Advertisement Section

Puisi sebagai Ruang Rehat Digital dan Ranah Introspeksi Diri Wawancara Bersama Winda Cahyati, Penulis Antologi Puisi “Perjalanan Menuju-Mu”

Sumber: Winda Cahyati

Di era digital yang semuanya bergerak serba cepat, generasi muda atau Gen Z kerap dihadapkan pada derasnya arus informasi yang tak tersaring. Fenomena ini sering kali memicu beban pikiran, overthinking, hingga kelelahan mental. Di tengah riuhnya teknologi tersebut, seni sastra, khususnya puisi, menjadi relevan kembali. Puisi bukan hanya sekadar media estetika, melainkan sebagai ruang kontemplasi serta wahana jeda dari dunia virtual.

Winda Cahyati, seorang mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Yogyakarta, membagikan kisah perjalanannya dalam menulis antologi puisi berjudul “Perjalanan Menuju-Mu”. Ia membedah bagaimana bait-bait rima mampu mentransformasikan amarah dan kesedihan menjadi untaian diksi yang indah.

Berikut adalah petikan wawancara bersama Winda Cahyati:

Kapan pertama kali Anda mulai tertarik dengan dunia menulis, khususnya puisi?

Untuk puisi sendiri, saya sudah mulai tertarik sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), tepatnya sejak puisi mulai dikenalkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak SD dulu saya sudah tertarik karena melihat puisi itu memiliki keindahan bahasa dan pemilihan diksi-diksi yang serima. Biasanya kalau anak SD dulu kan rimanya masih sederhana seperti a-a-a-a atau a-b-a-b. Nah, berangkat dari keunikan rima tersebut, saya mulai suka. Ketertarikan itu terus berlanjut ke jenjang SMP dan SMA, hingga akhirnya di bangku kuliah ini saya tetap mencoba untuk mendalami bidang sastra, khususnya dalam berkarya lewat puisi.

Baca juga: Buletin Aksara: Dinamika Kehidupan Mahasiswa

Dari mana biasanya Anda mendapatkan inspirasi untuk menulis puisi?

Sebagian besar inspirasi itu sebenarnya lahir dari lingkungan terdekat, dari diri saya sendiri, atau dari dinamika kehidupan pribadi yang saya alami sehari-hari. Biasanya tema-tema yang saya angkat adalah hal-hal yang dengan diri sendiri, seperti dinamika kehidupan dalam keluarga, interaksi dengan teman-teman, atau seputar fase-fase kehidupan yang sedang saya lalui.

Apakah ada pengalaman pribadi yang paling berpengaruh terhadap karya-karya yang Anda tulis?

Sangat ada, karena sebagian besar puisi yang saya hasilkan itu ditulis sebagai bentuk mediasi bagi diri saya sendiri. Saya adalah tipe orang yang sulit untuk memperlihatkan perasaan ketika sedang marah atau sedih kepada orang lain. Saya tidak mau kerapuhan atau amarah saya dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu, saya biasanya melampiaskan emosi-emosi tersebut ke dalam bentuk tulisan puisi. Jadi, pengalaman yang paling berpengaruh justru datang dari masalah-masalah yang terjadi, baik itu konflik dalam keluarga, dengan teman, atau bahkan konflik batin dengan diri sendiri. Biasanya kalau pikiran lagi bingung, tiba-tiba merasa sedih, atau yang anak jaman sekarang sebut sebagai overthinking (OVT), di situlah saya langsung melampiaskannya dengan menulis.

Menurut Anda, apa peran menulis puisi di tengah kehidupan generasi muda saat ini yang serba cepat dan serba digital?

Bagi saya pribadi, puisi berperan penting sebagai tempat untuk beristirahat atau ‘jeda’ dari hiruk-pikuk dunia digital yang bergerak begitu cepat. Saat ini, ada saja informasi baru yang membanjiri kita. Sering kali ketika kondisi tubuh dan pikiran sedang lelah, kita membuka media sosial dengan maksud menghibur diri, namun realitanya yang muncul justru berita-berita negatif yang malah membuat pikiran kita semakin penuh. Ketika menulis puisi, saya terbiasa menjauhkan ponsel dan menulis secara manual menggunakan pensil atau pulpen di atas kertas. Saya tidak bisa menulis jika terkena distraksi digital. Menulis puisi memaksa saya menjauh dari gawai, memberi jarak aman dari arus informasi yang tak tersaring, dan memberikan ketenangan batin.

