Advertisement Section

Gajah Tidak Ingin Masuk Lemari Pendingin

Seekor gajah ingin masuk ke dalam lemari pendingin karena merasa kepanasan. Itu adalah ide cerita dalam cerpen karya Eka Kurniawan yang berjudul “Membuat Seekor Gajah Senang”.

Adalah hal yang tidak mungkin untuk  memasukkan tubuh gajah yang besar ke dalam lemari pendingin. Bahkan telinganya saja pasti masih terlalu lebar untuk dimasukkan.

Melalui dua tokoh anak laki-laki dan perempuan, Eka Kurniawan “mengabulkan” keinginan gajah itu, meskipun berakhir tragis. Dua anak kecil itu mencincang bagian tubuh gajah hingga kecil-kecil sehingga dapat dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

Akhir cerita pendek ini begitu getir ketika anak kecil itu kemudian menyadari bahwa mereka telah membunuh si gajah. “Kurasa kita telah membunuh si Gajah,” kata salah satu anak menunjukkan kesedihan. Anak yang satunya lagi mengiyakan.

Namun demikian, anak-anak itu memiliki pemikiran yang lain, “Tapi, paling tidak kita berhasil membuat sebagian tubuhnya masuk ke lemari pendingin. Itu pasti bikin Gajah senang” (halaman 50).

Cerita pendek itu memang sederhana, tetapi begitu tragis. Tragisnya lagi, cerita ini hampir sama dengan apa yang benar-benar terjadi saat ini: seseorang merasa mereka telah berjasa terhadap binatang, padahal mereka sebenarnya justru menyakitinya.

Mari kita menilik fenomena kebinatangan yang terjadi di Indonesia selama ini. Kita mulai dari binatang yang dipelihara di kebun binatang tanpa mendapatkan perlakuan yang semestinya. Salah satu contoh adalah yang beberapa waktu lalu terjadi, yaitu beruang kelaparan di Kebun Binatang Bandung yang viral pada awal tahun 2017.

Di Kebun Binatang Surabaya, juga banyak kasus kematian satwa. Menurut laporan dari Mongabay, hampir seratus hewan mati di kebun binatang tertua dan terbesar di negara ini selama 12 bulan pada tahun 2016.

Paling parah terjadi pada tahun 2010. Juru bicara Kebun Binatang Surabaya mengatakan setidaknya ada 25 binatang yang sekarat selama satu bulan. Pada tahun 2012, jerapah mati dan ditemukan 40 pon plastik di perutnya. Lalu singa mati karena lehernya terjerat kabel. Harimau berumur 13 tahun mati karena cidera pada lidah yang menyebabkannya tidak bisa makan, sedangkan umumnya harimau berumur hingga 20 tahun di penangkaran.

Bukan hanya Kebun Binatang Bandung dan Surabaya yang telah tercyduk melakukan penganiayan terhadap binatang. Bahkan Kebun Binatang Gembiraloka juga berpotensi melakukan penyiksaan terhadap binatang.

Di Gembiraloka, ada wahana menunggang gajah. Sang pawang gajah membawa sebatang besi yang berujung tajam untuk memukul kepala gajah agar ia mau tunduk. Bukan tidak mungkin perlakuan itu akan memunculkan cedera fisik pada kepala gajah.

Wahana menunggang gajah tidak pernah menyenangkan bagi gajah. Mereka diambil dari alam di usia muda, kemudian menjadi objek dalam wahana tersebut. Mereka tersiksa. Hal ini akan menimbulkan luka fisik dan batin jangka panjang yang bisa mengancam kehidupan gajah.

Di wahana itu, gajah dipaksa untuk membawa bobot wisatawan dan pawang di atas punggungnya. Hal ini sangat melelahkan. Coba bayangkan berapa ratus badan yang harus ia panggul dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, seumur hidupnya?

Aktivitas ini sangat berbahaya bagi gajah karena sebenarnya gajah tidak boleh ditunggangi. Kerusakan parah bisa saja menimpa tulang belakang gajah.

Carol Buckley, presiden Elephant Aid International, menyatakan bahwa gajah memiliki cakram tulang belakang yang halus dan bundar serta tonjolan tulang yang tajam meluas ke atas dari tulang belakang mereka. Tonjolan tulang dan jaringan yang melindungi mereka rentan  terhadap berat dan tekanan yang datang dari atas.

Menurut KBBI, kebun binatang adalah tempat memelihara berbagai binatang untuk perlindungan, pembiakan, penelitian, dan sebagai tempat rekreasi.

Namun, alih-alih ingin melindungi binatang, yang terjadi justru binatang itu terjebak di penjara kebun binatang dan harus di-bisnis-kan. Binatang malah dijadikan tenaga kerja dalam wahana  yang mengasyikkan bagi manusia namun sangat kejam bagi binatang hingga mereka terancam mati setiap harinya.

Banyak orang belum mengetahui bahwa binatang pun memiliki hak asasi yang juga harus dihormati. Sayangnya, perilaku yang tidak berperikebinatangan sudah membudaya di negara ini.

Selain gajah, kita bisa melihat sikap kejam yang lain yang bahkan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, menyabung ayam, melempar batu pada anjing, dan menembak burung di pohon tanpa alasan yang jelas.

Binatang memiliki hak untuk terbebas dari rasa haus dan lapar, rasa tidak nyaman, berekspresi sesuai tingkah laku alami mereka, rasa takut dan tertekan, serta bebas dari sakit atau disakiti. Kita manusia tidak dibenarkan untuk bisa seenaknya merampas hak-hak mereka.

Meskipun binatang tidak bisa melakukan demonstrasi untuk menuntut hak-haknya, kita tidak bisa merendahkan mereka apalagi berperilaku biadab. Setidaknya kita bisa memperlakukan mereka dengan rasa sayang sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Sebenarnya, kalau kita mau melihat, mereka pun menceritakan perasaan mereka melalui tatapan matanya, sama dengan manusia. Mereka juga sedih ketika disiksa.

Tidak seharusnya gajah dan kawan-kawannya terus-terusan dieksploitasi, dijadikan mesin penghasil rupiah. Tidak pantas rasanya jika gajah harus sengsara demi kebahagiaan manusia di kebun binatang.

Sering kali orang-orang dewasa tak ubahnya kedua anak kecil lugu yang hendak menyenang-nyenangkan si Gajah dalam cerpen Eka di atas. Tetapi, kehendak itu akan menjadi sesat saja karena mereka tidak tahu benar tujuan si Gajah.

Si Gajah tidak hanya ingin masuk ke dalam lemari pendingin, tetapi juga ingin merasakan dinginnya lemari pendingin. Ketika Gajah dicincang, ia hanya bisa masuk lemari pendingin tanpa merasakan dinginnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Membaca Ulang Tetralogi Buru
Next post Ketika Matahari Memancarkan Pesonanya