Home OPINI Perempuan Bercadar: “Kami Bukan Teroris”

Perempuan Bercadar: “Kami Bukan Teroris”

by Renny Wulandari
179 views

Melindungi perempuan adalah kewajiban semua orang tanpa memandang apa yang mereka pakai. Bukan hanya menghormati dan melindungi perempuan yang memakai baju barat, tapi juga mereka yang bercadar. Sayangnya, penggunaan cadar di Indonesia masih menjadi kontroversi hanya karena para perempuan pelaku teroris memakai cadar. Padahal, tidak semua perempuan bercadar bisa dikatakan sebagai teroris.

Padahal, dalam hal ini perempuan dengan pakaian barat yang terlalu berlebihan dianggap biasa oleh masyarakat. Masyarakat seolah lupa jati diri bangsa dan justru menerima budaya luar tanpa melihat dari segi aspek negatif yang akan diberikan kepada masa depan bangsa. Memang, Indonesia bukan hanya beragama islam saja, namun seharusnya moral dan buadaya bangsa harus tetap dipertahankan. Bukan justru mencerca perempuan yang menjaga martabat kaum hawa, keluarga, masyarakat, dan negara.

Baca Juga : Darurat Kemanusiaan: Kapan Sejatinya Destruksi Usai Bercokol?

Stigma buruk yang diberikan kepada perempuan bercadar diakibatkan kasus terorisme yang melibatkan perempuan bercadar. Terlebih baru-baru ini, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makasar dan teror Mabes Polri keduanya memakai jilbab dan cadar. Komunitas Wanita Bercadar, Niqab Squad turut terimbas oleh stigma negatif masyarakat tentang perempuan bercadar.

Memang, perempuan rentan jatuh dalam aksi teroris. Dalam kurun waktu 2001-2020, jumlah tahanan perempuan terlibat aksi terorisme sebanyak 39 orang di seluruh Indonesia. Menurut Ratna Susianawati, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPA), mengatakan prempuan lebih rentan terjerumus dalam radikalisme dan terorisme, sehingga perlu upaya pencegahan khusus.

“Dalam dua tahun terkahir, di 2018 itu ada 13 orang perempuan yang terlibat dalam aksi terorisme di Indonesia,” kata Milda dalam diskusi virtual tentang Terorisme, HAM, dan Arah Kebijakan Negara yang diadakan oleh LP3ES, Jumat (2/4/2021).

Peningkatan perempuan yang terlibat terorisme tentu akan memperburuk stigma perempuan bercadar sebagai teroris. Trauma yang diakibatkan dari kasus bom bunuh diri sepanjang sejarah terorisme di Indonesia dengan keterkaitan perempuan bercadar mampu mengembangkan stigma buruk dan mengerikan di masyarakat. Masyarakat akan memandang perempuan bercadar itu sebagai teroris yang harus dijauhi dan dikucikan. Bukan tidak mungkin akan terjadi pengucilan terhadap perempuan bercadar oleh masyarakat. Kecurigaan yang begitu besar akan memberikan tekanan kepada perempuan bercadar.

Perempuan bercadar diusir dan dicap teroris, seperti kejadian yang menimpa Fahira Humaira dan Herlina Sari. Kedua contoh perempuan tersebut telah mengalami serangan dari masyarakat dan keluarga karena stigma buruk yang mengatakan perempuan bercadar adalah teroris. Padahal, menurut agama mereka, yaitu islam, perempuan memang wajar jika bercadar seperti istri Rasulullah SAW. Sayangnya, masyarakat terlalu buta dengan aksi teroris yang menyebabkan kerugian besar dari perempuan, terutama perempuan bercadar.

Baca Juga : Perempuan di Dalam KBBI

Komnas perempuan juga sudah meminta agar perembuan cadar tidak dicap sebagai teroris. Kita tidak bisa menilai sepihak dengan mengatakan perempuan bercadar adalah teroris karena tidak ada bukti yang memberatkan hal tersebut. Perempuan memiliki hak dalam berpakaian, sehingga mereka berhak untuk memakai cadar tanpa harus menerima pandangan buruk dari masyarakat.

Respon masyarakat yang berlebihan ini perlu diantisipasi oleh pemerintah dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat jika tidak semua perempuan bercadar adalah teroris. Hal ini karena jika tidak dilakukan akan membahayakan perempuan bercadar. Di samping itu, perempuan bercadar juga harus bisa mematahkan stigma masyarakat dengan terus berbuat baik. Mungkin saja dengan kerja sama dari kedua belah pihak, perempuan bercadar tidak akan lagi dipandang sebelah mata.

Related Articles