Home KolomSastraCerita Pendek 1960

1960

by Anisa Rahayu
227 views

Udara begitu panas dan bergelombang, suara ledakan berpantulan di langit. Hanya beberapa orang yang tampak di luar. Barisan tentara dengan bayonet mengelilingi jalanan Tanah Garduh. Sebagian anak kecil bahkan mengintip di balik tetek mamanya. Saat itu Enung (23) dan Ayahnya, Rohmat (53) sedang bercakap-cakap tentang pasukan tentara Belanda yang akhir-akhir ini semakin berdatangan ke Tanah Garduh.

Ditemani lampu cempor yang temaram Rohmat bercakap sambil memindahkan hasil damar tadi pagi. Damar sendiri merupakan hasil sekresi dari pohon shorea/vatica dari suku meranti, di dalamnya termasuk damar kucing dan damar gelap. Damar ini biasanya dimanfaatkan dalam pembuatan korek api, plastik, plester, vernis, dan lak.

”Apa, makin banyak saja penjajah di Tanah Garduh ini.”

“Ya Nak, makin habis juga sumber daya kita. Bukan hanya itu, banyak orang mati, orang hilang, harta orang-orang yang dirampas, cultuur stelsel apa itu, malah menyengsarakan rakyat, tidak ada gunanya. “

“Iya Apa, aku makin geram dengan kelakuan Belanda yang picik itu. Setiap hari mereka membuat ulah. Tanah Garduh tidak lagi aman. Ketakutan di mana-mana.”

“Ya maka dari itu ibumu berwasiat pada Apa supaya kamu jadi pejuang yang akan membela bangsa kita. Supaya tanah kita tidak dijajah terus oleh antek-antek asing.”

“Halahh Pa, mana bisa aku ini jadi pejuang, Enung hanya orang miskin, mana bisa bela bangsa.”

“Hushh ngawur kamu ini, jadi pejuang itu tidak harus jadi orang kaya, orang susah seperti kita ini banyak Nak. Pokoknya Bapak yakin, suatu saat kamu akan jadi orang yang berjuang untuk tanah kita ini.” Kata Ayah Enung sambil mengelus kepala anaknya yang sudah semakin bujang.

Malam itu bunyi jangkrik semakin nyaring, secepat kilat berganti dengan kokok ayam jago milik Bu Entin. Awan mulai memudar, dari hitam keabu-abuan menjadi lebih terang. Sebelum melakukan aktivitas, Enung dan Rohmat sudah sembahyang terlebih dahulu. Di gubuk tua itu, mereka hanya tinggal berdua, Ibu Enung telah meninggal saat melahirkannya. Ketika itu, Garduh penuh dengan gema perang dan suara tembakan mortir yang tak reda-reda. Orang-orang berada dalam ketakutan. Tidak ada yang bisa membantu Ibu Enung, sehingga Ibu Enung pun melahirkan sendiri dan kehabisan darah, tetapi Enung selamat. Sejak saat itulah mereka berdua tinggal di gubuk tua ini. Ayah Enung adalah seorang pencari damar, sedangkan Ibu Enung adalah seorang kembang desa yang miskin. Mereka hidup dalam kekurangan.

Pagi ini Ayah Enung bersiap-siap untuk mencari damar. Ia berharap hasil ngunduh hari ini lebih bagus dan menghasilkan damar yang banyak sehingga mendapatkan uang yang lebih dari pengepul. Maklum saja uang yang diberikan tidak seberapa, hanya cukup untuk mengganjal perut mereka berdua. Pagi ini cuaca cukup berkabut dan dingin, Ayah Enung melangkah lebih hati karena jalanan di hutan menjadi lebih licin, butuh waktu sekitar 3 km untuk menuju ke pohon yang ia tuju. Tak lama kemudian Ayah Enung sampai di pohon yang ia tuju. Baru selangkah untuk memanjat pohon, Ayah Enung dikagetkan dengan kehadiran tentara Belanda tepat di belakangnya dengan memegang senapan dan sorot mata yang tajam, karena memiliki firasat buruk, spontan Ayah Enung berlari menjauhi tentara Belanda dengan sangat cepat tapi terpogoh-pogoh, langkahnya terhenti ketika suara tembakan mengarah padanya, dan… BRUUGG…. Ayah Enung terjatuh, ia melihat darah bercucuran dari kakinya, pandang matanya semakin kabur bersamaan dengan kaburnya tentara Belanda yang menembaknya.

Enung kaget mendengar kabar itu, ia memanggil seorang mantri untuk mengobati luka Ayahnya. Berhari-hari ia merawat Ayahnya, berkali-kali mantri dipanggilnya, tapi luka di kaki ayahnya tak kunjung sembuh. Bahkan kini Ayahnya merasakan sakit yang lebih dan hanya bisa terbaring di bawah tikar anyaman bambu. Kabar ini semakin menyeruak ke telinga warga Tanah Garduh. Bahkan hari itu kepala dusun sampai mendatangi kediaman Enung dan Ayahnya. Secara tiba-tiba, seorang asisten kepala dusun berlari terpogoh-pogoh mendekati Pak Sanip, Kepala Dusun Tanah Garduh.

