Home Resensi RESENSI CERPEN ‘SEBUAH APEL’

RESENSI CERPEN ‘SEBUAH APEL’

by Aryo Dwi Pangga
128 views

Judul Cerpen : Sebuah Apel

Judul Buku : ‘Sebuah Apel’ Antologi cerita pendek dan puisi pelajar SMA/sederajat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2014

Penulis Cerpen : Shafiyah Nurtaqy

Penerbit : Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Tahun Terbit : 2014

Jumlah Halaman : 364 halaman

 

Sebuah apel merupakan sebuh cerpen karya Shafiyah Nurtaqy. Cerpen ini masuk dalam buku Antologi cerita pendek dan puisi pelajar SMA/sederajat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2014. Cerpen karya Shafiyah Nurtaqy ini masuk sebagai 30 cerpen terbaik dan menjadi pemenang pertama dalam pemilihan cerpen terbaik SMA/sederajat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Cerpen ini mengisahkan tentang ingatan seorang remaja perempuan yang ketika ia memakan sebuah apel ia teringat sebuah film yang pernah ia tonton. Film ini mengisahkan perjuangan ayah bobby yang rela berjuang demi membahagiakan anaknya yaitu bobby. Ayah bobby bekerja sebagai kuli bangunan yang penghasilanya sangat sedikit. Namun, ayah bobby mampu menyekolahkan bobby ke sekolah yang bagus. Di sekolah itulah Bobby dan ayahnya sering dicaci maki karena berasal dari keluarga yang tidak mampu. Pada suatu ketika Bobby melihat ada temannya memakan buah apel sehingga ia pun tergiur karena sama sekali dalam hidupnya bobby belum pernah merasaka buah apel. Akhirnya ayah bobby berjuang keras hanya demi membelikan bobby sebuah apel. Setelah itu ayah bobby hanya mampu membelikan apel setengah busuk seharga 3000 yang ketika dibersihkan hanya tersisa seperempat. Pada akhirnya dengan perjuangan keras bobby mampu mencicipi rasa apel yang sudah ia inginkan. Remaja perempuan ini pun menyudahi ingatannya dan memetik hikmah dari sebuah apel.

Cerpen ini mengangkat tema perjuangan dan pengorbanan yang ditampilakan secara jelas dengan cerita yang mampu dibayangkan dengan mudah. Unsur yang berikan sudah mendukung cerpen ini menjadi lebih runtun dan mudah dinikmati oleh pembaca. Cerpen ini dikemas dengan alur mundur yang menceritakan kejadian yang pernah dilihat sebelumnya oleh tokoh utama kemudian diingat kembali menjadi sebuah kisah sekilas dan dilanjutkan dengan kembalinya tokoh utama keingatan sekarang. Tokoh yang ditampilkan memiliki sifat masing-masing yang berusaha mendukung satu sama lain. Amanat disampaikan secara tersirat dan mudah dipahami oleh pembacanya.

Baca Juga: Niduparas Erlang: Menulis Cerpen Lari dari Realitas

Secara keseluruhan cerpen ini mengandung cerita sederhana dengan amanat Amanat yang mudah dipahami dan berkaitan dengan kehidupan masyarakat umum. Penulis mampu menghidupkan imajinasi pembaca dengan kata-kata yang mudah dipahami. Uniknya penulis sedikit memasukkan kebiasaan beliau yaitu tinggal di asrama dengan cerita yang ia tulis. Disisi lain, cerpen ini menimbulkan banyak pertanyaan ambigu yang bisa membingungkan pembacanya seperti contoh ayah bobby yang jatuh dari ketinggian dan tidak mengalami luka sedikitpun. Tetapi tetap saja cerpen ini mampu berjajar di deratan cerpen terbaik pelajar SMA/sederajat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2014.

Related Articles