Home Resensi Di balik “Kapai-Kapai” Arifin C. Noer

Di balik “Kapai-Kapai” Arifin C. Noer

by Dyah Ayu Noor Afifah
231 views

Arifin Chairin Noer atau lebih dikenal dengan Arifin C. Noer merupakan salah seorang sutradara teater dan film Indonesia. Ia telah menerima banyak penghargaan, seperti Piala Citra, atas karya-karyanya. Dari sekian banyak naskah yang telah ia tangani, naskah drama Kapai-Kapai menjadi karya yang paling sering dipentaskan. Naskah ini ditulis pada tahun 1970 dan dianggap sebagai naskah penting yang menjadi titik balik dunia perteateran Indonesia yang berubah menjadi lebih puitis dan menggunakan keindahan bahasa di dalamnya.

Kapai-kapai menceritakan tentang dinamika perjalanan hidup seorang tokoh bernama Abu yang berusaha mencari “Cermin Tipu Daya” untuk mendapatkan kebahagiaan. Naskah yang mengambil tema tentang realitas kehidupan manusia ini, terbagi menjadi lima babak penceritaan. Setiap babaknya memiliki judul bab yang berbeda. Pada bab-bab ini terdapat sub bab yang jumlahnya berbeda di setiap bagiannya. Selain itu, jumlah tokoh pendukung dalam naskah ini terbilang cukup banyak. Secara keseluruhan, naskah ini menggunakan alur maju.

Cerita ini berawal dari tokoh Abu yang sedang mendengarkan ibunya tentang Sang Pangeran dan Sang Putri yang berhasil selamat dari pengepungan istana. Abu yang masih kecil itu selalu bertanya mengenai “apakah mereka bahagia?” kepada Emaknya. Lalu, sang ibu akan menjawab mereka bahagia dengan bantuan dari Cermin Tipu Daya. Ia bercerita bahwa cermin itu bisa membuat orang-orang bahagia dan terkabul semua keinginannya. Hal ini membuat Abu kagum dan tertarik dengan cermin itu.

Abu yang merupakan seorang pesuruh selalu mengingat akan menceritakan yang diceritakan Emaknya itu. Ia sebenarnya memiliki istri bernama Iyem dan anak-anak yang sering mati karena kemiskinan. Semakin tua ia merasa lelah dengan kehidupan. Abu lantas mengajak istrinya untuk pergi ke toko milik Nabi Sulaiman. Berbekal kegigihan itu, mereka berdua pergi mengembara demi mendapat Cermin Tipu Daya.

Abu dan Iyem memulai perjalanan dan berubah menjadi gelandangan. Mereka kehabisan semua harta yang dimiliki. Usia yang sudah terbilang cukup tua membuat mereka menjadi mudah lelah. Iyem yang sudah lelah, memutuskan untuk berhenti dan tidak ingin mencari Cermin Tipu Daya lagi. Meskipun demikian, Abu tetap pada pendiriannya dan melanjutkan perjalanan. Nahas ternyata di jalan ia bertemu dengan gelandangan yang sedang merebutkan makanan. Mereka menyerang Abu, sehingga melukai. Iyem yang menemukan Abu itu lalu meminta pertolongan. Pada akhirnya Abu meninggal dan berhasil menemukan surga di mana Nabi Sulaiman tinggal.Kisah perjalanan Abu selesai pada tahun 1980. Beberapa hal berikut yang perlu diperhatikan dalam naskah drama ini.

BACA JUGA: Me emetik Keberhasilan Melalui Buku Harian

Tidak Surealisme dalam Kapai-Kapai

Pada era tersebut sebenarnya drama karya lebih berfokus pada jenis realisme. Topik yang dibahas biasanya seputar kehidupan adat, politik, dan romansa. Arifin C. Noer dengan Kapai-Kapai mendobrak pasar drama dengan tulisannya yang penuh imajinasi dengan memadukan kisah kehidupan manusia. Tidak khayal, realita, dan keagamaan yang sengaja digabungkan ke dalam satu bentuk utuh. Inilah yang membuat naskah Kapai-Kapai termasuk ke dalam jenis surealisme. Penggambaran dialog antara tokoh Yang Kelam dan Bulan, Abu dan Bel, dan antara Abu dan hewan-hewan membuat naskah ini semakin terlihat segi fantasinya.

