
Timnas Inggris Layak Dipuji, Namun Tidak dengan Pendukungnya
Beberapa hari ini, publik sepakbola sedang ramai membicarakan Final Piala Eropa yang mempertemukan antara Timnas Inggris dan Timnas Italia. Dua tim yang memiliki basis pendukung terbesar di Eropa, yakni Hooligans (Inggris) dan Ultras (Italia). Karena gengsinya yang cukup besar, sangat wajar apabila penikmat sepakbola memberikan reaksinya kepada pertandingan ini.
Namun, sebelum ke sana, ada beberapa hal kejadian sebelum laga ini dilangsungkan. Kita tahu, bahwa rivalitas sepakbola tidak hanya terjadi di dalam arena stadion, namun juga terjadi di media sosial. Tepat setelah laga semifinal antara Inggris melawan tim dinamit Denmark, media sosial Twitter dibanjiri tagar-tagar yang mencemooh timnas Inggris. Para warganet mengeluhkan segala kontroversi yang terjadi di laga itu. Mulai dari lagu kebangsaan Denmark yang disiuli Hooligans, keputusan penalti hingga tindakan penembakan cahaya laser ke kiper timnas Denmark. Ketiga hal ini menimbulkan kemarahan besar di kalangan pecinta bola, terutama ditujukan kepada kelompok Hooligans. Akhirnya, UEFA memberi tindakan berupa hukuman denda kepada federasi sepakbola Inggris (FA).
Alih-alih mereda, pertikaian ini justru semakin runyam seiring berjalannya waktu. Warganet ramai menyebut timnas Inggris sebagai tim panitia, dibantu UEFA, dan lain-lain. Tak lupa, para tifosi Italia perlahan mulai berani mengirim psywar kepada Hooligans Inggris dengan “Football isn’t coming home. But, it’s coming to Rome”. Ungkapan ini dianggap sebagai balasan terhadap Hooligans yang berkoar-koar “Football’s coming home!”. Mereka semua menganggap timnas Inggris tidak layak berada di final.
Setelah beberapa hari pertikaian itu berlangsung, laga final pun digelar. Tentu karena memiliki rivalitas yang besar, stadion Wembley pun dipenuhi Hooligans dan juga Ultras Italia. Hingga pertandingan usai mereka berhasil menciptakan atmosfer rivalitas yang tinggi. Pertandingan ini dimenangkan Italia melalui babak adu penalti. Di babak ini, permasalahan baru muncul, ketiga penendang terakhir Inggris gagal mengeksekusi penalti. Inilah yang menyebabkan kekalahan pada timnas Inggris. Dengan begitu, Italia berhasil menjadi raja Eropa untuk kedua kalinya. Sementara, Inggris gagal mengulangi kejayaan Piala Dunia 1966.
Atas hasil pertandingan ini juga tak serta merta memberikan rasa lega di kalangan pecinta sepakbola. Baru-baru ini, tiga penendang penalti Inggris yang gagal mendapat perlakuan rasis di media sosial. Ketiganya adalah Bukayo Saka, Marcus Rashford, dan Jadon Sancho. Mereka dirundung secara verbal seperti ejekan mirip kera, ejekan karena berkulit hitam, dan lain sebagainya. Hal ini tentu semakin memperburuk citra federasi sepakbola dan negara Inggris itu sendiri.
Kita semua sepakat bahwa beberapa tindakan Hooligans di atas memang sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Kejadian seperti ini bukan sekali-sekali terjadi, melainkan berulang kali. Tentu kita masih ingat kasus Fred, gelandang Manchester United, di Derby Manchester beberapa tahun lalu. Ketika itu, ia sampai dilempar botol oleh beberapa pendukung Manchester City. Itu di level klub, di level internasional pun ada.
Tentunya, kita tak ingin peristiwa-peristiwa di atas kembali terulang. Sebagai pecinta sepakbola yang dewasa kita harus tetap menegakkan sportivitas, kemanusiaan, dan juga persahabatan satu sama lain. Rivalitas yang kuat seharusnya dapat menjadi momentum bahwa sepakbola akan tetap menjadi olahraga yang paling banyak disukai, bukan dibenci.
Baiklah, selamat untuk Gli Azzurri yang telah berhasil menjadi kampiun Eropa. Dan kepada The Three Lions, selamat juga, timnas Inggris layak masuk final karena telah menyuguhkan permainan terbaiknya.
Unity against racism
Baca lebih banyak dalam rubrik opini hanya di sini
(thaf)


