Proyek Hunian Gigantik: Keresahan dari Sudut Ruang

Tulisan ini sebenarnya perenungan saya atas fenomena pembangunan pe-rumah-an di sana-sini yang terdengar gegap gempita. Mungkin sejenak kita bisa re-think, mengingat ada semacam perbedaan makna membangun dan menghuni mereka yang tinggal di kota besar dan yang tidak tinggal di kota besar. Tentu ini tidak bermaksud men-generalisasi, sekedar pembacaan saya melihat prosesi cara ‘membangun’ hidup dan kehidupan.

Meminjam kutipan Banham & Dallegret yang mengungkapkan, “a home is not a house”. Tampak dalam bahasa Inggris jelas dibedakan antara house dan home, dalam bahasa keseharian kita mengenalnya dengan ‘rumah’ dan ‘omah’.  Dua kata yang sekilas mirip, namun memiliki pemaknaan yang berbeda.

Rasanya kini makna rumah telah berubah, seolah kesadaran ‘merumah’ telah hilang dari perikehidupan kita. Saya mencoba meluapkan keresahan diri atas apa yang terjadi di sekitar, yang mungkin bisa menyegarkan kembali makna rumah yang sempat luput.

 

Rumah Berikut Absurditas Pemaknaannya

 

Beberapa tahun terakhir, masyarakat dikepung dengan merebaknya pembangunan apartemen dan kondominium di kota besar. Proyek hunian menjadi arena bisnis properti yang menjanjikan, di mana economic value begitu berarti dalam hidup daripada phillosophy value. Nilai kultural lambat laun digantikan dengan kepentingan ekonomi semata. Sudah dipastikan gaya hidup masyarakat pun mengalami perubahan. Masyarakat secara sadar sebenarnya dituntut menciptakan ‘budaya’ baru. Imbasnya pada pemilihan gaya interior yang sedang ‘hits’ di tengah masyarakat.

Saya tidak mampu mengelak dari kenyataan ini, dikarenakan beberapa klien menginginkan rumahnya nampak stylish. Setiap orang memang menaruh sentuhan pribadi, namun sayangnya sentuhan itu disandingkan dengan apa yang sedang disukai banyak orang. Itu ibarat kita lebih memilih gaya pakaian yang trendy sehingga keberadaan diri kita tidak ‘ketinggalan zaman’. Saya tidak tahu pasti, apakah ini sikap manusia modern yang latah? Tindakan memotong atau mengambil apa yang sedang ‘hits’ di luar, kemudian menempelkannya ke dalam gaya hidup keseharian (tanpa disertai pemahaman) menjadi formula yang terlampau praktis.

Seringkali saya menemui klien yang ingin dirancang rumah mereka dengan gaya fasade masa kini (contemporary style). Mereka meminta untuk semua kebutuhan dapat terpenuhi secara maksimal, namun terkadang mereka tidak mengindahkan lingkungan sekitar apalagi persoalan resapan air. Lingkungan yang harusnya menjadi potensi permukaan daratan dieksploitasi oleh habit dan kepuasaan manusia. Di sinilah manusia telah hilang perikemanusiaannya, sifat keserakahan dimainkan lewat ruang-ruang yang sebenarnya milik bersama. Bukankah desain itu harus memanusiakan manusia?

Nuansa estetika dari kehebatan teknologi cipta bangun bila disalah-aplikasikan justru dianggap sebagai eksploitasi desain, anehnya kini kian marak dan tampil begitu percaya diri. Hal itu terlihat seperti pola skenario penjajahan alam berkedok ‘desain’. Lebih jauh, (mungkin) saya ingin berasumsi kemolekan pembangunan itu diperuntukkan bagi kalangan sosial ekonomi atas di mana mereka sungguh-sungguh membutuhkan ruang eksistensial untuk nantinya diakui dalam kelas sosial kemasyarakatan. Bukan soal kenyamanan belaka yang ingin mereka dapatkan, tetapi ada ‘identitas’ yang dipertaruhkan di sana.