Baca juga: Press Release Penetapan Politik Redaksi 2026

Apa pelajaran paling berharga yang Anda dapatkan dari proses menjadi penulis buku antologi puisi ini?

Proses kepenulisan ini secara tidak langsung melatih saya untuk mengintrospeksi diri. Melalui aktivitas menulis, kita dapat mendeskripsikan secara detail apa yang sedang kita rasakan. Kita diajak untuk membedah kembali emosi tersebut: kenapa saya bisa se-sedih ini? Apa sebenarnya penyebabnya? Lalu, langkah apa yang harus saya ambil selanjutnya? Proses reflektif ini secara tidak langsung melatih saya untuk berpikir lebih kritis, menjadi pribadi yang lebih tenang, dan lebih cakap dalam membaca diri sendiri. Menulis puisi mengubah energi negatif dari kemarahan atau kesedihan menjadi proses kreatif memikirkan diksi-diksi yang indah. Pengalihan fokus ini membuat emosi negatif mereda dan menghadirkan kedamaian pikiran.

Untuk teman-teman Gen Z yang ingin mulai menulis tetapi masih ragu atau kurang percaya diri, apa saran yang ingin Anda berikan?

Kalau dari saya, kita harus menyadari proses itu adalah sesuatu yang memang harus dilalui. Jadi, jangan pernah takut untuk memulai. Apabila di awal proses Anda merasa, ‘Kok puisi buatan saya masih jelek ya?’ atau ‘Kayaknya tulisan ini belum pantas untuk diterbitkan,’ tepis jauh-jauh pikiran itu. Setiap penulis hebat pasti membutuhkan proses panjang untuk mencapai tujuannya. Kita harus berani memulai karena dari sanalah kita belajar, dan kegagalan adalah bagian dari proses belajar tersebut. Bahkan, bisa jadi buku antologi yang saya terbitkan ini masih memiliki banyak kekurangan di dalamnya. Jadi, penerbitan buku ini saya jadikan  proses belajar saya agar ke depan bisa melahirkan karya yang jauh lebih bagus lagi. Jangan takut memulai, jangan takut gagal, dan jangan takut dinilai jelek. Selain itu, carilah lingkungan yang suportif. Jika ingin belajar menulis, bergabunglah dengan teman-teman yang memiliki minat serupa agar bisa saling memotivasi karena lingkungan itu sangat berpengaruh pada konsistensi kita.

Terakhir, pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca tentang pentingnya berkarya, bermimpi, dan terus mengembangkan potensi diri?

Intinya adalah teruslah berkarya dan miliki mimpi, karena bermimpi dan berkarya itulah yang membuat hidup kita terasa benar-benar ‘hidup’. Jika kita hidup tanpa target, tanpa mimpi, maka rutinitas akan terasa hambar dan berjalan monoton begitu saja. Sebaliknya, ketika kita menetapkan sebuah impian atau goals, kita akan tergerak untuk menyusun langkah-langkah untuk mencapainya. Kalau kita merasa mimpi kita sudah tercapai, maka carilah mimpi-mimpi baru yang lain. Hal itulah yang menjaga kita untuk tetap produktif dan senantiasa bertumbuh mencapai versi terbaik dari diri kita masing-masing.

Baca juga: Mahasiswa UNY Gandeng Nasi Darurat Jogja dalam Misi Satu Bungkus Nasi, Satu Langkah Menuju Zero Hunger.

Pada akhirnya, perjalanan Winda Cahyati bersama buku “Perjalanan Menuju-Mu” mengingatkan kita bahwa karya bukan hanya sekadar pajangan estetika, melainkan sebuah cara sederhana yang ampuh untuk mengambil jeda serta mengenali diri sendiri dengan lebih utuh. Bagi generasi muda, perjalanan Winda adalah bukti bahwa dengan berani bermimpi dan mulai melangkah, keterbatasan dan keraguan perlahan akan terkikis, meninggalkan ruang bagi potensi diri untuk terus hidup dan berkembang.

 

Penulis  : Ulfah Nuzzul Izzah

Editor : Naura Zalfa Nadia Putri

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Menelisik Ketimpangan Sosial dan Kerusakan Ekosistem dalam Mei Salon Karya Iin Farliani