Bait-Bait Rindu untuk Rembulan

Menyambut Kata Pasti

Kemarin kau menghadirkan pagi bersama embun yang suci
Siangnya kau tanyakan kebenaran gulita menyapa mentari
Selamat malam sunyi yang lamban
Selamat datang tangis yang redam
Kau cucurkan nurani nan kepastian sebuah keabadian
Adalah kehampaan menyambut bendera kesucian

Senyummu yang terlukis laksana bagaskara di teriknya siang
Ternyata aku tak perlu mencari
Untuk bisa berjabat tangan dengan tafsir mimpi
Engkau yang tangguh tetapi juga rapuh
Memahamimu ternyata tidak serumit itu
Karena hadirmu telah dipersiapkan oleh Sang Mahatahu

Merawat sucinya kenangan
Melambaikan tangan di tengah kerumunan
Memeluk erat-erat senja yang hilang
Memungut agar tak sesal daun berguguran
Menjadi yang terdepan bangkit dari kesedihan
Menemukanmu ternyata tak perlu sesegera waktu itu

Sadarilah. Ternyata aku tidak perlu beroperasi
Menyambutmu engkau tiada pernah pergi

 

Perlahan Runtuh

Telah Kau kabarkan padaku
Telah usai peperangan dahulu
Berbangkit iman menggebu

Di mana? Di mana dapatku letak jejak berseru
Sudilah umat merangkul kiamat
Berdirilah khidmat meliuk terpusat

Kau hambakan anak manusia
Wahai Tuhanku resahku sujud bercengkerama
PadaMu kuserahkan jiwa raga
Bersama gundukan tanah jasadku berada

Sudilah umat merangkul kiamat
Berdirilah khidmat meliuk terpusat

Hendaklah kau mafhum anak Adam
Kiranya tak lupa jasadmu berasal
Hai putih hati kain kafan bertamu nanti
Bersuara, deklarasi ajarkan agama

Sudilah umat merangkul kiamat
Berdirilah khidmat meliuk terpusat

Aku akan tinggal, kenangan pelipur kegundahan
Aku pergi, pergi jauh titip salam
Kau percaya padaku, bukan?
Tidak! Bersama kalam-Nya hantarkan keselamatan semoga

 

Reminisensi Tentangmu

Manusia-manusia lapar meraung gentar
Sunyi dunia dilahapnya lapar
Nun kuasa-Mu hantarkan jiwa kekar
Semerbak rindumu tuntas terbayar
Sesat menggeliat, kau ajukan nestor kelakar

Budilah dia manusia iman kaucabik tiada sisa
Kau siapa, hah! Kau siapa seonggok luang kaumakan tandas
Manusia budi harapkan kau diam sepenggal kaki
Kauduri, engkau adalah nestapa bagi kami
Mengertilah kita pun layak bersuara lagi

Reminisensi adalah kami terbuang sayang
Hadirmu arahkan damar pusat peradaban
Suai-suai sampai, kau ya kau dan suaramu itu!
Pergilah kami tersiksa hai sang Kirana
Kami di sini diam

Kami haus keadilan, kami butuh tempat, kami bukan bayangan
Kau tak tahu nasib manusia-manusia terbuang
Kami mati sua dan kau dengan kebolehanmu berjaya
Tidakkah pikir kami siapa lalu kau boleh seenaknya
Tidak sayang, indahmu adalah milik kita jua

Kau hantarkan belas kasih, budilah diri meretas elegi
Tiada sisa bagi kami, tapi namamu berdarah menyayat hati

Baca Juga: Kala Senja Mengutuk Semesta 

Naluri

Tatapan yang sarat akan ketakutan
Wajah yang sarat akan kepergian
Dekap yang sarat akan kehilangan
Tak lepas pertanda telah bermunculan
Aku masih butuh kasih sayang juga bimbingan

Tuhan jangan kau renggut untuk yang kedua
Ke mana lagi dekap akan kubawa
Bagaimana bisa aku diam saja di saat sarat itu berkata
Aku tidak mungkin berlari harapku hanyalah doa
Selebihnya kuserahkan pada-Nya atas takdir yang suka tiba-tiba

Aku masih tidak percaya, sekali lagi biarkan semuanya kembali
Kalaupun bisa pasti takdir kulukis sendiri
Meramu harap yang terus menggeluti
Tidak, bukankah takdir bisa pergi sesuka hati?
Meskipun sulit untuk diakui, tetapi Tuhanku tidaklah tuli

Berjalan di antara ambang ketakutan
Langkahku kerap membawanya pada tabir kematian
Lelucon ini sangatlah keterlaluan berikan dia kesembuhan
Mungkin harapku sekadar pelarian atas dinding kenistaan
Namun tidak dengan dunia yang terlalu berlebihan

 

Ilustrator: Afifah Azzahra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Berproses Seperti Messi: Si Kutu dengan Jiwa Singa
Next post Tentang Luka