Di sisi lain, saya melihat rumah kuno atau lawasan yang nampak bersahaja. Pintu belakang dalam setting rumah lawas secara alamiah menjadi ruang perjumpaan yang membahagiakan dengan sanak keluarga dan tetangga. Hal itu pula yang dirasakan sahabat saya, Hanafi, seorang perupa yang menceritakan kerinduannya terhadap rumah lamanya dalam pameran tunggal di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Ia bertutur:

 

“Kalau pulang ke rumah, aku lebih suka masuk lewat pintu belakang. Pintu depan selalu memunculkan bayangan bapak yang duduk di kursi menatap lurus ke luar pintu. Posisi yang mengandung konstruksi kekuasaan untuk mengawasiku. Kini pintu belakang tidak berfungsi lagi. Halaman belakang lalu berubah jadi sebuah ideologi yang kosong, kemudian cenderung diisi dengan sampah. Kalau kita tidak punya pintu belakang, kita tidak punya pulang. Rumah menjadi tempat untuk pergi.” – Hanafi –

 

 

Rupanya rumah dulu, mampu memberikan banyak pendidikan kehidupan bagi sahabat saya dan mungkin kita yang sempat mengalaminya. Cerita rumah dengan hadirnya pintu belakang, yang  menjadi ruang gerak kecil demi terjalinnya hubungan yang lebih cair. Relasi sosial terbangun secara alami, mulai dari meracik makanan bersama di dapur, meminta garam pada tetangga, obrolan dan curahan hati yang mungkin tak terucap di ruang depan secara lebih terbuka.

Sepenggal cerita sahaja rumah dulu yang kini telah hilang terhalang dinding rapat menjulang tinggi. Rumah sebagai wujud ruang pendidikan seumur hidup berganti menjadi ruang rekreatif komersil. Perekonomian yang dulu dibangun oleh bersama dan untuk kepentingan bersama, kini bergeser menjadi perlombaan aset ekonomi kepemilikan pribadi. Nampak sekali proyek hunian di perkotaan dikuasai mereka yang memiliki kekuatan finansial. Arena pertempuran ekonomi (economic battleground) terus berlangsung di sana, entah sampai kapan.

Untuk pengingat diri sembari menatap wajah Rumah-Kota-Manusia, pertanyaan di bawah ini barangkali bisa dijawab (dalam hati):

Lantas manakah yang lebih bernilai?

Manakah yang lebih penting?

Masih adakah makna untuk bisa dinikmati?

Untuk siapa-di mana-mengapa-seperti apakah wujud ruang yang hakiki?

Empat pertanyaan itu bisa menjadi siklus dalam menatap proyek duniawi, sehingga memang makna sudah saatnya bergeser, supaya perspektif hidup lebih variatif.

 

Menyimpulkan Makna Rumah

 

We should therefore have to say how we inhabit our vital space, in accord with all the dialiectics of life how to take root day after day in a ‘corner of the world’.

Kita seharusnya mengatakan bagaimana kita mendiami atau menghuni ruang penting kita berdasarkan pada dialog kehidupan di mana kita telah mengakar, hari demi hari di suatu ‘sudut dunia’.

 

  • Bachelard dalam Leach, 1997, Rethinking Architecture

 

 

Rumah bersama ragam tipe wujud sekaligus dialog pemaknaannya tetap menjadi impian bagi setiap orang. Hal itu diyakini lantaran rumah sebagai salah satu kebutuhan utama manusia menghuni bumi. Meskipun beberapa tahun terakhir ini proyek pembangunan hunian yang begitu sedap dipandang mata, kepemilikan ‘omah’ masih menjadi hasrat bagi yang mampu mewujudkannya, ataupun yang dalam proses menabung entah kapan untuk memilikinya.

Rumah bukan hanya sekedar kata benda tetapi sebuah identitas dan bagian dari habitat hidup, ruang sosial kultural kehidupan keseharian kita selama hidup di dunia, kembali ke makna ‘home’ itu lagi. Tak mengherankan bila rumah menjadi pelabuhan terakhir, sebuah ‘sarang’ andai boleh menyebutnya.

 

 

Mahdi Nurcahyo. Lahir di Bekasi, 20 Juni 1991. Pada tahun 2013 lulus pendidikan S1 Jurusan Desain Interior ISI Yogyakarta. Kemudian menyelesaikan S2 (Master of Art) di Universitas Gadjah Mada, 2016. Sejak tahun 2013 sampai sekarang menjadi konsultan bidang desain dan akademisi di almamaternya. Kini sedang menangani beberapa proyek hunian kampung-kota di Indonesia dan Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Ini Malam, Ini Dendam
Next post Per-JALAN-an