Pemilihan jenis penceritaan surealisme membuat kisah ini jauh lebih menarik dan beragam. Setiap sub bab dari babak naskah ini disajikan dalam dimensi yang berbeda. Pemilihan kalimat yang menggunakan unsur puitis seperti pada kalimat semuanya seperti tinta yang tumpah, dan lagi buah Kuldi itu pun disajikan di hadapannya yang mengandung majas metafora. Penggunaan unsur puitis dalam naskah ini menambah unsur fantasi yang diciptakan untuk menggambarkan antara ilusi dan realita Abu.

Arifin C. Noer yang Menyindir Tentang Isu Kemiskinan di Kapai-Kapai

Naskah Kapai-kapai sebenarnya menggambarkan kondisi orang-orang yang berasal dari kalangan bawah. Mereka tidak dapat mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan karena kondisi ekonomi yang mereka hadapi. Tokoh Abu merupakan pekerja atau pembantu yang selalu dianggap rendah oleh tuannya. Dapat dilihat dari bagian orientasi drama yang dibutuhkan waktu untuk memaggil Abu dan menghardiknya. Setelah berganti tuan Abu masih merasakan kondisi yang sama. Hanya saja di tempat barunya ada bel yang menyanyikan suara teriakan sang tuan. Perlu diperhatikan saat percakapan bel bertambah menandakan panggilan suruhan majikan meningkat.

Seluruh bayangan tentang Cermin Tipu Daya merupakan ilusi yang berasal dari rasa keputusaan Abu terhadap kehidupan yang ia jalani. Harapan yang muncul membuat memori masa kecilnya berubah menjadi ilusi. Cermin Tipu Daya menjadi pintu kebahagiaan karena saat melihat cermin akan memeriksa diri sendiri yang berkebalikan sisi kiri dan kanan. Ini dapat dikatakan sebagai mimpi dan kondisi sadar. Hal ini memperkuat pernyataan bahwa kebahagiaan yang dikejar Abu hanyalah semu dan hanya didapat melalui imajinasinya.

Pada naskah ini juga diceritakan kondisi Iyem yang beberapa kali tidak dapat melahirkan anaknya karena tidak punya harta untuk memberi mereka makan. Dijelaskan pula kondisi anak-anaknya yang sudah lahir antara meninggal rumah atau meninggalkan dunia.

Sindiran yang dilayangkan Arifin C. Noer dalam naskah ini sengaja untuk menyadarkan para penguasa dan masyarakat Indonesia kondisi kelas yang hanya mampu berandai. Latar waktu cerita berkisar dari 1919-1980 yang faktanya dari masa penjajahan hingga masa kepresidenan Soeharto (anggapan masa perekonomiannya baik) tidak mengubah garis nasib dari Abu si kalangan bawah.

Realitas dan Nasihat Keagamaan dalam Naskah Kapai-Kapai

Masyarakat bawah biasanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan materi mereka. Seperti Abu yang bekerja keras mendapatkan uang untuk kebutuhan keluarganya. Tidak banyak dari mereka yang mengetahui tentang keagungan Tuhan. Mereka juga kadang lupa bahwa kebahagiaan bisa muncul dari ketenangan hati. Hal ini ditunjukan pada saat dialog antara Abu dan Kakek yang ditemuinya saat mencari Cermin Tipu Daya.

Abu lalu mengatakan bahwa cermin itu di toko Nabi Sulaiman. Ia kemudian bertanya letak rumah Nabi Sulaiman. Kakek itu menjawab bahwa letak rumah Nabi Sulaiman adalah di Surga, tetapi Abu tidak mengerti mengenai surga. Ia pun bertanya pada itu dan menjawab tentang penjelasannya mengenai sosok Tuhan. Selain itu ada percakapan yang membuktikan bahwa Arifin mencoba menyindir sekaligus menasihati orang-orang.

Cr: https://www.goodreads.com/book/show/26215714-kapai-kapai

Related Articles