tepat, tubuhnya jatuh tersungkur saja, ia benar-benar kehilangan daya. Sedangkan lelaki bernama Rega itu—masa lalu Rinai, tampak sangat terkejut. Berulang kali mengusak wajahnya kasar, ia menangis tanpa suara, tampak marah, entah pada keadaan, pada Rinai, atau pada dirinya sendiri yang datang saat terlambat.

Hingga akhirnya ia memilih berlalu. Begitu saja memacu motor hitamnya meninggalkan rumah Rinai. Mencampakkan Rinai yang tubuhnya melorot begitu saja di pekarangan rumahnya. Sampai akhir pun, jalan yang di pilih Rega tetaplah sama. Yaitu pergi.

“REGAAAAAAA!”

***

Angin menyentilku, membuat tubuhku bergoncang cukup keras. Pastilah sebentar lagi waktunya untukku pergi. Aku membocorkan sekeliling, rumah bercat putih di depanku tampak lengang, debu menempel dimana-mana. Aku tahu betul satu minggu ini merupakan waktu yang tersulit bagi perempuan itu—Rinai, mana sempat ia membayangkan bersih-bersih. di… pasti tidak akan pernah datang lagi kemari.

“NAYYY, INI AKU NAY…” tiba-tiba di bawah sana ramai dengan teriakan.

Aku sangat terkejut dengan kedatangan seorang Rega, lelaki itu menggedor-gedor pintu, meneriakkan nama Rinai, berjalan kemari dengan wajah frustasi. Aku merasa iba, kupikir sekali lagi aku datang terlambat. Rinai tidak akan pernah kembali lagi, karena ia pikir Reganya sudah benar-benar menyerah atas dirinya, ia ditinggalkan tanpa sebuah penjelasan, ia merasa tak pantas.

Lelaki itu membungkukan badan saat sorot matanya menemukan sebuah buku yang selalu Rinainya bawa kemana-mana, ia memungut Ada secarik kertas tertempel di kejutan, masih baru, tulisan tangan yang meliuk-liuk tidak simetris. Lelaki itu tampak ragu, haruskah aku bangkit?

Aku lega, Ga. Setidaknya aku sempat memberikan buku ini padamu, aku tau buku ini pasti akan berada di tanganmu. Yah… walaupun sekarang kamu sudah lulus Akmil, sih. Selamat atas tercapainya cita-cita dan perjuanganmu, tidak perlu mendengarkan kata orang, karena di antara mereka semua, akulah yang paling tahu kerasnya usahamu. Semesta tidak pernah berbaik hati padamu, tapi kau berhasil membuatnya dengan keras—walau artinya kau memang harus merelakanku. Tapi tidak masalah buatku, di jaga ya. Salam sayang dariku, Rinai.                                               

Lelaki itu panik, satu tetes air matanya lolos. Bergegas ia membuka lembar berikutnya, ada catatan yang lain, sudah lusuh, banyak bercak air mata di kertasnya yang kusam, bahkan isolasi bening yang merekatkannya sudah hampir mengelupas.

Janji kamu harus lulus tes di Akmil, Ga. Buat aku bangga, setidaknya salah satu impian kita harus ada yang terwujud. Dengan begitu aku akan bisa melupakanmu dengan cepat. Salam sayang, Rinai.                                            

Angin keras mengguncangku, sudah saatnya aku pergi. Sudah cukup selama lima tahun aku menjadi sepasang anak manusia yang jatuh cinta, berpisah, saling melukai, bertemu, untuk kemudian memilih kembali pergi. Sudah cukup selama ini menemani Rinai yang seorang diri berjuang melawan kenangannya di bawah pohon ini, melewati penderitaan di tengah-tengah luka dan penderitaan pada sang kekasih.

Selamat tinggal, Rega. Rinai memutuskan pergi, maka kali ini pun aku juga akan ikut pergi. Jangan terlalu di sesali, semua hanya butuh waktu.

Aku pamit. Salam dariku, sebutir jambu air yang bersemi sebab kenangan.

Ilustrator: Afifah Azzahra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kala Senja Mengutuk Semesta
Next post Eksistensi HAM dalam Kacamata Dunia