ilustrasi

Simpang Empat Palbapang

Malam itu, bulan purnama bersinar terang di langit kota, memancarkan cahaya peraknya yang menembus celah-celah dedaunan. Suasana sepi dan tenang di rumah Laila, tempat ia dan Arif menjalani masa pingitan sebelum pernikahan mereka. Namun, hati mereka yang muda dan penuh semangat tak mampu menahan keinginan untuk mencuri sedikit momen bersama.

Di kamar Laila, Arif sedang memanjat masuk melalui jendela. Senyuman lebar terpancar di wajahnya ketika ia melihat Laila yang sudah siap dengan gaun santainya. “Ayo, kita pergi ke Pantai Samas,” bisik Arif dengan semangat.

Laila tertawa kecil, sedikit gugup tapi bersemangat. “Kita harus hati-hati. Jangan sampai ketahuan,” jawabnya sambil menutup jendela perlahan setelah Arif masuk.

Baca juga: Cerpen: Baby’s Breath

Dengan hati-hati, mereka berdua keluar dari rumah Laila, menyelinap dalam kegelapan malam. Suara jangkrik dan gemerisik dedaunan mengiringi langkah kaki mereka yang berjingkat-jingkat melewati pekarangan dan keluar dari pagar rumah. Motor Arif sudah menunggu di sudut jalan, tersembunyi di balik semak-semak.

“Ayo, naik,” kata Arif sambil menyerahkan helm kepada Laila. Laila mengangguk dan segera mengenakan helm itu, lalu naik ke motor. Arif menyalakan mesin dengan hati-hati agar tidak terlalu bising, dan mereka pun melaju perlahan menjauhi rumah.

Mereka melaju di jalanan sepi dengan perasaan campur aduk. Angin malam menyapu wajah mereka, memberikan sensasi kebebasan yang luar biasa. Namun, di benak mereka, ada bayangan tentang perempatan Palbapang yang akan mereka lewati. Mereka tahu tentang mitos yang melingkupi tempat itu, tentang bagaimana calon pengantin yang melintasinya pada malam hari akan celaka. Tapi mereka memilih untuk tidak peduli.

Baca juga: Press Release Rapat Kerja LPPM Kreativa 2024

“Orang-orang terlalu percaya pada hal-hal seperti itu,” kata Arif dengan suara mantap saat mereka mendekati perempatan tersebut.

“Ya, hanya mitos. Lagipula, kita hanya ingin menikmati malam ini,” jawab Laila, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Saat mereka mendekati perempatan Palbapang, suasana tiba-tiba berubah. Angin malam berhembus lebih kencang, membuat dedaunan bergemerisik lebih keras. “Kamu merasa aneh nggak?” tanya Laila dengan sedikit ragu.

Arif menggeleng, berusaha tetap tenang. “Mungkin cuma perasaanmu saja,” balasnya, meskipun hatinya mulai diliputi kegelisahan.

Ketika mereka melintasi perempatan itu, sebuah motor lain muncul dari arah kanan dengan kecepatan tinggi, seolah muncul dari kegelapan tanpa peringatan. Arif tidak sempat menghindar, dan tabrakan pun tak terelakkan.

Motor itu menabrak sisi motor Arif, membuat mereka terjatuh keras ke aspal. Arif terlempar beberapa meter, sementara Laila terjepit di bawah motor. Pengendara motor yang menabrak mereka segera bangkit dan melarikan diri tanpa sepatah kata pun, meninggalkan mereka yang tergeletak kesakitan di jalan.

Baca juga: Resensi Novel Gadis Kretek

“Laila!” teriak Arif dengan suara serak, berusaha bangkit meskipun tubuhnya terasa sangat sakit. Laila menggeliat, berusaha meraih Arif.

“Aku di sini,” jawab Laila lemah, air mata mengalir di pipinya. Kakinya terasa nyeri tak tertahankan, dan ia takut ada yang patah.

Untungnya, seorang pengendara mobil yang melintas melihat mereka dan segera memanggil bantuan. Dalam hitungan menit, ambulans datang membawa Arif dan Laila ke rumah sakit terdekat.

Di rumah sakit, Arif mengalami patah tulang di lengan dan beberapa luka lecet, sementara Laila harus menjalani operasi ringan karena patah tulang di kakinya. Malam itu berubah menjadi mimpi buruk yang tak pernah mereka bayangkan.

Baca juga: Rindu Bulan

Saat mereka dirawat di ruang gawat darurat, seorang perawat tua yang merawat mereka menyampaikan sesuatu yang mengejutkan.

“Kalian tahu, ada mitos tentang perempatan Palbapang. Calon pengantin yang melintasinya harus melepaskan ayam sebagai perwujudan sedekah, selain itu juga untuk tolak bala. Kalau kalian tidak melakukannya maka pernikahan kalian akan celaka. Banyak yang percaya itu,” katanya dengan wajah serius.

Arif dan Laila saling berpandangan, merasakan kengerian dan penyesalan yang mendalam. Mereka tahu tentang mitos itu, namun memilih untuk mengabaikannya dan merasa bahwa mereka bisa terhindar dari apapun yang terjadi. Tapi kenyataan berkata lain.

Baca juga: Antusiasme Penonton Ketoprak UNY Budaya “Ande-Ande Lumut”

Namun, dibalik semua itu, mereka merasa beruntung masih bisa bersama. “Kita akan melewati ini bersama, seperti janji kita,” bisik Arif sambil menggenggam tangan Laila erat.

Laila tersenyum lemah. “Ya, apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Setelah kita sehat, mari kita lepaskan ayam di simpang empat Palbapang itu, agar pernikahan kita selamat sampai akhir hayat. Setelah kita sehat, mari kita lepaskan ayam di simpang empat Palbapang itu, agar pernikahan kita selamat sampai akhir hayat,” jawabnya.

Baca juga: Fenomena People Pleaser: Ketika Kepuasan Orang Lain Mengalahkan Kepuasan Diri Sendiri

Peristiwa malam itu menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Meskipun terluka, cinta mereka semakin kuat, siap menghadapi segala rintangan yang mungkin datang di masa depan. Mitos perempatan Palbapang telah memberi mereka ujian yang tak terduga, namun juga mengukuhkan tekad mereka untuk terus bersama dan tidak mengabaikan mitos yang ada.

Penulis: Shintya Paramita

Editor: Hana Yuki Tassha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Cerpen: Baby’s Breath
Next post Press Release Pelatihan In-Depth LPPM Kreativa 2024