Advertisement Section

Kesenian: Antara Aku dan Kau #3

Fanatisme masyarakat harusnya mempunyai perhatian khusus. Mungkin karena negara ini masih termasuk muda sehingga pola pikir masyarakat belum cair. Fanatisme masyarakat punya potensi positif dan juga negatif.

Fenomena menikmati seni hari ini, hanya sebagai gaya hidup dan pencapaian kelas sosial tertentu. Potensi inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang berangkat ke sebuah pertunjukan hanya sebagai tuntutan sosial. Contoh kasus, ketika ada sebuah pameran seni rupa, banyak orang hadir hanya untuk berfoto. Kemudian foto itu di unggah ke media sosial dan publik (teman-temannya) akan mengklasifikasikan bahwa orang tersebut pegiat seni.

Nah, penyakit semacam ini yang harus dihentikan. Ketika karya seni ditampilkan, otomatis maksud ruang tersebut adalah ruang apresiasi. Hal itu yang diharapkan seniman.

Mental masyarakat dalam wilayah ini masih lemah. Ini menjadi sebuah bukti bahwa masyarakat kita belum bisa bijak menempatkan posisi. Sehingga tak perlu kaget ketika banyak orang fanatik terhadap agamanya, wilayahnya dan kepuasannya. Masyarakat belum bisa berfikir menyeluruh.

Masalah yang lebih tragis lagi, tidak ada pendidikan kritis terhadap pelajar. Sehingga melemahnya proses berfikir pelajar. Maksudnya, dalam dunia pendidikan saja tidak diajarkan bentuk apresiasi yang paling tinggi, yakni kritik.

Budaya fanatisme menyebabkan perpecahan. Dalam aliran musik misalnya, aliran dangdut dianggap selera rendah. Fanatisme inilah yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran di bidang manapun.

****

Saya membayangkan bagaimana hubungan seniman dengan penikmatnya seperti hubungan penjual dan pembeli. Sebelum membeli, pembeli biasanya akan menanyakan beberapa hal, mungkin mulai dari nama karya, bahan, proses dan sebagainya.

Kemudian penjual menjawab pertanyaan pembeli dengan rasa bangga. Dalam hal kritik karya, biasanya penjual punya inisiatif untuk bertanya pada pembeli kira-kira apa yang kurang untuk di evaluasi. Sehingga ada komunikasi, perbandingan, bahkan pencarian.

Sehingga, hubungan antara seniman dan penikmat seperti hubungan antar manusia sehari-hari yang saling membutuhkan hal tersebut.

Dalam fenomenanya, banyak seniman yang mengeksklusifkan dirinnya. Itu menimbulkan kelas yang lebih tinggi di masyarakat. Eksklusifitas tersebut menimbulkan jarak. Dampak buruk yang dihasilkan, mungkin masyarakat yang berkesenian mudah tidak percaya diri terhadap proses dan karyanya.

Artinya konstruk pandangan masyarakat terhadap kesenian merupakan sebuah barang yang tinggi. Namun dampak postifnya, seni akan menjadi lebih mahal dari bakso tusuk. Khusunya seni teater dan sastra.

Bagi saya, eksklusifitas seniman akan muncul sendiri dalam kebertanggungjawaban terhadap karyanya. Sebuah karya seolah anak yang dirawat sampai pada pelabuhannya. Dan ketika seniman mati, maka masyarakat yang akan merawatnya. Konsep seperti ini jarang dimiliki oleh seniman.

Banyak seniman yang berpendirian bahwa mereka sudah mati ketika karya tercipta. Hal ini yang akhirnya membuat banyak pemula memposisikan dirinya seperti demikian. Sehingga pemula tidak mau angkat bicara.

Kemudian sebagian besar prinsip ini sebagai alibi kebingungan penikmat. Tanpa memberikan teka-teki menuju maksud karya. Sama halnya dengan kebanyakan pemula yang menjadikan sudut pandang sebagai alibi.

Hubungan seniman dan penikmat memang sewajarnya seperti persahabatan manusia. Atau seperti cinta sepasang kekasih yang berbagi. Atau seperti musuh dalam peperangan untuk sebuah kebijaksanaan.

Dengan bait terakhir puisi Sajak Sebatag Lisong karya Ws Rendra tulisan ini akan ditutup.

Inilah sajakku

Pamplet masa darurat

Apakah artinya kesenian

Bila terpisah dari derita lingkungan

Apa artinya berpikir

Bila terpisah dari masalah kehidupan

 

(Rendra, Sajak Sebatang Lisong, Potret Pembangunan dalam Puisi)

 

 

Sumber gambar: NusantaraNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kesenian: Antara Aku dan Kau #2
Next post Surat Marteen kepada Ursula di Tahun 1965