“Gawaaaatttt Pak Dusun gawaaaattttt!! Lumbung padi, ternak-ternak, dan sawah-sawah  dibakar habis oleh tentara Belanda yang baru datang itu Pak Dusun. Tak hanya itu, beberapa warga juga ditembak mati karena tidak mau memberikan upeti sewa tanah.”

“Bangsaaaattttt!! Maunya apa Belanda sialan itu! Datang ke Tanah kami hanya untuk membuat huru-hara! Darsum! Kumpulkan warga, dan kita serang Belanda bangsat itu dengan tangan kita sendiri. Kalau perlu satu lawan satu! Aku tak sudi Belanda itu membuat kacau daerah ini. Kalau perlu kutebus nyawaku untuk harga diri tanah air ini. Darsum! Persiapkan bambu runcing yang telah dibuat. Kumpulkan warga di Balai Dusun.” Dengan amarah yang menggebu Pak Sanip berkobar-kobar hatinya. Enung yang saat itu mengepalkan tangannya juga sependapat dengan Pak Sanip.

“Saya setuju! Saya tidak akan tinggal diam lagi! Belanda harus kita kalahkan. Saya akan jalankan wasiat Ibu. Saya tak sudi Tanah Garduh merana karena ulah keparat itu!”

***

Warga Tanah Garduh telah berkumpul. Orang-orang telah bersiap dengan bambu runcing, golok, dan senjata tajam lainnya. Namun saat itu, Enung masih mengurusi Ayahnya, ia memandikan dan memberikan makan terlebih dahulu untuk Ayahnya sebelum ia berkumpul dengan warga. Secara tiba-tiba, rumahnya didatangi segerombolan tentara Belanda. Ketua dari rombongan itu menyerahkan sejumlah uang kepada Enung. Ketua mengatakan dengan aksen Belanda-Indonesia bahwa uang yang ia serahkan itu untuk membantu kesehatan ayahnya, tapi dengan syarat, bahwa Enung harus ikut menjadi bagian dari mereka. Jika tidak nyawa Ayahnya dalam bahaya.

Enung sangat tertekan. Hatinya bimbang, jiwanya gusar. Ia menatap sesekali ke arah Ayahnya. Di sisi lain ia memikirkan keadaan Ayahnya yang sangat membutuhkan biaya untuk berobat. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa menghianati wasiat Ibunya. Saat akan menerima uang itu. Ayahnya spontan berteriak “Jangaaan!!!” Dan Enung kembali terkesiap. Tapi tentara Belanda itu sangat keji, mereka menembak Ayahnya dengan bertubi-tubi. Darah muncrat ke mana-mana. Enung berteriak dengan histeris. Sekujur tubuhnya lemas, hatinya hancur, jiwanya sakit. Ia menangis, meraung sejadi-jadinya, “Keparaaaaattttt!!” katanya sambil menangisi tubuh Ayahnya yang terbujur kaku, dan langkah Belanda yang semakin menjauh di telinganya.

Perang satu lawan satu itu semakin bergenderang. Tank Belanda mengelilingi warga, para tentara bersiap dengan senjata di tangannya. Sebagian warga bersiap dengan bambu runcing, golok, pistol kecil dan senjata lain yang dibawa. Pada pergerakan pertama, Tanah Garduh banyak kehilangan nyawa. Tubuh-tubuh bergelimpangan di jalanan, jembatan, dan sungai. Dengan secepat kilat beberapa dari mereka berhasil merampas senjata tentara Belanda dan menguasai beberapa tank. Tembakan mortir semakin menderu, langit tak kuasa mendengar pekiknya. Abu dan asap menggaung di udara. Terasa sangat panas dan bergetar. Saat itu Enung yang tengah dalam sekarat masih mampu bertahan. Sampai suatu ketika, ia mendapatkan keberadaan seorang tentara Belanda yang tengah bersembunyi di balik pepohonan, terlihat sosok itu sama sekali tidak membawa senjata. Rupanya ia tengah ketakutan. Semangatnya semakin menggelora, matanya semakin tajam. Ia perhatikan baik-baik pergerakan tentara Belanda itu. Dengan saksama ia terperanjat, ternyata tentara Belanda yang tengah bersembunyi di balik pepohonan itu adalah ketua gerombolan yang tempo hari membunuh Ayahnya. Tanpa berpikir panjang ia meraih bambu runcing disampingnya, yang ternyata milik Darsum asisten Pak Sanip yang kini telah terbujur kaku. Dengan tenaga yang tersisa, ia memegangnya pelan-pelan dalam posisi merangkak, dengan tekadnya yang terus memuncak ia tancapkan bambu itu sambil berteriak “Demi harga diri tanah airku!!!”. Darah muncrat mengenai wajah dan baju Enung, bambu itu terus menghunus ke arah jantung. Terdengar sebentar suara meraung dan kemudian hilang.

***

Related Articles