
Tentang Osfek yang Fanas
Sore ini, tiba-tiba seorang senior yang sudah teramat matang datang ke Sekre Kreativa. “Simbah”, aku menyebutnya demikian – nama kondangnya memang itu sih.
Aku tidak pernah menulis dalam waktu yang bisa dibilang cukup singkat ini, apalagi dengan genre yang berbeda. Katanya Om Simbah, “Biar nggak kaku dibaca.”
Memang sih, suasana Sekre kami lagi fanas-fanasnya. Ruangan kotak kecil sempit tanpa kipas angin apalagi AC yang kena sinar matahari siang menjelang sore. Gile lu, Ndro! Fanas! Ditambah suasana hari pertama Ospek yang katanyaa sekarang bermetamorfosis nama jadi PKKMB.
“Ngeliput”, agenda utama hari ini. Bukan aku, tapi mereka, adik-adikku yang sejak aku tiba tadi siang mukanya sudah kusut-kusut. Ditanya ini, dijawab itu, ditanya itu dijawab ini.
Loh, bahkan tuh di pojokan sana, suara-suara pelan tapi keras terdengar, menggambarkan suasana yang memanas. “Bener-bener pedes, fanas banget kata-katanya!” aku membatin saja sih.
Usut punya usut, fanasnya ruang sempit ini juga karena suasana hati penghuninya juga yang lagi panas. Gegara nulis berita TM PKKMB yang dilakukan di area parkir mobil FBS yang fanasnya bisa bikin hampir pingsan. Itu sih cuma katanya loh.
Tapi ini nih yang hebat: aku percaya dengan itu, karena adik-adikku nyatanya wawancara, nyatanya mereka memang bertanya sama pemandunya.
Meninggalkan omongan ngalor ngidul yang gaje sebelumnya. Mau nggak kamu serius bentar? Tentang teriknya sang surya ketika TM PKKMB. Banyak orang bilang sesuatu yang panas itu berasal dari sumber energi yang membara. Banyak orang bilang begitu.
Nah, asyik nih kalau aku, kamu, dan kita menggubah kalimat itu sebagai motivasi awal masuk kuliah. Kamu maba, kan? (Bagi yang maba sih) Atau sudah tua? Anggep aja maba yang menua yang nunggu judul skripsi di-acc dosen (emot nangis sambil ketawa).
Mengumpamakan saja, panas sebagaimana semangat, dan sumbernya adalah aku sendiri, kamu sendiri, dan kita sendiri. Ciye yang jomblo karena sendiri terus! (Syantai, lor, jombloku syar’i kok)
Ketika sumber dari dalam diri sendiri, maka diri sendirilah yang berhak menentukan. Bisa jadi, semangat yang dihasilkan ialah semangat yang membara. Bisa jadi juga, semangat yang nyala terang lalu redup begitu saja.
Aku sudah bilang tadi, mumpung masih maba dan anggap saja maba, ini adalah awal yang baik untuk menyiapkan sumbu-sumbu semangat sepanas terik matahari di siang hari saat TM itu.
Woey…ingat itu! TM aja panas membara, masak semangatmu enggak? Terus gimana kesan kamu saat TM itu?
Aku pikir akan banyak kesan yang mengesankan untuk ditulis dalam catatan. Seperti catatan yang baru saja kamu baca ini. Anggap saja ini catatan jurnalis abal-abal yang bisa jadi diabadikan. Meskipun hanya sekadar di web kreativa FBS tercintah…..
Aku tahu ‘ku takkan bisa, menjadi artis Korea…


